Wednesday, November 18, 2009

This Is It

Menonton This Is It, benar-benar menggugah ingatan akan sosok Michael sebenarnya. Film ini adalah dokumentasi atas persiapan konser yang sangat rapi dan integral dari seorang yang sangat jenius. Saya tumbuh di era Michael. Dimulai dari video clip Thriller yang ngetop pada saat saya masih SD, hingga jaman kulitnya yang tadinya hitam berubah putih. Menonton film ini, saya terkesima. Hampir tidak bisa percaya, sosok di film ini lah yang selama ini selalu diganggu oleh pers dan diperlakukan laksana setan. Dia tidak kelihatan aneh, sakit, maupun sebagai maniak phaedophil. Jikapun demikian, dia menutupinya dengan baik.

Film ini menunjukkan kepada kita apa yang kita lewatkan jika konsernya benar-benar terjadi. Konser di London yang tiketnya sudah sold-out jauh-jauh hari mestinya akan sangat luar biasa. Dia terlihat santai, bahagia dan bugar di atas panggung, seolah-olah panggung melebur bersamanya. Betapa jeniusnya Michael, seorang perfeksionis hingga ke detil-detil terkecil--film ini berhasil menangkap hal-hal tersebut dengan baik.

Yang membuat saya senang adalah film ini tidak terfokus pada soal kematian dan tragedi yang terjadi pada Michael, tapi melulu pada persiapan konsernya, musiknya, originalitasnya, dan merupakan semacam tribute bagi salah satu musisi terbesar yang dimiliki dunia di jaman kita ini.

Dunia memiliki banyak jenius di bidang masing-masing. Orang-orang yang tiada duanya, yang selalu meningalkan jejak sejarah. Suatu saat kita akan kehilangan Rowan Atkinson, si Mr. Bean, jenius di bidang komedi dan seni peran, Jacky Chan, jenius di bidang martial art, drama dan stunt. Dan masih banyak lagi. Ketika orang-orang seperti itu meninggal, dunia akan tersentak. Satu lagi aset dunia telah hilang.
Rest in peace, Michael.

Wednesday, October 21, 2009

2012

Merujuk pada sistem kalender Maya yang rentang periodenya sangat panjang, maka kiamat global akan terjadi pada 21 Desember 2012. Dengan asumsi demikian, mestinya pemerintah negara-negara sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi even yang akan terjadi 3 tahun yang akan datang tersebut. Pemerintah Amerika mendirikan lembaga yang bernama Institute for Human Continuity, yang akan membangun semacam kapal raksasa untuk menyelamatkan sebagian penduduk bumi, mirip dengan kisah Nabi Nuh. Tidak semua orang bisa diselamatkan, maka sebuah website diluncurkan untuk melaksanakan sistem undian, persis seperti lotere green card yang banyak terdapat di internet.


Salah satu dari penyebab bencananya adalah letusan kaldera supervolcano yang terdapat di Yellowstone. Hal ini pernah terjadi sekitar 70ribu tahun yang lalu, di mana letusan supervolcano yang dahsyat terjadi di lokasi danau Toba sekarang, menyebabkan semacam bencana global yang membinasakan sebagian besar umat manusia. Letusan supervolcano di Yellowstone menyebabkan tsunami yang menenggelamkan pegunungan Himalaya.

Inilah plot terbaru dari sutradara Rolland Emmerich, si master of disaster yang pernah menelurkan film-film kolosal seperti Independence Day, Godzilla, dan The Day After Tomorrow. Film ini akan dirilis secara global bulan depan, yakni pada tanggal 13 Nopember 2009. Jajaran pemainnya antara lain John Cussack, sebagai penulis buku fiksi ilmiah yang kerja sambilan sebagai supir limusin. Juga ada Danny Glover sebagai presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, yang meramalkan akhir dunia dan dianggap gila oleh banyak orang.

Mirip dengan kampanye film The Dark Knight, Sony merilis website-website viral untuk memasarkan film ini, antara lain www.thisistheend.com , www.instituteforhumancontinuity.org , www.farewellatlantis.com , www.corruptiontheory.com dan www.newsdoneright.com .

Film ini diproduksi oleh kelompok Sony Pictures dan akan dirilis melalui Columbia Pictures, biaya produksinya berbujet 200 juta dolar. Dengan bujet raksasa begitu, bisa dibayangkan betapa akan kolosalnya adegan-adagen yang ada.

Tentu saja dengan adanya CGI (computer generated image), adegan apa sih yang tidak bisa dibuat? Mudah-mudahn film ini tidak hanya menyajikan spesial efek yang fantastis, tapi juga plot dan akting yang kuat. Jadi Rolland Emmerich tidak hanya akan dicap sebagai sutradara penjual bencana.

Friday, August 7, 2009

Willy

Aku ini milik Tuhan dan
Mengabdi kepada kehendak Tuhan
Segala yang lebih aku kembalikan kepada Tuhan
Melewati alam kehidupan
Aku setia kepada hati nuraniku
Aku setia kepada jalannya alam
Aku hidup dengan memandang
nilai-nilai kebudayaan
(Janji/prasetya di Bengkel Teater)

Beberapa waktu yang lalu, wartawan sekaligus pemusik Deded Er Moerad mengajak almarhum om Abdul Azis Abdus (ayah dari Abdulrahman dan Abdulrahim) untuk menemui Rusli Zainal yang waktu itu menjabat sebagai bupati Tembilahan. Tujuannya adalah untuk menyampaikan rencana mengundang Rendra ke Tembilahan. Meski awalnya ragu, Rusli Zainal memberi lampu hijau termasuk untuk membiayai transportasi dan uang saku selama si Burung Merak berada di Tembilahan.

Dikisahkan, waktu itu banyak yang skeptis dengan rencana tersebut. Apa mau sang Burung Merak yang biasa tinggal di 'langit' datang ke Tembilahan, sebuah kota di susut timur Sumatra yang bahkan namanya saja sering tidak muncul di peta.

Rendra pun datang. Beliau menginap di rumah makcik Ramlah, ibunda Deded R Moerad. Makcik Ramlah ini terkenal dengan masakannya yang enak, juga kue-kue atau wadai buatannya. Hal inilah, salah satu diantara banyak hal yang membuat Rendra betah di Tembilahan. Apalagi makcik Ramlah sering memasakkan udang galah, udang besar yang sering membuat udang-udang lain mengalah.

Pada kesempatan inilah saya sempat bertemu dengan beliau. Waktu itu saya sedang pulang kampung, serta merta saya diajak ayah saya yang juga seniman lokal untuk berhandai taulan dengan sang penyair besar ini. Saya senang. Sejak kecil saya membaca dan menonton Rendra. Ayah saya memiliki koleksi naskah Rendra di antara naskah-naskah seniman lain. Saya juga mengikuti ulasan mengenai pementasan Bengkel Teater yang waktu itu sering muncul di Tempo, Jakarta Jakarta dan Matra. Majalah Tempo pernah menulis feature dengan judul Rendra: Penyair 1 Milyar. Dulu saya baca Bengkel Teater sempat dicekal rejim Soeharto dan pernah mati suri. Ada film beliau yang saya tonton waktu kecil, judulnya Al Kautsar. Padahal diberitakan waktu film itu dibuat Rendra masih mualaf. Dia baru saja masuk Islam.

Jika tanpa prakarsa Deded R Moerad dan om Abdul Azis, belum tentu saya bisa ketemu om Willy, begitu panggilan akrabnya. Di Tembilahan, Rendra didaulat membaca puisi, berdiskusi dengan seniman setempat, berkunjung ke desa-desa, mengamati tanah gambut, melihat dengan mata kepalanya sendiri kehidupan petani dan nelayan Indragiri.

Tiga tahun yang lalu ketika saya pulang kampung, ayah saya memberikan buku berjudul Kepak Sayap Si Burung Merak. Buku itu merupakan biografi Rendra yang diterbitkan di Riau dan ditulis oleh Deded R. Moerad. Empat malam yang lalu karena tidak bisa tidur, saya membaca ulang buku itu dan sempat membayangkan kisah-kisah percintaan Rendra, suka duka Bengkel Teater, dan beberapa kisah-kisah lucu dan konyol yang terjadi sepanjang hidupnya. Sebelum sampai Bagian Lima yang mengisahkan tentang Percintaan Dengan Tuhan, saya jatuh tertidur.

Kemarin saya mendapat kabar bahwa sang Burung Merak telah mengepakkan sayapnya menuju bintang gemintang, ke suatu tempat yang lebih tinggi dari dunia fana.

Selamat jalan om Willy.

(Read more at www.ferdiansyah.com)

Thursday, July 16, 2009

Jambul

Rekan saya sedang tergila-gila dengan jambul. Ia mengklaim bahwa jambulnya menimbulkan rasa percaya diri yang besar. Jambulnya memang lumayan keren, tidak terlalu signifikan seperti jambul Jimmy Neutron, tidak lepek seperti jambul Superman yang selalu 'dikondisikan' berbentuk huruf S itu, tidak mirip dengan jambul Jusuf Kalla (memang beliau tidak punya jambul kok, atau mungkin pernah punya, tapi sudah dialokasikan untuk kumisnya yang tidak seberapa itu). Jambul rekan saya ini lebih mirip punya Elvis Presley, dan memang sangat cocok dengan bagian dahinya yang lebar.

Demikianlah, rekan saya itu menjadi sedikit narsis. Hari-harinya dimulai dengan menata jambulnya, dan beberapa jam perhari dihabiskan untuk mematut-matut jambulnya di depan cermin. Sering ia bergumam, 'siapa sih cowok keren di dalam cermin itu'? Para gadis mulai melirik padanya. Ia makin percaya diri di hadapan manusia lain. Dia pun bersyukur. Sebagai tanda syukurnya, ia mulai sholat lagi, selama ini sholatnya tambal sulam, kadang ingat kadang tidak, tapi lebih banyak lupa daripada ingat.

Masalah timbul. Ia malas memakai peci. Peci membuat jambulnya tertekan, dan jambulnya jadi kelihatan pendek dan tidak mencolok. Jadi ia sholat tanpa memakai peci. Sewaktu ruku, jambulnya jatuh lurus ke bawah dan mengganggu konsentrasi, maka iapun mengangkat tangannya dan menepis jambulnya ke samping. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap ia ruku. Karena jambulnya jatuh melulu, banyak gerakan tubuh yang dilakukannya yang tidak terdapat dalam rukun sholat mazhab manapun. Gerakan-gerakan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah.

Sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan 'jambul'. Jambul itu bisa berbentuk siaran langsung sepakbola di tengah azan maghrib, bisa juga berupa kerjaan yang menumpuk yang membuat kita lupa beribadah. Facebook dan Yahoo! Messenger bisa menjadi jambul. Film Transformer 2 di cineplex yang waktu tayangnya jam 6 sore juga bisa bertransformasi menjadi jambul.Hal-hal duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan, itulah jambul itu. Sebenarnya yang salah bukan jambulnya, manusianya lah yang salah. Harus ada semacam manajemen jambul, hingga jambul bisa diatur agar jangan sampai menjauhkan diri kita dari ibadah.

Rekan saya sebenarnya bisa saja memanage jambulnya tersebut dengan cara tetap memakai peci. Mungkin kegantengannya berkurang sekian persen, tapi ibadahnya akan lebih sempurna. Dan dalam ibadah, bukanlah manusia yang dihadapi, bukan pula gadis-gadis, bukan si Ria, tapi Allah Sang Maha Pencipta.

(Read more at www.ferdiansyah.com) REPOSTED.

Friday, July 3, 2009

Ompong

Setelah lama tidak bersua, tiba-tiba saya dapati bang Joni sudah ompong giginya. Tetangga saya yang selalu penuh semangat ini, yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak, baru ketahuan ompongnya setelah menyapa saya dengan senyum lebar. Ada dua celah gelap di situ, senyumnya yang biasanya sumringah ngah ngah tiba-tiba menjadi berubah jengah.

"Eh udah ompong ya Bang?.."

Langsung Bang Joni menutup mulutnya malu-malu. Ia menjelaskan bahwa giginya tanggal dua biji sejak seminggu yang lalu. Dia tidak menyalahkan siapapun, atau apapun, bang Joni menganggap tanggalnya gigi adalah proses alamiah yang akan dialami oleh siapapun seusia dirinya. Maklum, Bang Joni ini umurnya udah masuk 50-an. Walaupun begitu, Bang Joni masih giat mencari nafkah, menghidupi 4 orang anaknya yang masih sekolah dan istrinya yang semata wayang (soalnya Bang Joni bukan pejabat yang suka punya istri 2 mata wayang, atau 3 mata wayang, atau lebih lebih mata wayang).

Dua minggu kemudian, 2 gigi Bang Joni tanggal lagi, ompongnya pun semakin lebar. Tapi Bang Joni kelihatan lebih sehat, lebih gemukan. Sebulan kemudian wajahnya tidak saja semakin cerah, tapi juga kelihatan lebih muda. Nah lo, apa rahasianya?

Rupanya karena ompong, Bang Joni makan lebih hati-hati. Jika sebelumnya dia mengunyah lebih cepat, tentu saja sekarang dia mengunyah lebih lambat. Untuk satu sendok makanan, dia mengunyah pelan-pelan, menggunakan gigi-gigi yang masih tersisa, hingga makanan tersebut lumat. Mat! Makanan yang lumat sempurna tentu saja lebih gampang dicerna usus. Gizinya pun terserap lebih banyak. Bang Joni yang tadinya makan suka terburu-buru karena takut rejekinya kurang, sekarang udah belajar santai melakoni hidup. Wajahnya menjadi cerah dan senyumnya jadi sumringah plus megah walaupun ada celah. Dia juga ngaku kalau porsi makannya berkurang, yang tadinya makan kudu dua piring, sekarang 1 piring cukup. Kalau diakumulasi sebulan, penghematan 2 piring perhari ternyata cukup berasa. Jadi punya uang lebih untuk nambah-nambah tabungan.

Memang, segala sesuatu ada hikmahnya. Reposted.
(Read more at www.ferdiansyah.com)