26 Desember 2008

Benang Merah Artificial Intelligence

Eagle Eye
Film barunya Shia LaBeouf dan Michelle Monaghan, Eagle Eye (2008), memiliki benang merah yang sama dengan film 2001: A Space Odyssey (1968), Alien (1979) hingga Alien 4: Resurrection (1997), Blade Runner (1982), Robocop (1987) dan Stealth (2005). Semua film tersebut menggambarkan apa jadinya kalau keputusan penting yang menyangkut hidup matinya orang banyak, bahkan hidup matinya sebuah bangsa, diserahkan begitu saja pada sebuah kecerdasan buatan, atau artificial intelligence.

Di film 2001: A Space Odyssey, sebuah superkomputer bernama HAL berusaha membunuh seluruh awak pesawat demi tercapainya misi yang diinterpretasikan secara kaku. Di film Alien, seluruh aspek operasional pesawat, termasuk membuka dan menutup pintu, diserahkan pada sebuah superkomputer bernama Mother. Dalam film Blade Runner, Harisson Ford harus memusnahkan android yang lepas kontrol dan telah membunuhi orang-orang tak bersalah. Di film Robocop, sebuah robot bernama ED-209 berusaha membunuh orang yang sudah meletakkan senjata, dan meneruskan hitungan mautnya tanpa terkendali.

Di film Stealth, sebuah pesawat siluman yang dikendalikan oleh superkomputer bernama EDI, berusaha membunuh rekan sesama timnya, demi kelangsungan sebuah misi yang juga diinterpretasikan dengan kaku. Hal yang sama juga terdapat pada film Eagle Eye, di mana sebuah superkomputer bernama Aria berusaha membunuh Presiden Amerika dan beberapa anggota kabinetnya, justru karena Presiden tersebut dinilai telah mengancam keamanan nasional.

Sang Presiden dianalisis mengancam keamanan nasional, karena keputusan salah dan terburu-buru memutuskan untuk mengebom sebuah komunitas sipil yang sedang melakukan upacara penguburan, padahal menurut analisa komputer dan intelijen, orang-orang yang dibom itu bukanlah orang yang dicari (Al Kohei). Dan si superkomputer sudah merekomendasikan pembatalan. Keputusan terburu-buru Presiden inilah yang dianggap membahayakan keamanan nasional karena sejak pengeboman tersebut Amerika justru mendapat lebih banyak ancaman. Hal yang memang terjadi saat ini, thanks to Mr. Bush. (Congratulation for the flying shoes).

Menjelang akhir film, untuk menghentikan Aria, seorang mayor bernama Bowman mencabuti memori superkomputer, sebuah homage terhadap film 2001: A Space Odyssey, di mana superkomputer HAL 9000 juga dihentikan dengan cara mencabuti memorinya, dilakukan oleh seorang astronot yang juga bernama Bowman.

Eagle Eye diproduseri oleh Steven Spielberg, yang juga pernah menelurkan tema yang sama dalam film berjudul Artificial Intelligence: AI (2001). Film ini dibuat Spielberg berdasarkan konsep Stanley Kubrick, yang juga menelurkan film 2001: A Space Odyssey. Namun konsep Kubrick dalam kedua film tersebut sangat bertolak belakang. Dalam film Artificial Intelligence: AI, justru sosok kecerdasan buatan ini mendapat simpati yang dalam, dan terlihat sangat manusiawi, justru manusialah yang menjadi ancaman.

Film-film ini menggambarkan, walaupun kita sangat menikmati betul teknologi saat ini yang segalanya serba instan dan online, jauh di lubuk hati yang paling dalam, kita juga takut menghadapinya. Kegamangan ini berbarengan dengan rasa takut kita terhadap kemungkinan pemerkosaan atas privasi pribadi, walaupun atas nama ancaman keamanan nasional. Walahualam.

13 Desember 2008

Tarzan Ke Kota? What A Waste Of Time

Ini untuk kedua kalinya Indonesia bikin film Tarzan. Dulu Om Benyamin S yang jadi Tarzan-nya, judulnya: Benyamin S Tarzan Kota. Sekarang ada lagi namanya Ajul Jiung, dengan tampang (di)mirip(kan) dengan Om Bens, duet dengan Sandra Dewi yang cantik (tapi tak pandai milih peran) itu dalam film yang dikasihnama Tarzan Ke Kota.

Pertama, Indonesia sama sekali tidak punya Tarzan. Kecuali Mas Tarsan Srimulat yang punya nama asli Toto Muryadi. Jelas-jelas Mas Tarsan Srimulat ini asalnya bukan dari hutan belantara, tapi dari Malang. Kedua, Tarzan itu aslinya karakter yang ada di novel karya Edgar Rice Burrough yang berjudul Tarzan of the Apes, mengisahkan tentang anak yang dipelihara oleh kera sejak kecil di belantara Afrika.

Dari novel inilah kemudian Hollywood mengembangkannya menjadi film, dan film seri. Dimulai dari Johnny Weissmuller yang terkenal dengan "Auuuoooooo.." nya dalam Tarzan, The Ape Man (1932), lalu Ron Elly di serial TV Tarzan (1966), juga Chrsitopher Lambert yang dijuluki si Tarzan juling dalam film Greystoke: The Legend of Tarzan, Lord of the Apes (1984), dan terakhir adalah film animasi Walt Disney, yang diberijudul cukup Tarzan (1999) saja. Tahun 2010 yang akan datang, akan muncul film Tarzan versi terbaru yang disutradarai oleh Stephen Sommers (Mummy, Mummy Returns, Deep Rising). Nah semua film ini didasarkan atas karakter novel karya Edgar Rice Burrough tadi.

Jadi, film Tarzan Ke Kota berdasarkan karakter mana? Ya karakter Benyamin S yang di film jadul itu. Nah, film yang jadul itu berdasarkan karakter mana lagi? Walahualam, seperti yang saya bilang tadi, Indonesia tidak punya Tarzan, dalam bentuk apapun, apalagi dalam bentuk laki-laki gendut berkumis yang bulu keteknya nyasar ke mana-mana. Di jajaran produsernya ada nama India bangsanya Ram Punjabi dan Sanker-sankeran, yaitu Lavesh Samtani. Sudah kebaca trend nya mau ke mana penjahat-penjahat seni asal India ini.

Apa yang ada di film ini, selain komedi slapstick yang konyol (konyol karena kita tertawa ngeliat orang ditimpa kemalangan, misalnya terpeleset), atau kekonyolan curtural shock yang biasa timbul untuk tema-tema seperti ini.

Juga ada hewan-hewan teman Tarzan yang bisa bicara, yang tentu saja lewat voiceover (dubbing). Gerakan mulut hewan-hewan tersebut "sangat pas" sehingga kita "puas". Sebenarnya, they can do better than this crap.

24 November 2008

2001: A Space Odyssey

Baru-baru ini saya menonton film 2001: A Space Odyssey arahan mendiang Stanley Kubrick. Filmnya saya download dari internet menggunakan salah satu torrent client. Yah, di mana lagi kalau mau cari film-film klasik kalau bukan di internet. Untuk di Indonesia, memang agak susah menemukan film-film klasik, harus beli dari luar negara (maksudnya sama dengan istilah luar negeri), atau cara paling gampang: download. Jadi jika Anda memang ingin menonton film-film klasik atau jadul seperti The Wizard of Oz, atau High Noon, atau Gone With The Wind, download lah dari internet. File nya cukup besar, memang, karenanya (bagi yang belum tahu) gunakanlah torrent client, semacam Bittorrent, Bitcomet, atau uTorrent. Tentang apa dan bagaimananya, bisa dilihat di sini.

Kembali ke film 2001: A Space Odyssey tadi. Boleh dibilang film yang dirilis tahun 1968 (jelas saya belum lahir) ini sangatlah menawan. Film bergenre science-fiction ini mengisahkan tentang penemuan monolith misterius yang terkubur di bawah permukaan bulan. Monolith tersebut mengirim sinyal secara simultan ke planet Jupiter. Maka dikirimlah sebuah ekspedisi yang terdiri atas 2 pilot, 3 ilmuwan dan 1 komputer canggih yang diberinama HAL-9000 untuk menelusuri sinyal tersebut hingga ke Jupiter. Tugas HAL-9000 mengatur setiap aspek operasional di pesawat ruang angkasa yang diberinama Discovery One.

Hal mengagumkan dari film ini adalah visi Stanley Kubrick yang luarbiasa, yang berhasil menampilkan teknologi masa depan (yang belum ada pada tahun 1968) dengan sangat meyakinkan. (Setahun kemudian, pada 1969, Apollo 11 berhasil mendarat di bulan). Walaupun tahun 2001 sudah lama lewat, film ini tetap masih sangat relevan ditonton dengan tingkat kecanggihan jaman sekarang.

Film ini dihiasi musik klasik semacam "Thus Spoke Zarathustra" dan "The Blue Danube", pilihan yang aneh tapi terasa pas dan menggetarkan. Di beberapa adegan banyak shot yang cukup panjang, yang mungkin terasa membosankan untuk ukuran penonton jaman sekarang, tapi memang demikianlah kecenderungan Stanley Kubrick, yang terkenal atas kepeduliannya terhadap detil. Dialognya tidak banyak, prioritas Kubrick untuk film ini adalah kekuatan dan esensi dari gambar-gambar yang memang spektakuler. Pada akhir film, tinggalah sebuah tanda tanya besar mengenai manusia dan peradabannya, di tengah jagad raya yang tak (atau belum) terukur luasnya ini. Sebuah konsep humanisme. Ini bukan film fiksi ilmiah biasa, ini sebuah filosofi. Pada dasarnya, 2001: A Space Odyssey adalah sebuah film tentang segala hal.

Jika demikian canggihnya film fiksi ilmiah yang dibuat tahun 1968, betapa jauh tertinggalnya film-film Indonesia jaman sekarang, yang masih cukup puas dengan film-film horror yang dangkal dan film percintaan yang "tidak ke mana-mana", ke langit tidak, membumi juga tidak.

05 November 2008

The First Black American President

Kemenangan Barack Obama atas John McCain dalam pemilu tanggal 4 November kemarin telah menunjukkan bahwa batas-batas rasial di Amerika telah didobrak dengan gemilang. Anak dari ayah yang berkulit hitam dari Kenya dan ibu kulit putih dari Kansas berhasil memenangkan suara di negara bagian yang justru sulit untuk diprediksi, yaitu Ohio, Florida, Virginia dan Iowa.

Dengan demikian keprisedenan di negara yang telah ratusan tahun dipimpin oleh kulit putih ini telah menimbulkan preseden baru. Selamat untuk Barry Obama.

28 Oktober 2008

Dracula

Satu hal yang menyenangkan di akhir Oktober adalah, bos Arie Siregar, pemilik dua stasiun radio fm, membelikan sebuah buku tebal edisi hard cover yang berjudul The Historian, karya Elizabeth Kostova. Buku dengan desain mewah dan pembatas buku yang unik setebal 768 halaman ini diterbitkan oleh Gramedia. Isinya tak lain dan tak bukan adalah tentang Dracula, yang berkat film-film Hollywood kita kenal sebagai sosok vampire penghisap darah. Kita jadi membayangkan Gary Oldman dalam Dracula, atau Tom Cruise, Brad Pitt dan Antonio Banderas dalam Interview With The Vampire, atau Christopher Lee dan Bela Lugosi dalam film-film drakula klasik, dengan gigi taring mencuat, mata yang memancarkan kekejian dan jubah dengan kerah yang tinggi. Kemudian muncul mitos mengenai bawang putih, senjata tajam yang harus terbuat dari perak murni, dan keyakinan tentang siapapun yang digigit oleh Dracula akan berubah menjadi vampire juga.

Banyak yang tidak tahu bahwa sosok Dracula yang kita kenal melalui film-film sekarang, berasal dari imajinasi penulis novel Inggris yang bernama Bram Stoker. Bram Stoker mendasarkan karakter Dracula dari sosok penguasa Transylvania (sekarang Rumania) dari abad pertengahan yang bernama Vlad Tepes, atau lebih dikenal dengan julukan Vlad The Impaler, sosok yang sangat dibenci oleh tidak saja oleh rakyatnya sendiri, maupun musuhnya, orang-orang Turki dari kekaisaran Ottoman. Vlad berasal dari keluarga dengan ordo klan Dracul, yang artinya naga, sehingga namanya sering disebut sebagai Vlad Draculea (draculea = anak dari klan naga). Dari sinilah istilah Dracula berasal.

Begitu banyaknya tulisan dan film tentang Dracula, tidak menyurutkan Elizabeth Kostova untuk melakukan riset sejarah mengenai Dracula, dan kemudian menuangkan hasil risetnya tersebut ke dalam sebuah novel sejarah yang berjudul The Historian. Berbeda dengan Darcula-Bram Stoker, Kostova lebih memberikan nuansa sejarah pada novelnya ini, sehingga pembaca tak hanya disuguhkan oleh ketegangan dan kengerian semata, melainkan pembaca juga diajak menyelusuri siapa sebenarnya dibalik sosok Dracula berdasarkan fakta sejarah yang diperoleh Kostova dari risetnya selama 10 tahun! Tidak seperti novel-novel horor lainnya yang biasanya sarat dengan dendam, darah, amarah, tubuh yang tercabik-cabik, sosok hantu yang menjijikkan, dan lain-lain, The Historian menyajikan nuansa yang berbeda. Walau yang menjadi tema utama adalah pencarian sosok Dracula yang menyeramkan, namun tak ada ketakutan yang berlebihan ketika kita membacanya.

Selain itu aroma sejarah juga tercium dengan tajam pada novel ini. Dengan deskripsi sejarah yang diurai secara kronologis dan menarik sehingga tak membosankan Kostova mengajak pembacanya bertamasya ke masa lalu di abad ke 15 dimana Dracula pernah hidup dan berjuang melawan serangan tentara Turki dibawah pemerintahan Sultan Mehmed II. Pembaca juga akan diajak berkelana ke tempat-tempat eksotis seperti Oxford, Istanbul, Rumania, Bulgaria untuk menelusuri buku-buku kuno, mansukrip-manuskrip bersejarah, kisah para santo, puisi kuno, legenda dan lagu-lagu rakyat yang berkaitan dengan Dracula.

Hal menyenangkan lain di akhir bulan ini adalah berita tentang turunnya harga minyak dunia, dan terus turun, semoga harga BBM di dalam negeri akan ikut turun, jika tidak, penguasa dan pengusaha Indonesia curang dong. Dan bulan depan, awal Nopember, film James Bond ke-22, sequel langsung dari Casino Royale, yang berjudul Quantum Of Solace, akan diluncurkan. Tepatnya tanggal 11. Whew!

Baca Juga : Negara Para Banci | Hypnerotomachia Poliphili | Serendipity | The Broker | Six Degrees Of Separation | Ada Apa Dengan Kentut?