21 Januari 2010

Oedipus Rex

Kisah Oedipus adalah tragedi. Ia melakukan perjalanan panjang menjauhi takdir, mengembara jauh melintasi perbatasan, tapi takdir jua yang ditemuinya. Tragedi tak berkesudahan Oedipus sangat mirip dengan kisah Sangkuriang. Pada akhirnya keduanya membunuh ayah kandung dan menikahi ibunya sendiri.

Raja Thebes, Lauis dan permaisurinya Jocasta sudah lama menikah dan tidak memiliki anak. Keduanya lalu menghadap orakel (peramal) di Delphi untuk meminta petunjuk. sang Orakel meramalkan jika Laius memiliki anak laki-laki, anak tersebut akan membunuhnya dan menikahi Jocasta. Ketika pada akhirnya Jocasta melahirkan anak laki-laki, Laius melukai kaki anak tersebut dan membuang si anak ke rimba belantara agar si anak mati dimangsa hewan buas dan ramalan tersebut tidak terpenuhi. Seorang gembala menemukan anak tersebut dan memberikannya ke penggembala istana dari Corinthus. Anak itu kemudian diberinama Oedipus (kaki yang luka), dan dibawa ke istana Corinthus. Oedipus kemudian diangkat anak oleh raja Polybus dan istrinya Merope, yang memang tidak memiliki anak.

Ketika beranjak dewasa Oedipus mendengar desas-desus mengenai ramalannya. Iapun menemui orakel Delphi dan menanyakan hal tersebut. Sang Orakel mengatakan bahwa Oedipus suatu saat akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya sendiri. Gundah akan dosa besar jika ramalan terjadi, Oedipus pun melarikan diri dari Corinthus dan mengembara, hingga akhirnya ia sampai ke persimpangan Davlia, dekat perbatasan Thebes. Di situ dia bertengkar dan berebut jalan dengan seorang bangsawan tua yang menaiki kereta. Oedipus tak sengaja membunuh bangsawan tua tersebut. Orang itu tak lain adalah Laius, Raja Thebes, ayahnya sendiri.
Tentu saja Oedipus tidak menyadari hal tersebut. Ia bahkan tidak tahu identitas orang yang dibunuhnya.

Image result for oedipus the hero

Oedipus melanjutkan perjalanannya. Ia berhadapan dengan Sphinx, yang selalu menghentikan siapapun yang bepergian ke Thebes. Sphinx selalu memberikan teka-teki, jika terjawab dengan benar bisa tetap hidup dan memasuki Thebes. Sphinx akan memakan hidup-hidup siapa saja yang tidak bisa menjawab teka-tekinya. Teka-tekinya : "Siapa yang berjalan dengan 4 kaki di pagi hari, dua kaki di siang hari dan tiga kaki di malam hari?" Oedipus menjawab : "Manusia, sebagai bayi ia merangkak, pada saat dewasa ia berjalan dengan dua kaki, dan pada masa tua ia berjalan dibantu tongkat." Oedipus adalah orang pertama yang bisa menjawab teka-teki tersebut dengan benar. Mendengar jawaban Oedipus, Sphinx merasa terkejut lalu tewas bunuh diri dengan meloncat dari tebing yang tinggi.

Peristiwa tewasnya Sphinx disambut dengan rasa sukur oleh rakyat Thebes dan Oedipus dialu-alukan sebagai pahlawan. Ia dibawa ke istana untuk dinobatkan menjadi raja dan menikahi ratu Jocasta yang telah menjadi janda. Mereka berdua dikaruniai 2 putra: Polynices dan Eteocles, dan 2 putri: Antigone dan Isemene. Hingga saat itu Oedipus masih belum sadar telah menikahi ibu kandungnya sendiri.

Tak lama setelah Oedipus menjadi raja, wabah aneh melanda negeri Thebes. Ladang dan tanaman tak pernah bisa tumbuh dan dipanen, ibu-ibu tidak bisa hamil dan melahirkan. Sebagai raja, Oedipus bersumpah untuk menghentikan wabah tersebut. Ia mengutus Creon, adik Jocasta, untuk menghadap orakel Delphi meminta petunjuk. Orakel mengatakan bahwa "tidak akan selamat rakyat sebuah negara jika dipimpin oleh seorang yang penuh dengan dosa, dan bencana akan datang silih berganti tiada henti"

Selain itu Orakelpun menyampaikan pesan lewat Creon dan Tiresias.

Orakel berpesan agar pembunuh raja Laius ditemukan dan dibunuh atau diusir. Oedipus pun menyuruh Tiresias untuk mencari tahu siapa pembunuh raja Laius. Tiresias mengingatkan agar jangan dicari siapa pembunuh Laius. Dalam situasi yang genting, Tiresias akhirnya membuka rahasia kata-kata Orakel dan mengatakan kemungkinan besar Oedipus lah yang telah membunuh Raja Laius. Bahwa Oedipus hidup dalam kenistaan karena tidak tahu siapa orangtuanya yang sejati. Oedipus menyalahkan Creon atas kata-kata Tiresias, dan keduanya bertengkar hebat hingga ingin membunuh satu sama lain. Jocasta menengahi dan menyabarkan Oedipus, dan menceritakan ciri-ciri Laius. Oedipuspun gundah karena ia mulai percaya bahwa dia sendirilah yang telah membunuh Laius dan karenanya mendatangkan bencana dan wabah.

Lalu, bagai petir di siang bolong, datang pembawa pesan dari Corinthis menyampaikan kabar bahwa Raja Polybus telah meninggal karena penyakit dan rakyat Corinthus ingin agar Oedipus pulang dan naik tahta. Oedipuspun teringat akan ramalan bahwa ia akan membunuh ayahnya sendiri, sadar bahwa Polybus telah meninggal dengan wajar, berarti Polybus memang bukan ayah kandungnya.
Jocastapun sadar dengan tragedi yang menyakitkan ini. Ia telah menikahi anak kandungnya sendiri, yang juga telah membunuh suaminya. Dengan hati yang pedih dan hancur, Oedipus pun menyadari hal ini dan mengutuk dirinya. Oedipus kemudian menemukan Jocasta yang telah tewas gantung diri. Dengan menggunakan tusuk konde dari Jocasta, Oedipus melukai kedua matanya sendiri hingga buta.
Image result for oedipus the hero
Oedipus memohon pada Creon agar menjaga putri-putrinya karena ia tidak ingin lagi menjadi raja, Oedipus hanya ingin mengembara sambil menyesali dosa-dosanya. Putrinya, Antigone, membimbingnya dalam pengembaraan hingga akhirnya Oedipus meninggal di Colonus, dalam perlindungan kerajaan Athena yang diperintah oleh raja Theseus.

Tragedi Oedipus berasal dari naskah-naskah yang ditulis sekitar abad ke 5 Sebelum Masehi. Naskah yang lebih lengkap ditulis oleh dramawan Yunani Sophocles. Sophocles menulis tragedi yang melingkupi Oedipus dalam 3 naskah, yakni Oedipus Rex (Oedipus Sang Raja), Oedipus Di Colonus, dan Kisah Antigone.

Dramawan WS Rendra dengan Bengkel Teater nya pernah mementaskan ketiga naskah Sophocles itu. Ada yang berujar, sebuah teater belumlah lengkap dan mumpuni jika belum pernah mementaskan Oedipus.

Sigmund Freud menggunakan istilah Oedipus Complex untuk menjelaskan gangguan kejiwaan manakala seorang laki-laki sangat mencintai ibunya dan tidak mau berpisah dengan ibunya bahkan setelah ia menikah dengan wanita lain. Pada kondisi yang ekstrim, 'anak mami' tersebut bahkan menganggap ayahnya sendiri sebagai musuh.

"...Dan bila kau sentuh pelipisku, dan kau usap daguku
Akan kau dapati parasku, pada paras anak lelakimu
Yang tak lagi mengenalmu sebagai ibu yang kudus
Tapi mengenalmu sebagai rahim dunia
Tempat kebaikan dan kejahatan, berawal dan berakhir

Kini dengan segenap kegilaan, kita terima segala kutukan
Mataku yang terbakar membuta
Dan hatimu yang berapi menghancur di hatiku."

Baca selengkapnya di www.ferdot.com

Tulisan lain: 10 Alasan Saya Menyukai Piringan Hitam | Reuni | Radio 

23 Desember 2009

Menunggu Godot

Vladimir dan Estragon sepakat menunggu Godot. Mereka merasa tahu dengan Godot, tapi juga mengakui jika Godot datang mereka belum tentu bisa mengenalinya. Sambil menunggu, agar tidak bosan mereka makan, tidur, berbicara, berdebat, menyanyi, main kartu, memainkan topi, bahkan mencoba bunuh diri.

Kedua sahabat ini kerap bertengkar dan berdebat tak habis-habisnya. Vladimir misalnya, kadang-kadang kesal dengan kemampuan berfikir Estragon yang kurang, dan tanggapannya yang aneh-aneh dan 'ga nyambung'. Tapi walaupun begitu, perdebatan demi perdebatan mereka lakukan selama penantian mereka terhadap Godot. Vladimir dan Estragon selalu berdebat akan sesuatu yang tidak jelas.

Mereka berdebat tentang rencana tidur selama menunggu Godot. Karena Godot ini tidak jelas kapan datangnya, entah hari ini entah besok. Inipun tidak jadi mereka lakukan, karena takut mereka sedang tidur ketika Godot yang ditunggu datang. Estragon ingin meninggalkan tempat itu, keduanya juga berdebat dan tidak sepakat apakah mereka menunggu di tempat yang seharusnya, ataukah memang hari ini Godot datang, bahkan mereka tidak yakin ini hari apa. Yang mereka tahu bahwa mereka harus menunggu di dekat sebuah pohon, dan memang ada pohon di dekat situ.

Dan Godot pun tak kunjung datang.

Karena frustasi, mereka berencana akan menggantung diri. Rencana ini jadi batal setelah mereka berdebat siapa yang harus mati duluan, karena mereka tidak bisa menggantung diri bersama-sama. Begitu selalu, mereka sibuk berdebat tanpa berbuat sesuatu.

Di antara debat dan pertengkaran yang seolah tak ada habisnya itu, datanglah Pozzo dan Lucky. Pada mulanya mereka menyangka Pozzo adalah Godot, dan penantian mereka akan berakhir. Tapi ternyata adalah Pozzo seorang penguasa yang jahat, dan Lucky adalah budaknya, yang selalu disiksa dan diikat dengan tali. Vladimir dan Estragon hendak menolong Lucky, tapi kemudian sibuk bertengkar mengenai apa dan bagaimana cara menolong Lucky. Ketika Pozzo berlalu dan Lucky masih terikat oleh tali, dua sahabat itu masih terus berdebat.

Penantian mereka berakhir dengan tragedi. Ketika waktu terurs berlalu, wajah dua sahabat itu makin keriput dan rambutnya memutih, Godot yang ditunggu tak kunjung tiba. Lalu ketika datang seseorang, yang lagi-lagi mereka pikir adalah Godot, ternyata orang itu adalah malaikat kematian. Hingga kematian menjemput mereka, Godot tidak pernah datang. Menunggu Godot adalah penantian yang sia-sia. Yang ditunggu tidak akan pernah datang.

Menunggu Godot (Waiting For Godot) adalah drama dua babak karya Samuel Becket. Segala aspek dalam drama ini menyimpan pesan moral yang dalam. Adanya tokoh Godot yang tidak kunjung datang juga menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam. Apakah dia manusia, hewan, dewa, ratu adil, uang ataukah kemenangan. Yang jelas, drama jenius ini bisa menjadi alegori yang cocok dengan keadaan negara kita saat ini. Jika masalah datang, kita sibuk berdebat tanpa berbuat, dan sampai masalahnya berlalu, kita masih berdebat terus.

Debat kusir macam begini takkan ada habisnya, banyak orang merasa senang mendengar suaranya sendiri. Apakah suara yang dikeluarkannya itu membantu memecahkan masalah, itu soal nanti, yang penting bersuara dulu. Terlalu banyak komentar dari sana-sini, masing-masing dengan argumen yang juga harus diperdebatkan lagi. Juga terlalu banyak demo dengan suara-suara berteriak memekakkan telinga, sehingga kita tidak bisa mendengar apa yang seharusnya kita dengar. Mikropon dan megapon laku keras. Kalau mau invest di Indonesia, investasi yang bagus adalah di pabrik mikropon dan megapon.


Sementara itu, Godot tak pernah datang.

Baca selengkapnya www.ferdot.id

Tulisan terkait: Potong Rambut | Saodah | Hikayat Sebuah Mustika

18 Desember 2009

Sang Pemimpi

Sang Pemimpi adalah satu-satunya film Indonesia yang saya tonton tahun 2009 ini, setelah setahun sebelumnya menonton Laskar Pelangi. Sang Pemimpi merupakan bagian dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Untungnya masih diproduseri oleh Mira Lesmana dengan Miles Production nya, dan disutradari oleh Riri Reza. Duet Mira dan Riri adalah duet yang idealis, mereka sineas-sineas yang membumi dan sama sekali jauh berbeda dengan penjahat-penjahat seni bangsanya Raam Punjabi dan kawan-kawan.

Film ini bagus hampir di semua aspek, kecuali editing yang agak tersendat dan kurang pas. Di beberapa adegan, editing yang kurang pas ini terasa mengganggu. Cuma itu saja, hal lain seperti plot, tata artistik, akting pemainnya, semua patut diacungi jempol. Yang tak kalah bagus adalah penyutradaraan Riri Reza yang berhasil mengarahkan para pemain-pemain baru, hingga akting mereka sangat wajar dan seadanya, tanpa ekspresi-ekspresi aneh, mata mendelik-delik atau wajah dibingung-bingungkan dengan gaya over acting seperti yang sering ada di sinetron-sinetron. Gambar-gambarnya dishot dengan bagus, sehingga berhasil menampilkan keindahan, dan juga kemiskinan daerah Belitong dengan lugas.

Jalinan ceritanya memikat, unsur-unsur humor yang memancing tawa berhasil dipadukan dengan konflik moral sehingga membuat kita berfikir sesudah tertawa terbahak-bahak.

Juga ada kejutan kecil yang menyenangkan menjelang bagian akhir, yaitu kemunculan Ariel Peter Pan. Ariel juga bermain wajar dan tidak over acting, sekali lagi pujian setinggi-tingginya harus diberikan untuk sutradara. Film ini sangat inspiratif dan bagus ditonton oleh seluruh keluarga. Two thumbs up!!

Baca selengkapnya di www.ferdy.mirrorz.com

15 Desember 2009

Potong Rambut

Saya sangat jarang ke salon. Untuk urusan potong rambut, saya pergi ke barber, yang biasanya judulnya : Pangkas Rambut Suasana, Pangkas Rambut Surya, Pangkas Rambut RapiJali, Pangkas Rambut Atasbawah. Banyak alasan saya untuk tidak pergi ke salon, antara lain kesannya mahal, sering ada bencongnya, tidak ada pisau cukur, pelayanan lama, dan lain-lain. Lagipula, saya cuma mau potong rambut. Bukan mau cuci muka, keramas, hair masking, creambath atau apalah. Bagi saya, salon itu tempat wanita. Dan saya ini maunya serba cepat, begitu selesai potong rambut, bayar, terus pergi.

Kalau istri saya lagi mood, dia mau memotong rambut saya, sebelumnya memang kepala saya ini jadi lahan eksperimen dia untuk latihan motong rambut. Terakhir telinga saya jadi korban, luka kena gunting. Dia cuma bilang: "Abis mas item sih, jadi saya susah bedakan mana rambut, mana kuping."

Demikianlah, pada suatu sore saya mampir ke mall. Di luar hujan lebat, seperti rambut saya yang juga sedang lebat. Kebetulan saya lewat di sebuah salon, cukup mentereng juga salonnya. Karena hujan tadi saya belum bisa pulang sementara besok mungkin saya tidak punya waktu lagi untuk potong rambut, maka iseng-iseng sayapun mulai mendekati salon itu. Dari luar kelihatan yang jaga laki-laki semua, dan pelanggannya cuma dua atau tiga orang. Yang jaga counterpun laki-laki, dengan kumis garang dan brewok samar-samar. Maka sayapun membuka pintu, lalu masuk.

Begitu saya mendekati counter, si mas berkumis itu langsung ngomong:

"Selamat soree, mau diapain mas?"katanya dengan gaya kemayu. Anjir, bencong ternyata. Lalu kumis tebal itu buat apa?

Tadinya saya mau keluar saja, kabur. Tapi karena sudah terlanjur di dalam dan semua mata kelihatannya memandang saya, jadi kepalang basah, sayapun ngomong:

"Cuma mau potong rambut."


"Ouhhh, "timpal si kumis itu lagi. "Ngga sekalian cuci muka, dan creambath?"

"Nggak, cuma mau potong rambut."

"Sekalian cuci muka dong ya," kata si kumis, gayanya makin kenes.

"Nggak, potong rambut aja."

"Paketnya dengan cuci muka lo mas."

"Tapi saya cuma mau potong rambut."

"Oke dehhhh.." kata si kumis dengan mendesah genit. "Silakan ke mari." katanya sambil menunjuk kursi di ujung.

Cowok yang akan memotong rambut saya kelihatannya normal, karena gayanya agak kaku. Setelah saya duduk, dia berkata:

"Sekalian cuci muka mas?" suaranya sengau. Hayah, bencong lagi.

"Potong rambut aja mb... eh.. mas."kata saya.

Lalu proses pemotongan rambut sayapun dimulai. Benar, tidak ada pisau cukur seperti yang ada di barber. Tidak ada mesin cukur, yang ada gunting dan sisir. Setelah seselai, ternyata cukup rapi juga. Bolehlah.

"Silakan bayar di kasir, mas. Beneran ga mau cuci muka?" kata si sengau.

"Tidak, makasih." sayapun mendekati kasir. "Berapa mas?"

Si kumis mengutak-atik mesin cash register, lalu bilang:
"Lima puluh lima ribu mas."

"Lima puluh lima rib.....?!" berharap moga-moga si kumis salah ngomong.

"Iya, lima puluh lima ribu. Kan sudah saya bilang, paketnya dengan cuci muka atau cuci rambut. Mahal ya mas, memang segini harganya, yang murah itu salonpas." kata si kumis lagi dengan gaya kenesnya.

Ya sudahlah. Mulai besok saya tidak akan pernah potong rambut di salon lagi. Mending cari tukang pangkas di bawah pohon atau panggil bang Buyung kalau di kampung. Atau potong rambut sama istri saja, walaupun kuping saya jadi taruhan. Memang saya tidak bakat untuk jadi orang kaya.

Baca selengkapnya di www.ferdy.mirrorz.com

02 Desember 2009

Twilight Saga: New Moon


Seorang sahabat lama pernah meminta saya menulis review tentang film Twilight (2008). Saya menonton filmnya dan memutuskan untuk tidak menuliskan reviewnya, karena komen saya akan lebih banyak negatifnya daripada nilai plusnya. Twilight adalah salah satu film yang tidak saya rekomendasikan ke siapapun.

Sekuelnya, Twilight Saga: New Moon, ternyata sedikit lebih baik. Nilai plus bisa ditambahkan ke efek CGI dan tata artistik. Penyutradaraannya pun sedikit lebih baik, mungkin karena sutradara film pertama sudah diganti. Selain dari ketiga hal itu, film ini sama buruknya dengan prekuelnya. Akting pemeran utamanya, Kristen Stewart dan Robert Pattinson sangat pas-pasan. Sama sekali tidak ada chemistry di situ seperti yang orang-orang bilang. Karakter Bella Swan menghabiskan sebagian besar durasi film dengan merenung, melamun dan mengigau. Keduanya sangat jarang bertatapan mata. Akting Robert Pattinson sangat aneh, mirip dengan akting awalnya Hayden Christiansen dalam Star Wars Episode II: Attack of the Clone. Dari segi akting, keduanya tidak memperoleh kemajuan sejak film pertama. Padahal Kristen Stewart sudah berakting sejak kecil, ingat film Panic Room di mana dia bermain dengan Jodie Foster. Bahkan akting Taylor Lautner yang berperan sebagai Jacob (Jake) Black, lebih lumayan dari kedua pemeran utama.

Justru yang aktingnya memikat adalah Dakota Fanning, walaupun kehadirannya cuma sekian menit, tapi penampilannya meninggalkan kesan. Dakota Fanning lebih muda daripada yang lainnya, tapi memang dari segi pengalaman akting, dia lebih senior daripada Kristen Stewart dan Robert Pattinson.

Seperti yang saya bilang tadi, tidak ada chemistry antara Robert Pattinson dan Kristen Stewart. Bella Swan hampir tidak pernah memandang mata Edward Cullen. Passion antara keduanya juga tidak bisa ditangkap. Coba lihat Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet dalam Titanic, Richard Gere dan Julia Roberts dalam Pretty Woman, John Cussack dan Kate Beckinsale dalam Serendipity, Brad Pitt dan Angelina Jolie dalam Mr. & Mrs. Smith.

Membuat film romans dengan latarbelakang dunia vampir memang tidak gampang. Tapi contoh film vampir yang gemilang bisa dilihat pada Interview With The Vampire (1994). Di film ini, berkumpulah cowok-cowok ganteng Hollywood era 90-an, yaitu Tom Cruise, Brad Pitt, Antonio Banderas, dan Christian Slater. Walaupun aktor-aktor ganteng tersebut dikumpulkan dalam satu film, bukan berarti film ini hanya menjual tampang. Film yang diarahkan oleh Neil Jordan ini mendapat nominasi Oscar untuk tata artistik dan musik latar. Brad Pitt, Tom Cruise dan Neil Jordan mendapat nominasi Saturn Award. Dalam anugerah BAFTA Award, film ini juga memenangkan kategori di bidang sinematografi dan disain produksi.

Kemungkinan, award yang akan diraih film ini adalah semacam popcorn award yang biasanya diadakan oleh MTV. Fim Twilight sendiri memperoleh popcorn award untuk kategori best kiss.
New Moon juga memiliki banyak masalah lain. Plotnya banyak berlubang. Banyak plot yang ada di buku dibuang begitu saja, padahal banyak mengandung adegan penting. Memang tidak mudah menerjemahkan sebuah novel menjadi bahasa gambar, tapi paling tidak jangan sampai membuat dialog-dialog menjadi hambar dan aneh. Franchise Harry Potter berhasil menerjemahkan novel-novelnya ke dalam bahasa gambar tanpa kehilangan plot yang berarti. Film-film Harry Potter memang ditangani sutradara-sutradara yang lebih serius. Daniel Radcliffe dan kawan-kawan beruntung mendapat arahan sutradara-sutradara kelas atas seperti Chris Columbus, Alfonso Cuaron, dan Mike Newell.

Jadi apa yang membuat film ini masuk daftar box office? Padahal ratingnya saja tidak mencapai 5 bintang di situs IMDB. Saya menganalogikannya dengan fenomena boyband-boyband di tahun 90-an. Di era itu banyak band-band vocal bermunculan dengan kualitas musik sangat pas-pasan. Mereka tidak mengaransemen musik sendiri, boro-boro menciptakan lagu. Bahkan mereka tidak memainkan alat musik. Hanya mengangguk-anggukkan kepala dan lip sync. Berbeda dengan band-band jenius seperti Queen, The Beatles, Oasis, Nirvana, The Cranberries, U2 dan The Corrs. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan hasil daur ulang lagu-lagu pop lama dari ABBA, Bee Gees, Diana Ross. Tapi kenapa boyband-boyband ini bisa meledak? Lihat Five, Backstreet Boys, Westlife, Boyzone, Caught in the Act, Blue? Karena kemasannya. Produser mengemas musik mereka dalam 1 paket berisi gerombolan cowok ganteng yang walaupun kualitas musiknya tidak seberapa, namun penampilan mereka bisa membuat cewek-cewek histeris.

Jeritan-jeritan histeris inilah yang saya dengar di gedung bioskop setiap kali Robert Pattinson muncul. Penampilannya memang dibuat menggetarkan jantung, kulit pucat, bibir merah delima, tatapan mata dingin dan misterius, wajah rupawan bagai patung dewa-dewa Romawi yang dipahat Michaelangelo. Demikianlah, siapa sih cewek, berapapun usianya, yang tidak kepengen lehernya digigit vampir semacam Edward Cullen?

Read more at http://ferdykicking.blogspot.com

18 November 2009

This Is It

Menonton This Is It, benar-benar menggugah ingatan akan sosok Michael sebenarnya. Film ini adalah dokumentasi atas persiapan konser yang sangat rapi dan integral dari seorang yang sangat jenius. Saya tumbuh di era Michael. Dimulai dari video clip Thriller yang ngetop pada saat saya masih SD, hingga jaman kulitnya yang tadinya hitam berubah putih. Menonton film ini, saya terkesima. Hampir tidak bisa percaya, sosok di film ini lah yang selama ini selalu diganggu oleh pers dan diperlakukan laksana setan. Dia tidak kelihatan aneh, sakit, maupun sebagai maniak phaedophil. Jikapun demikian, dia menutupinya dengan baik.

Film ini menunjukkan kepada kita apa yang kita lewatkan jika konsernya benar-benar terjadi. Konser di London yang tiketnya sudah sold-out jauh-jauh hari mestinya akan sangat luar biasa. Dia terlihat santai, bahagia dan bugar di atas panggung, seolah-olah panggung melebur bersamanya. Betapa jeniusnya Michael, seorang perfeksionis hingga ke detil-detil terkecil--film ini berhasil menangkap hal-hal tersebut dengan baik.

Yang membuat saya senang adalah film ini tidak terfokus pada soal kematian dan tragedi yang terjadi pada Michael, tapi melulu pada persiapan konsernya, musiknya, originalitasnya, dan merupakan semacam tribute bagi salah satu musisi terbesar yang dimiliki dunia di jaman kita ini.

Dunia memiliki banyak jenius di bidang masing-masing. Orang-orang yang tiada duanya, yang selalu meningalkan jejak sejarah. Suatu saat kita akan kehilangan Rowan Atkinson, si Mr. Bean, jenius di bidang komedi dan seni peran, Jacky Chan, jenius di bidang martial art, drama dan stunt. Dan masih banyak lagi. Ketika orang-orang seperti itu meninggal, dunia akan tersentak. Satu lagi aset dunia telah hilang.
Rest in peace, Michael.