22 April 2010

Psycho

Saya pernah menulis di blog ini bahwa untuk dapat mengapresiasi film klasik, kita tidak bisa menggunakan ukuran-ukuran jaman sekarang. Tidak saja karena situasi yang melatarbelakangi film tersebut jauh berbeda, juga karena perkembangan film telah begitu pesatnya. Jaman sekarang, tidak ada adegan yang tidak bisa difilmkan berkat teknologi CGI, tinggal seberapa tinggi imajinasi dan visi kreator film tersebut.

Yang harus diperhatikan juga adalah masalah genre. Waktu saya bilang bahwa kita tidak bisa menggunakan kriteria film action untuk menilai sebuah film drama, banyak yang bilang, "tentu saja, tidak mungkinlah.." Tapi tetap saja kemudian ada komentar begini : "Wah filmnya jelek banget, adegannya ngomong melulu, tidak ada mobil meledak atau tembak menembak." Tanpa sadar yang bersangkutan telah memakai kriteria film action untuk mengapresiasi film drama.

Jadi untuk menilai film Casablanca misalnya, kita harus tahu film tersebut dibuat tahun berapa dan bagaimana keadaan dunia pada waktu itu. Juga film 2001: A Space Odyssey, The Wizard Of Oz, Doea Tanda Mata, dan lain-lain. Termasuk juga film klasik karya master of suspense Alfred Hitchcock: Psycho.

Menonton ulang film Psycho yang diputar di salah satu channel berlangganan membuat saya tambah respek dengan sutradaranya. Film itu dibuat tahun 1960. Keadaan dunia jauh berlainan dengan sekarang, cara lembaga sensor menyensor film juga berbeda. Hitchcock sengaja membuat film ini hitam putih, dengan dua alasan: budget dan sensor. Teknologi film berwarna sudah ada pada waktu itu, film Hitchcock sebelumnya, Vertigo (1958), dibuat berwarna. Psycho dibuat hitam putih selain budgetnya sengaja dibatasi, juga agar film ini lolos sensor. Lembaga Sensor waktu itu tidak senang film yang terlalu 'berdarah'. Film hitam putih membuat darah terlihat hitam, dengan demikian mengurangi efek kengerian penonton. (Bagi yang pernah menonton film Kill Bill Volume 1 karya Quentin Tarantino tentu ingat adegan Uma Thurman mengamuk di Lotus House, dengan pedangnya dia melawan ratusan orang, dan darah di mana-mana. Tarantino membuat adegan tersebut hitam putih agar lulus sensor). Tapi film Psycho ini adalah film terakhir Alfred Hitchcock yang dishoot hitam putih, selanjutnya dia selalu menggunakan teknologi film berwarna.

Beda dengan jaman sekarang, film-film slasher dengan vulgarnya mengumbar darah merah di mana-mana,dan lembaga sensor sekarang sangat longgar. Hal lain yang akan disensor waktu itu adalah adegan toilet di-flush. Di film Psycho, Hitchcock dengan cerdiknya menyelipkan adegan flushing toilet yang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan adegan sebelumnya. Inilah film pertama waktu itu yang menampilkan adegan toilet disiram. Sebelumnya tidak ada scene apapun dari film-film jaman itu yang dibuat di toilet.

Karakter yang diperankan Janet Leigh, Marion Crane, di awal film memakai underwear putih atau pakaian bernuansa putih, bahkan tas tangannya juga putih. Kemudian pada saat Marion Crane melarikan uang perusahaan, pakaian yang dikenakannya, termasuk underwear dan tas tangan, selalu berwarna gelap atau hitam. Ini merupakan isyarat Hitchcock menggambarkan transformasi dari bidadari baik menjadi jahat (from angelic to evil), karena Marion telah melakukan tindakan kriminal.

Tokoh yang kita ikuti nasibnya dari awal, dengan demikian sedikit banyaknya kita menaruh simpati dengan tokoh tersebut, dengan mengejutkan mati di tengah film. Uang perusahaan yang dicurinya terkubur bersamanya di rawa yang gelap. Di tahun 60-an, plot seperti itu belum ada yang berani membuatnya, karena takut kisahnya akan kehilangan daya tarik. (Toh tokoh utamanya mati di tengah film, apalagi yang mau ditonton?) .

Adegan pembunuhannya baru (pada waktu itu) dan tak terlupakan. Marion Crane, pada saat mandi, ditusuk berkali-kali dengan pisau dapur, pembunuhnya datang dari balik tirai mandi. Efeknya menggiriskan. Musik latar dari Bernard Hermann membuat adegannya intens. Sebagaimana sumur menjadi tidak populer gara-gara film The Ring, dikabarkan banyak penonton wanita yang beberapa hari jadi takut ke kamar mandi gara-gara adegan tersebut. Adegan kamar mandi (shower scene) tersebut menjadi terkenal dan banyak ditiru. Padahal, karena itu film hitam putih, tim efek menggunakan sirup cokelat sebagai darah.

Bagaimana dengan si pembunuh? Karakternya, Norman Bates, diperankan oleh Anthony Perkins. Pembunuh psikopat tak perlu digambarkan seram. Norman Bates adalah pemuda tampan kesepian yang menjalankan motel keluarga. Inilah untuk pertama kalinya pembunuh psikopat berdarah dingin digambarkan berperangai sopan dan halus sekaligus brutal, memiliki kepribadian terbelah,  dan digambarkan transvestite. Penjelasan psikiater pada akhir film akhirnya menjelaskan segalanya. (Psikiater apa psikolog, saya kurang jelas. Saya juga tak tahu persis apa beda psikiater dengan psikolog, ada yang bisa bantu di sini?)

Pada akhir film, Norman Bates digambarkan berdialog dengan ibunya, lalu dia tersenyum menatap kamera, pada saat itu wajahnya sekilas fading menjadi gambar tengkorak.

Pada waktu itu, belum ada yang membuat film suspense seperti ini, mencekam sekaligus cerdas, dan tidak begitu vulgar. Dengan budget 'hanya' US$800.000,- film ini meraih keuntungan US$40 juta (waktu itu). Majalah Entertainment Weekly menempatkan film ini sebagai 'the seventh scariest film of all time'. Tahun 2007, American Film Institute menempatkan Psycho sebagai "the #14 greatest movie of all time" dan menempati ranking nomor 1 dalam 100 Best Thrills Film.

Film Psycho dibuat remakenya tahun 1998 oleh Gus Van Sant, dengan aktor Vince Vaughn, Julianne Moore dan Anne Heche. Tentu saja tidak begitu menggreget seperti versi originalnya. Film Psycho juga dibuat sekuelnya, yaitu Psycho II hingga Psycho IV. Bagi pencinta film pada umumnya, dan pencinta suspense trhiller, film ini harus masuk dalam daftar tonton. (Pertama kali saya ketemu dan menonton film ini pada waktu kelas 6 SD, dari salah satu koleksi bapak saya yang direntalkan dengan format betamax. )


Baca selengkapnya di sini: www.ferdy.mirrorz.com

31 Maret 2010

My Name Is Khan

"Mandira, kapan kita bisa bertemu lagi?" tanya Rizvan Khan dengan kalut.

Di tengah amarah dan kesedihannya akan kehilangan putera tersayang, Mandira mengusir suaminya yang mengidap Asperger Syndrome (sejenis autis). Putera mereka, Sam, tewas terbunuh akibat prasangka rasial pasca tragedi 9/11. Mandira menyesal karena telah menikah dengan seorang muslim, karena nama Khan di belakang nama anaknya telah menyebabkan anaknya tewas dibunuh. Jika seandainya ia tidak menikah dengan Rizvan Khan, dan tidak memakai nama Khan sebagai nama keluarga mereka, bisa jadi anaknya masih hidup. Di tengah kemarahannya, Mandira berkata :

"Jumlah penduduk kota ini 30 ribu orang, setiap orang di sini membencimu. Katakan pada mereka, namamu Khan, dan kau bukan teroris. Katakan pada seluruh warga Amerika, namamu Khan, dan kau bukan teroris. Atau pergilah temui presiden Amerika, dan katakan padanya, namamu Khan, dan kau bukanlah teroris. Jika itu sudah kau lakukan, maka kembalilah, baru kita bisa bertemu lagi."

Maka pergilah Rizvan Khan, dengan membawa duka yang dalam, menjelajahi negara-negara bagian di Amerika, dengan mengikuti jadwal kampanye George Bush yang berpidato ke daerah-daerah. Ia berusaha menemui presiden Amerika untuk mengatakan satu kalimat : "My name is Khan, and I am not a terrorist."

My Name Is Khan bukan jenis film India biasa. Ini adalah film luarbiasa yang begitu mengharu biru perasaan. Ini film serius, dengan budget tinggi, skenario yang apik, dan akting yang aduhai dari Shah Rukh Khan (astaga, ternyata dia bisa berakting juga). Dalam memerankan penderita autis, aktingnya mengingatkan saya dengan Dustin Hoffman di film Rain Man. Sama sekali tidak over acting, bukan seperti akting Anjasmara yang aneh dan berlebihan seperti yang di sinetron itu. Bagi penggemar film Bollywood yang terbiasa dengan tari-tarian spektakuler yang memamerkan udel dan goyangan sensual dan nyanyian yang tak ada habis-habisnya, film ini sama sekali bukan jenis yang itu. Lagu-lagu India sebagai musik background nya tidak terdengar nyinyir, dan sangat menyatu dengan adegannya.

Film ini ibarat gabungan dari The Rain Man dan Forrest Gump. Dalam usahanya menemui presiden Amerika Serikat, perjalanan Rizvan Khan yang inspiratif mirip dengan yang dilakukan Forrest Gump setelah dia ditinggalkan oleh Jenny Curran. Dalam pengembaraannya, Rizvan Khan mengenakan sepatu olahraga yang tadinya dihadiahkan untuk anaknya. Sedangkan di film Forrest Gump, Forrest memakai sepatu olahraga yang dihadiahkan oleh Jenny Curran. Kejeniusan Rizvan Khan menebak puzzle dan memperbaiki barang-barang rusak, mirip dengan yang dilakukan oleh Raymond Babbit di film Rain Man.

Film ini berbicara tentang hal-hal universal dengan bahasa yang fasih. Kita bisa selalu menangkap pesannya di balik dialog-dialog yang bagus, lucu, dan sekaligus mengharukan. Kehidupan sulit umat muslim di Amerika pasca 9/11 digambarkan dengan lugas. Isu rasialisme, prasangka, paranoid dan sentimen keagamaan dipaparkan dengan jelas, tanpa bermaksud memihak salah satu agama, walaupun tokoh sentral di film ini beragama Islam. Kerusuhan Hindu-Islam di India pada tahun 1980-an juga diangkat, mirip dengan yang kita lihat di film Slumdog Millionaire. Adegan-adegan inspiratif ketika tokoh utamanya shalat di perhentian bus, ketika menolong jemaat gereja sebuah kota kecil dari amukan badai, dan ketika memaparkan opininya di sebuah masjid yang berisi orang-orang yang menyamakan Islam dengan kekerasan, sangat mengesankan.

Tadinya saya skeptis dengan film ini, antara lain karena pemerannya adalah Shah Rukh Khan, yang tadinya saya anggap aktor Bollywood yang hanya bisa memainkan drama sabun ala India. Seorang kawan, Syarifah E Rolam secara tak langsung merekomendasikan film ini untuk saya tonton. Dengan skeptis, saya sempatkan untuk menontonnya. Ternyata film ini sangat berkesan, bahkan bagi saya yang biasanya selalu meremehkan film-film India. Ternyata ini film kelas satu dengan akting kelas satu.

My name is Ferdy. And I am not a terrorist.

Baca selengkapnya di www.ferdy.mirrorz.com

24 Maret 2010

Bright

Jika di daerah lain PLN banyak dikecam dan dicaci, PLN Batam adalah satu dari segelintir cabang PLN di Indonesia yang banyak dipuji. PLN Batam telah mendapat sertifikasi ISO 9001-2000 untuk Divisi Pelayanan dan Divisi Distribusi, juga telah meraih penghargaan Indonesian Quality Award. Pada tahun 2008 lalu, PLN Batam telah mencapai Index of Customer Satisfaction sebesar 75%, sesuatu yang mungkin susah dicapai untuk daerah-daerah lain.

Tidak ada cerita listrik padam bergiliran, atau hidup bergiliran, kecuali jika ada sebab musabab yang sifatnya force majeure, misalnya tower tumbang gara-gara angin puyuh, sesuatu yang jarang terjadi.

Untuk menjadi pelanggan listrikpun, tidak ada daftar tunggu seperti daerah lain. Pagi ini pengajuan, bisa saja sore nya listrik sudah menyala di rumah kita. Dengan demikian menjadi kecil kemungkinan adanya calo-calo listrik yang mencekik pelanggan dengan biaya jutaan, bahkan puluhan juta. Dan  KKN pun bisa dicegah. Ini saja sudah menjadi langkah awal yang bagus.

Untuk penagihan pelanggan misalnya, PLN sudah lama memakai invoice seperti tagihan kartu Halo, jadi pelanggan langsung tahu berapa yang harus dibayar untuk pemakaian bulan lalu. Di tempat lain, mungkin sudah ada layanan sms pelanggan, tapi tentu saja jarang digunakan dan sering ngadat. Jadi pelanggan hanya mengira-ngira saja berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membayar tagihan.

Tapi mulai bulan Maret ini, PLN Batam tidak lagi mengirimkan invoice tersebut ke rumah-rumah pelanggan. Untuk mengetahui berapa tagihan kita, sudah disediakan 4 macam layanan, yaitu via SMS dengan mengetikkan kode-kode tertentu dan ID pelanggan; juga bisa dengan mengakses situs www.plnbatam.com ; atau lewat email berlangganan, yang dikirim ke email pelanggan tiap bulan; dan juga lewat IVR via telpon (IVR = Interactive Voice Response).

Pembayaranpun dipermudah. Pelanggan tidak perlu antre lama-lama di kantor PLN, karena tagihan listrik sudah bisa dibayar lewat ATM, yaitu ATM BNI, OCBC, NISP, dan Mandiri.

Ini adalah salah satu contoh, bahwa tidak semua BUMN harus ketinggalan jaman dan konservatif dalam hal melayani pelanggan. PLN Batam, dengan tagline 'bright people bright future' menjadi bukti bahwa sebuah perusahaan listrik negara tidak lagi menjadi bahan cercaan, makian dan sumpah serapah pelanggan, tapi menjadi bahan pujian, karena layanan yang baik dan bebas KKN. Walau bagaimanapun terpuruknya suatu lembaga atau perusahaan, profesionalisme ternyata masih bisa dikejar.

Tapi profesionalisme itu tak kan tercapai jika produknya sendiri tidak konsisten, hari ini hidup, besok mati, lalu hidup lagi, lalu mati. Byar pet,  byar pet. Yang punya hajatan dan yang mau bikin kondangan pasti deg-degan.

18 Maret 2010

The Lost Symbol

Dalam The Lost Symbol, kita diperkenalkan dengan Ilmu Noetics. Ilmu Neotics adalah sebuah jenis filsafat metafisik yang menyatakan bahwa pikiran dan ide manusia bisa diukur dengan ukuran fisik, dan kekuatan pikiran bisa mempengaruhi bahkan menggerakkan benda-benda. Bahwa pikiran, bisa diukur berdasarkan formula dengan penjabaran materi kuantum. Jika cahaya bisa diukur dengan satuan tertentu, pikiran juga. Ini adalah teori yang ekstrim walaupun untuk ukuran jaman sekarang, di mana orang-orang percaya bahwa pikiran bukanlah sebuah materi dan karenanya tidak memiliki berat. Dalam buku ini, Ilmu Noetics dijelaskan secara gamblang dan ilmiah. Bahkan dalam tahun-tahun ke depan, disebutkan bahwa umat manusia akan mendapat pencerahan yang didasarkan akan makin terbukanya riset dan penerapan dalam ilmu noetics.

The Lost Symbol merupakan buku ke lima karya Dan Brown. Tokoh sentralnya masih Robert Langdon, simbolog lulusan Harvard. Seperti kisah-kisah Robert Langdon yang lain (Da Vinci Code dan Angels & Demons), buku ini sangat informatif, provokatif, dan membuka wawasan. Jika Da Vinci Code memancing kontroversi atas pondasi ajaran Nasrani, dan Angels & Demons membuka selubung sepak terjang Vatikan dalam memberangus kemajuan dan ilmu pengetahuan, buku ini memaparkan dengan gamblang tentang tempat-tempat rahasia di Washington DC dan hubungannya dengan kelompok Mason (Freemasonry). Simbol-simbol pada arsitektur bangunan-bangunan di DC sarat dengan simbol-simbol sekuler Mason, sebuah kelompok rahasia yang eksis sejak abad pertengahan, hingga sekarang. Pada umumnya, pendiri dan para pemimpin Amerika adalah anggota Mason, termasuk George Washington.

Setiap lembar halaman buku ini terasa sangat berharga, tidak saja karena informatif, juga penuh dengan kalimat-kalimat bagus yang memancing rasa ingin tahu, juga membuka wawasan. Di tambah lagi dengan plot yang menarik dan menegangkan. Begitu kita mulai membacanya, buku ini menjadi susah diletakkan. Jika sebelumnya sudah pernah membaca Angels & Demons dan Da Vinci Code, buku ini tentu saja menjadi 'wajib' dibaca. The Lost Symbol tidak hanya sebuah buku, sebuah novel, sebuah dokumen, hasil riset, drama, thriller, action, tapi juga sebuah ensiklopedia. Isinya membahas tidak saja ritual-ritual kuno, makna simbol-simbol, konspirasi, rahasia 2012 dan apocalypse, tapi juga memaparkan soal internet dan teknologi tinggi di bidang IT. Sebagaimana Da Vinci Code dan Angels & Demons, buku ini nantinya akan difilmkan, dengan Tom Hanks yang masih akan memerankan karakter Robert Langdon. Tapi, hingga saat inipun,  tidak ada film yang lebih baik dari bukunya.

Baca selengkapnya di http://www.ferdy.mirrorz.com

03 Maret 2010

Roxxxy

Robot atau cyborg (cybernetic organism) yang dulu hanya ada di film-film fiksi ilmiah semacam Terminator, Aliens, I Robot, AI, dan Westworld telah menjadi kenyataan. Ilmuwan telah berhasil menciptakan robot pintar dengan ukuran dan penampilan persis manusia. Robot tersebut diberinama Roxxxy. Saya tidak salah ketik, huruf x nya memang ada 3, untuk menggambarkan bahwa robot tersebut adalah jenis xxx. Mereka tidak menciptakan robot yang bisa membantu istri kita mencuci piring di dapur, menyapu dan mengepel lantai, membantu anak-anak belajar. Para ilmuwan laki-laki itu lebih memilih menciptakan robot komersial untuk laki-laki, terutama laki-laki bujangan.

Roxxxy adalah robot-seks pertama di dunia, dibuat oleh perusahaan IT bernama TrueCompanion yang bermarkas di New Jersey. Roxxxy direkayasa oleh Douglas Hines, pendiri sekaligus presiden TrueCompanion. Pengembangan Roxxxy telah menghabiskan dana antara 500 ribu hingga 1 juta dolar selama lebih dari 2,5 tahun.

Gynoid (robot wanita) tersebut muncul di depan publik pertama kali di AVN Adult Entertainment Expo di Las Vegas pada 9 Januari lalu. Tingginya 170 cm dan berat 54 kg. Roxxxy memiliki kecerdasan artifisial dan kulit sintetis yang sangat mirip dengan kulit manusia. Di dalam tubuhnya ditanamkan komputer pintar dan mesin program untuk mempelajari apa yang disukai dan tidak disukai pemiliknya. Kepribadiannya dan kecerdasan serta perbendaharaan katanya bisa berkembang sesuai hubungan pemiliknya dengan si robot, berkat software yang sudah terinstal di dalam tubuhnya. Tulang sintetis dibuat sedemikian rupa sehingga Roxxxy bisa berposisi dan meniru gerakan manusia, tapi si robot cantik tidak bisa berjalan sendiri. Jantung mekanis juga dipasang, dibarengi sistem pendingin berbentuk cairan. Roxxxy dipasarkan dengan 5 macam tipe kepribadian. Dia bisa diajak ngobrol soal olahraga dan mobil, film, politik dan sebagainya, jadi tidak hanya terbatas bisa ngomong aaah uuh oh yes oh no saja. Dia bisa diajak berdiskusi, dia bahkan bisa mengekspresikan cintanya pada pemiliknya. Dia bisa berbicara, mendengar dan merasakan jika disentuh.

Pembeli bisa meminta TrueCompanion untuk menyetel Roxxxy sesuai dengan keinginan pemiliknya, misalnya warna rambut, warna mata, warna kulit, ukuran dada dan lain-lain. Harganya antara US$7000 hinggan $9000. Roxxxy saat ini sudah bisa dibeli di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Tahun depan Roxxxy akan masuk ke pasar Asia.

Yang dipertanyakan sekarang, apa implikasi keberadaan robot sejenis ini dalam kehidupan manusia. Apakah akan banyak laki-laki memilih membujang dan tidak mau berinteraksi dengan cewek beneran? Bagi laki-laki tertentu, Roxxxy bisa dianggap pasangan yang perfek karena selain cerdas, penampilannya selalu cantik, tidak bisa mengeluh, tidak cerewet, tidak perlu diberi nafkah, penurut, dan bisa dihidupkan dan dimatikan kapan saja. Laki-laki yang sudah berkeluarga bisa saja tidak mau menyentuh istrinya lagi.

Bagaimana jika kemudian muncul pula android berupa robot seks pria? Tentu saja penampilan android semacam ini disukai wanita, karena pastinya akan tampan, macho, bisa selalu on setiap saat, tidak cerewet dan selalu menurut.

Dan kemudian, akan muncul pula robot hewan piaraan (sudah ada Aibo sejak bertahun-tahun lalu) seperti dalam film The Sixth Day. Dan robot dengan fungsi dan jenis yang beraneka ragam.

Seperti fenomena facebook, friendster dan jejaring sosial lain yang sekarang lagi trend, sudah banyak manusia yang lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi di dunia maya daripada berinteraksi secara langsung di dunia nyata. Saya memiliki teman yang punya banyak tetangga di dunia maya (Farmville), tapi dia bahkan tidak kenal dengan tetangga sebelah rumahnya sendiri. Jika robot-robot itu nanti semakin banyak dan semakin murah, akan banyak manusia yang tidak keluar rumah, dan mendelegasikan pekerjaan dan interaksi sosial melalui robot-robot sebagai avatar atau surrogate nya seperti dalam film Surrogates.

Dunia sedang berubah. Kita berada di tengah-tengah perubahan itu. Kita semua akan merasa gamang dengan lompatan teknologi yang sangat, sangat pesat seperti sekarang ini. Semoga di masa depanpun, di mana robot-robot berkeliaran di jalan, kita dan anak-anak kita nanti tetap berprilaku manusiawi sesuai fitrah kita.

Baca selengkapnya di www.ferdy.mirrorz.com 

04 Februari 2010

Jiydref

Jiydref ingin sekali berbuat dosa. Selama ini ia adalah manusia berhati malaikat, berperangai halus bagai domba, sama sekali tidak pernah merugikan orang lain. Namun ia sering terpukau melihat dan mendengar orang yang bertobat. Orang-orang itu menyesalkan perbuatan buruk yang telah dilakukannya sambil menangis, dan berbicara terbata-bata. Begitu pertobatan itu selesai dan orang-orang lain menyalami,  wajah orang itu akan berseri bahagia, seakan-akan sebelumnya ia belum pernah sebahagia itu.

Bagi Jiydref, pertobatan itu sungguh indah. Sesuatu yang luhur dan agung. Tak terlukiskan dengan kata-kata. Jiydref mengidamkan pertobatan. Ia mengidam akan sesal agar datang menyentuh pikiran dan kalbunya. Namun, iapun menyadari, alangkah absurdnya bertobat jika ia tidak memiliki sesuatu untuk ditobatkan. Untuk menyesal, ia harus melakukan sesuatu untuk disesali. Intinya, Jiydref harus melakukan sebuah dosa. Dengan dosa itu, dia akan menyesal, lalu bertobat. 

Dan perasaan indah tak terlukiskan itu, air mata penyesalan itu, perasaan lega itu dan kebahagiaan itu, pun akan datang padanya.

Jiydref pun melakukan dosa. Ia curi kambing tetangganya, lalu dibunuhnya kambing itu. Bangkai kambing itupun dibiarkannya tergeletak begitu saja di tepi sungai.

Dan Jiydref menunggu.

Hari itu, tak ada rasa penyesalan yang hinggap pada dirinya. Bagaimana ia bisa bertobat jika ia sendiri tidak menyesal telah membunuh kambing itu? Jiydref menunggu tiga hari, kemudian seminggu, perasaan yang ditunggunya tak kunjung tiba.

Maka iapun melakukan hal yang lebih besar. Suatu malam ia mendatangi kandang kuda, dan membunuh semua kuda yang ada di situ. Kali ini ia yakin penyesalan itu akan datang. Tapi ternyata tidak. Jiydref menunggu seminggu, dan setitik pun rasa penyesalan itu tak hinggap.

Kemudian ia membunuh seorang tetangganya. Pun rasa sesal tak datang. Iapun membunuh lebih banyak orang, sehingga makin lama penduduk kampung itu tinggal dia seorang. Tak ada sesal, tak ada pertobatan.

Jiydref pun meninggalkan kampungnya, berkelana ke sana kemari, masuk kampung ke luar kampung, ke kota lain, bahkan mengembara ke negeri yang ia sendiri belum pernah mendengar namanya. Dosa yang dilakukannya makin besar, kejahatan yang dilakukannya makin kolosal. Ia meracuni persediaan air sehingga penduduk sebuah kota tewas semua. Ia menghasut sebuah negeri agar berperang dengan negeri lain. Ia menipu, memperkosa, merampok, ia menghancurkan kota dan istana. Tak terhitung lagi kejahatan yang telah dilakukannya. Jiydref adalah sumber bencana dan ancaman bagi kehidupan manusia lain.

Dan tak sedikitpun ia menyesal.

Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan Reficul. Reficul mengangkat Jiydref sebagai anak didiknya. Bersama Reficul, bencana yang dilakukannya lebih dahsyat lagi. Reficul senang karena memperoleh pengikut. Dan kejahatan yang dilakukan Jiydref pun makin kreatif dan bervariasi. Karena senang, Reficul menghadiahi Jiydref kehidupan yang abadi.

Reficul berkata : "Hai Jiydref, teruskanlah apa yang menjadi cita-citamu, kau akan hidup selamanya. Kau punya waktu tak terhingga untuk mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan."

Setelah beberapa waktu, Reficul meninggalkan Jiydref. Jiydref pun melanjutkan pengembaraannya, menebar bencana. Bencana, perang, dan kejahatan-kejahatan besar yang terjadi di dunia ini Jiydref lah pemicunya. Pada saat kota Roma terbakar dan ratusan ribu penduduknya tewas, Jiydreflah yang menghasut Nero melakukan itu. Ia membisiki para ksatria untuk menjadi haus perang. Para raja dan pemimpin terobsesi untuk menginvasi dan menjajah negeri lain. Hal ini terjadi selama berabad-abad.

Ada suatu masa ketika Jiydref berteman dengan Bubezleeb. Tapi pertemanan mereka sangat singkat. Walaupun begitu, bencana yang ditimbulkan oleh duet Jiydref dan Bubezleeb tak kalah dahsyatnya.

Menjelang Perang Dunia ke 2, Jiydref ada di Jerman dan mendekati Adolf Hitler. Ia menghasut Hitler dan meniupkan isu rasial. Ide bahwa alangkah indahnya dunia jika didominasi oleh ras superior, ras Arya, berasal dari Jiydref. Hitler kemudian menginvasi Eropa dan Afrika Utara dan membunuhi jutaan ras inferior secara sistematis dan terkoodinir.

Setelah Perang Dunia ke 2 usai, dengan ratusan juta korban pada semua pihak, Jiydref kehabisan ide untuk menimbulkan bencana. Selama dua dekade, Jiydref vakum. Hingga pada tahun 60-an ia bertemu dengan Silbi. Silbi adalah wanita yang cantik, jenius, dan merupakan ahli kimia. Silbi menceritakan pada Jiydref tentang penemuan baru, yaitu Lysergic acid diethylamide atau LSD. Dengan LSD, kita tak perlu repot mempengaruhi pikiran manusia lain. Ini cara baru menciptakan bencana. Sebelumnya ada mariyuana, tapi efeknya tidak sedahsyat LSD. Jiydref menikah dengan Silbi, dan berdua mereka menyebarkan LSD ke segala pihak. Mereka meniupkan gaya hippies dan mencanangkan gaya hidup bebas. Generasi bunga, dengan slogan "make love, not war" dan dalih anti perang, lahir dari ide Silbi. 

Jiydref sendiri banyak menyelipkan pesan tersembunyi dalam frekuensi tertentu pada musik-musik yang lahir era itu. Pesan-pesan tersembunyi itu, misalnya, ada di lagu Led Zeppelin yang berjudul Stairway To Heaven. Konon jika lagu itu diputar terbalik (dengan piringan hitam), pesan-pesan yang dibisikkan Jiydref terdengar. Isinya merupakan puji-pujian pada bangsanya Reficul dan Silbi. Pesan tersembunyi juga ada pada lagu The Beatles yang berjudul Helter Skelter. Pada tahun 1969, dengan meneriakkan yel-yel dari Helter Skelter, Charles Manson dan kawan-kawan membunuhi sebuah keluarga dengan brutal.Lagu Snowblind milik Styx dari album Paradise Theater juga disisipi pesan yang sama. 

Pada masa itu, obat bius dan musik adalah pasangan yang serasi. Keduanya dimanfaatkan oleh Jiydref dan Silbi untuk tidak saja memperluas pengaruh mereka, juga menebarkan bencana.

Setelah beberapa lama, Jiydref mendapat tahu bahwa Silbi tadinya juga adalah murid Reficul. Silbi juga memperoleh umur panjang, bahkan sebenarnya Silbi jauh lebih tua daripada Jiydref. Silbi berkata Reficul adalah setan besar, nama aslinya sebenarnya adalah Lucifer.

"Namanya harus diucapkan dari arah yang berlawanan, sehingga kau tahu siapa dia." demikian kata Silbi.
"Jadi karena itulah namamu Silbi," jawab Jiydref. "Namamu juga harus diucapkan dari arah berlawanan.
"Jiydref, tahun 1893 yang lalu, aku bertemu Nagai Nagayoshi di Negeri Matahari Terbit. Kami berdua menciptakan butiran kristal ajaib. Kemudian Nagai meninggal, lalu pecah Perang Dunia pertama, jadi aku meninggalkan negeri itu. Aku ingin kembali ke sana dan meneruskan penciptaan kristal itu, maukah kau ikut denganku?"

Jiydref tentu saja mau. Mereka kemudian ke Jepang, dan berada di belakang pihak Yakuza. Silbi meneruskan penelitiannya menyempurnakan kristal ajaib, yang sebenarnya adalah metamfetamine. Metamfetamine dapat menyebabkan euforia, meningkatkan rasa percaya diri dan tenaga secara berlebihan, dan tentu saja membuat orang ketagihan. Silbi menyerahkan formula metamfetamine pada pihak Yakuza. Kristal ajaib ini disambut dengan antusias di Jepang, dan mereka menyebutnya shabu-shabu. Padahal menu steamboat mereka yang terkenal juga dinamakan shabu-shabu.

Silbi menyebutnya kristal ajaib karena kristal ini merangsang saraf untuk terus aktif dan bergerak, tidak ingin makan, tidak bisa tidur, tidak merasa lelah, menimbulkan rasa segar terus. Hal ini melawan kodrat manusia: kondisi fisik perlu istirahat untuk pemulihan.

Jiydref dan Silbi kemudian melanglang buana ke Eropa, menawarkan formula kristal met tersebut kepada siapapun. Tentu saja, Silbi tidak meninggalkan LSD. Benda-benda seperti itu adalah bentuk penyebaran bencana gaya baru. LSD, met, marijuana, kokain, semuanya dapat meluluhlantakkan kehidupan manusia dan membuat pelakunya bertingkah bagai hewan. Perilaku kriminal pun akan muncul dari ketergantungan pada zat-zat tersebut. Akhlak yang turun drastis dapat menyebabkan runtuhnya sebuah bangsa. Penyelundupan narkoba ke suatu negara adalah cara baru untuk melumpuhkan dan untuk kemudian menginvasi negara tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, sudah terlihat tanda-tanda bahwa apa yang menjadi tujuan Reficul, Silbi, Bubelzeeb dan Jiydref menjadi kenyataan. Perasaan superior dan haus perang yang menghinggapi para pemimpin akan membuat dunia ini hancur. Para pemimpin dunia meneriakkan perdamaian, namun pada saat yang sama tetap mempercanggih dan menambah senjata pemusnah masal. Jiydref dan Silbi-lah yang ada di belakang mereka.

Tidak usah kita berbicara tentang bom nuklir yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menghancurkan planet seukuran 100 kali planet bumi, ada bom fosfor, bom hidrogen, senjata kimia, dan senjata biologi yang sudah cukup untuk menghancurkan suatu bangsa. Dunia sedang menuju kehancuran. Untuk apa mereka menghabiskan jutaan dolar untuk membuat bom nuklir jika bom itu tak akan pernah dipakai? Suatu saat, mereka akan memakainya. Cuma masalah waktu.

Akan halnya Jiydref, hingga saat ini apa yang ditunggunya tak kunjung tiba. Menunggu rasa penyesalan datang sama halnya dengan menunggu Godot. Penyesalan takkan datang, karena Jiydref tak punya hati nurani. Hati nuraninya hilang pada hari yang sama ia membunuh kambing itu.

Dan dunia hanya menunggu the final countdown.

Baca selengkapnya di http://www.ferdy.mirrorz.com