24 April 2009

Balada Si Jalil Dan Si Uhan

Bang Jalil memiliki suara yang cukup powerful. Orangnya belum muncul di ujung gang, tapi suaranya sudah membahana, membawa berita bagus bagi penduduk Tembilahan yang butuh cemilan sore-sore. Tak perlu pakai megaphone TOA yang ada di surau-surau, suaranya yang cempreng dengan lantang meneriakkan nama-nama wadai (kue) tradisional, semacam papari, hamparan tatak, papudak (sejenis lemper), kalalapon (klepon), kue lapis, juga wadai dua kali sakit alias dadar gulung.

Bang Jalil menjajakan kue-kue tradisional dengan menjunjung talam, yaitu sejenis nampan yang berlapis enamel. Ada anekdot soal ini, semacam teki-teki yang menanyakan siapa yang sewaktu kecil di atas talam, besar di bawah talam. Jawabannya ya si Jalil ini. Karirnya cukup bertahan lama, mulai dari pertengahan tahun 70-an hingga awal 90-an.

Sebetulnya masa itu banyak juga yang berprofesi menjadi penjaja kue keliling, tapi yang terkenal dan lengket di benak penduduk cuma Jalil. Yang dilakukan Jalil ini, sebagaimana juga yang dilakukan bartender keliling alias penjual jamu gendong, adalah strategi pemasaran jemput bola. Produsen mendatangi konsumen secara langsung. Cara yang dilakukan Jalil terbukti efektif, branding image nya juga berhasil dicapai, karena nama Jalil selalu diasosiasikan dengan kue-kue tradisional yang variatif.

Lain pula dengan si Uhan. Uhan ini sosok sangar dengan penampilan bak pendekar mata satu. Orang bule yang nyasar di Tembilahan pada masa itu bisa salah sangka bahwa Uhan ini sejenis sinterklas lokal. Karena ke mana-mana si Uhan selalu memanggul karung. Karung itu dibawa ke mana-mana untuk memenuhi panggilan profesinya, yaitu sebagai kolektor beras! Ya, Uhan ini sejenis peminta-minta, dengan spesialisasi: beras. Jadi dia tidak meminta uang atau yang lain, hanya beras, beras, dan beras. Isi karung beras si Uhan bisa membuat iri penjaga gudang beras Bulog, karena beras Uhan lebih bervariasi. Di dalam karungnya mungkin ada beras Solok, beras Cianjur, beras jatah pegawai negeri, juga beras afkiran yang banyak mengandung batu kerikil itu.

Bahkan dulu sempat ada lagu tentang Uhan. Lagunya merupakan plesetan dari lagu Rhoma Irama, penyanyi dangdut hipokrit yang kalau ngomong seperti orang terengah-engah itu. Kira-kira penggalan liriknya begini :

..." Katakan, mata Uhan satuuuuuuu..."

Saya dulu sempat curiga bahwa Uhan ini termasuk orang yang romantis, karena disinyalir istrinya lebih dari satu. Dibilang romantis karena kok bisa ada lebih satu wanita bertekuk lutut dan mau menjadi istrinya. Nah, siapa yang mau dengan pengemis? Kecuali kalau pengemisnya semacam King of Beggars seperti dalam film-film konyolnya Stephen Chow. Tambahan dulu sempat beredar gosip bahwa si Uhan ada affair dengan si Masnah. Masnah ini perempuan melankolis gila yang dulu selalu duduk mengangkang di depan markas polisi. Sebelumnya ada desas-desus yang menyatakan bahwa Masnah tadinya semacam primadona yang dikhianati oleh anggota polisi sehingga menjadi gila. Benar atau tidaknya, yang jelas dulu banyak saksi mata (atau yang merasa menjadi saksi) yang melihat adegan Uhan mendekati Masnah sambil memetik bunga tahi ayam. Romantis bukan?

Yang pasti, kehidupan si Uhan penuh suka duka. Pernah saya saksikan orang menaruh tempurung kelapa ke dalam karungnya. Pernah juga batu sebesar tinju yang disusupkan ke situ, atau tahi kucing yang dibungkus daun pisang (nggak ada kerjaan banget). Pernah juga dia diusir. Tapi untunglah dia itu orangnya cuek, pagi di usir, sore kembali ke tempat yang sama. Kegigihannya bisa menjadi sumber inspirasi bagi koruptor-koruptor beras, termasuk koruptor yang jatuh dua kali di lobang yang sama.

Nama-nama seperti Jalil, Uhan dan Masnah mewarnai kehidupan sehari-hari penduduk kampung saya di era 70-an hingga akhir 80-an. Setiap kota memiliki kisah uniknya sendiri, ada yang lucu, ada yang tragis, ada yang tak terlupakan dan kemudian menjadi kenangan. Yang pasti, suatu saat saya akan kembali ke sana dan akan dengan lahapnya memakan kue-kue yang dulu dijajakan si Jalil, sambil berbincang tentang Uhan dan minum air hujan.

(Ferdot)

16 April 2009

CSI dan Serial TV Jadul

Dari sekian banyak film serial TV yang ada pada dekade ini, hanya CSI-lah yang masih saya tonton dengan rutin dan saya bela-belain menunggu waktu tayangnya setiap Rabu malam. CSI sendiri sekarang sudah memiliki 2 spin-off, yakni CSI: Miami dan CSI:New York. CSI original yang bersetting di Las Vegas sendiri sekarang sudah memasuki season 9, sejak pertama kali ditayangkan CBS pada tahun 2000. Lumayan panjang kan, apalagi dengan 2 spin-offnya, sepertinya belum ada yang bosan menonton serial ini.

Yang membuat CSI (Crime Scene Investigation) menarik adalah selain filmnya menampilkan kejelian ilmuwan forensik yang berkutat memecahkan misteri pembunuhan, kematian-kematian yang tak wajar, dan kejahatan-kejahatan lainnya, CSI memiliki unsur drama yang mendalam, kisah yang bervariasi (bayangkan, CSI sudah running selama hampir 9 tahun, tentu tak gampang mencari ide baru untuk setiap episodenya), dan plot yang selalu terjaga untuk mempertahankan rasa penasaran penontonnya.


Malam tadi, yang membuat saya sedikit shock adalah, pernyataan Gil Grissom (tokoh utama yang diperankan oleh William Petersen ), bahwa dia mengundurkan diri dari CSI. Untuk selanjutnya dia akan digantikan oleh Dr. Raymond Langston (Laurence Fishburne ), dokter medis yang berubah haluan menjadi criminalist. Kepergian karakter Grissom dari serial CSI sungguh mengecewakan, karena dia dan CSI ibarat Fox Mulder dengan The X-Files. Tak kan mungkin rasanya menonton The X-Files tanpa ada tokoh Fox Mulder di dalamnya. Atau menonton serial The A Team tanpa ada tokoh B.A yang diperankan oleh Mr. T.

Bagi saya, saat ini memang sulit mencari serial TV bermutu yang membuat kita bergairah dan antusias menontonnya. Untuk dekade ini (bagi saya lagi) mungkin cuma CSI, walaupun beberapa waktu yang lalu saya sempat suka dan selalu menantikan Alias. Dekade 90-an masih lumayan, karena ada Ally McBeal, LA Law, The Practice, dan tentu saja The X Files.


Saya jadi ingat masa kecil di Tembilahan. Dulu, penduduk Tembilahan sangat beruntung karena setiap sore dan malam bisa mendapatkan tontonan serial TV bermutu dari SBC (Singapore Broadcasting Company, sekarang MediaCorp). Selain RTM1, RTM2, TV3, kita dulu bisa mendapatkan 3 channel dari SBC, yakni Channel 5, Channel 8 (Di pa po tao), dan Channel 12 yang menayangkan acara seni, budaya dan pendidikan. Dari saluran -saluran inilah, kita bisa menonton keseksian Lynda Carter yang menjadi Wonder Woman, kehebatan cyborg Steve Austin dan Jaime Sommers dalam The Six Million Dollar Man dan Bionic Woman, penampilan awal Bruce Lee dalam serial The Green Hornet, The Incredible Hulk, Charlie's Angels, CHiPs, Buck Rogers and 25th Century, Battlestar Galactica, Tales of the Golden Monkey, Dallas, Matt Houston, Magnum P.I, Miami Vice, TJ Hooker, BJ and the Bear, The Voyagers!, Quantum Leap, Knight Rider, Airwolf, Streethawk, Manimal, Automan, Mission: Impossible, The Greatest of American Hero, The A Team, Hawaii Five-O. Selain itu ada Remington Steele yang membuat Pierce Brosnan menjadi James Bond, dan Moonlighting yang membuat nama Bruce Willis dikenal dunia.

Juga ada serial komedi seperti Happy Days dan The Love Boat. Dan serial TV dari Inggris yaitu The Saint, yang melambungkan nama Roger Moore, dan The Avengers.


Beberapa dari film-film seri TV tersebut sudah dibuat versi layar lebarnya, seperti Charlie's Angels, Starsky & Hutch, Miami Vice, Mission: Impossible, The Incredible Hulk, The Saint dan The Avengers. Sebagian dari film-film tersebut mengecewakan, sebagian lagi lumayan. Tetapi tetap saja tidak bisa membuat kita antusias seperti di masa kecil dulu.
Kalaulah ada saluran TV swasta kita yang mau melakukan rerun untuk serial-serial TV jadul di atas, alangkah bagusnya. Tentu akan kita bela-belain menunggu jam tayangnya. Keinginan kita untuk merasakan gairah dan antusiasme masa kecil dari jaman the good old days mudah-mudahan bisa terpenuhi.


Artikel lain : Gara Gara Film | Ada Apa Dengan Kentut | The Last Supper | Jambul | Negara Para Banci | Dracula | Hypnerotomachia Poliphili

24 Maret 2009

Ngopi Yuk.....

Beberapa waktu yang lalu saya menulis tentang kopi luwak, yaitu kopi yang dihasilkan dari fermentasi yang terjadi di perut luwak. Boleh dibilang, inilah kopi termahal di dunia.

Sekarang, frekuensi ngopi saya semakin kerap, gara-gara rekan-rekan kantor selalu mengajak saya untuk nyeleweng ke warung kopi yang terletak di gedung sebelah. Ngopi di situ memang lebih enak, beda dengan ngopi di "sini", yang tentu saja jadi ironis karena kopi di "sini" lebih mahal. Ngopi di warung kopi atau kopi-tiam terasa lebih nikmat, apalagi kopinya disuguhkan dengan cangkir kopi cina keramik yang tebal itu.

Sewaktu saya masih di Batam, saya sering nongkrong di counter-counter kopi franchise lokal yang diberinama ICBIC. Biasanya counter-counter ICBIC ini terletak di samping eskalator, terdiri dari 1 buah counter dan beberapa meja. ICBIC sendiri singkatan dari I Can't Believe It's Coffee. Di situ dijual bermacam-macam jenis kopi ala Starbuck, jadi ada capucino, espreso, cafe late, kopi decaf, bahkan kopi tubruk yang diminum sambil menggigit gula jawa. Saya tidak tahu apakah counter kreatif seperti ini masih ada di mall-mall di sana.

Saya meniru ngopi dari bapak saya. Beliau tiap pagi minum kopi dan sewaktu kecil saya sering mencuri menyeruput kopi beliau. Nah, cara beliau minum kopi selalu khas gaya minum kopi orang-orang tua jaman dulu. Selalu ada bunyi "seruputttttttt", kemudian diikuti ucapan "aaaaahhhhhhhh...." panjang. Kedengarannya seru, dan saya kaget karena bunyi-bunyi seperti ini masih terdengar di warung-warung kopi, termasuk warung kopi di sebelah kantor. Bayangkan jika warung kopi dipenuhi orang yang gaya minumnya seperti itu, pasti seru mendengar bunyi seruput dan "aaaaahhhhh" bersahut-sahutan.

Selain bapak saya, ada satu orang lagi yang menjadi tokoh kopi saya, yaitu Bu Heny. Bu Heny ini wanita cantik lulusan sekolah pariwisata di Aussie, dan menjadi EAM di tempat saya kerja dulu. Pengetahuannya tentang kopi luar biasa. Kalo beberapa rekan menjuluki saya ensiklopedia berjalan tentang film, Bu Heny ini ensiklopedia berjalan soal kopi. Beliau paham bermacam-macam jenis kopi, dan kalo ngobrol tentang kopi sambil minum kopi dengan beliau, kita akan terpesona. Di bibirnya yang menawan itu, derajat kopi naik menjadi 100 kali lipat dan kopi jadi serasa lebih berharga daripada intan berlian. Bukan hanya tentang pengolahan kopi yang dibahas, tapi nilai-nilai budaya dan latar belakang eksotis dari sebuah kopi itu menjadi nilai tambah pada obrolannya. Lagipula, siapa sih yang tidak betah ngobrol dengan wanita cantik, pintar lagi.

Nama kopi berasal kata kahve dari bahasa Turki jaman kekaisaran Ottoman, yang pada jaman itu menginvasi Eropa, terutama kawasan Transylvania dan Eropa Selatan. Kahve sendiri diambil dari kosa kata bahasa Arab yaitu kahwa. Sekarang tidak ada yang tidak tahu kopi, karena kosa katanya selalu ada dalam semua bahasa di dunia, misalnya coffee (Inggris), kafei (Mandarin), kaffe (Denmark), cafe (Prancis), koffie (Belanda), coffea (Italia), koohi (Jepang), kape (Philipine). Jadi istilah cafe dari bahasa Perancis itu artinya ya kopi. Tapi kalau di tempat saya lain, walaupun yang dijual bukan kopi, melainkan jus-jus buah, tetap saja namanya kafe. Warung tempat jualan sate dan tongseng serta nasi goreng juga disebut kafe. Salah kaprah seperti ini di Indonesia sudah lumrah, misalnya sepeda motor disebut honda, walaupun merk nya Yamaha. Atau pompa air disebut sanyo, padahal merknya Uchida. Atau lcd projector disebut Infocus, padahal merknya Sony atau Toshiba.

Kembali ke soal kopi. Memang ada kelebihan dan kekurangan kopi, misalnya mengkonsumsi kopi terlalu banyak berbahaya bagi jantung. Tapi penelitian terakhir menyebutkan bahwa kopi mengandung zat antioksidan (pencegah kanker) tiga kali lebih banyak daripada buah-buahan.

Jadi, kalo ada rekan, misalnya si Adi, si Dedi, pak Durisman, si Putri Wardah, Yoga, atau si Eka , si Sari, atau si Dewi ngajak saya minum kopi, dengan senang hati saya beranjak dari tempat duduk. Ngopi bisa berarti menambah keakraban, dan dengan demikian tentu saja memiliki fungsi sosial.

Ngopi yukkkk..

Artikel terkait : Kopi Luwak

14 Maret 2009

Slumdog Millionaire

Yang membuat saya terpukau dengan film Slumdog Millionaire adalah kemampuan sutradaranya, Danny Boyle, untuk mengangkat realita dengan sangat membumi. Hal yang selama ini gagal ditampilkan oleh film-film Bollywood. Tentu saja ini bukan film India, kebetulan saja setting ceritanya mengambil tempat di Mumbai (dulunya Bombay), India. Danny Boyle sendiri adalah sutradara Inggris, dan sudah menelurkan film-film seperti Trainspotting, A Life Less Ordinary, The Beach, 28 Days Later dan fiksi ilmiah Sunshine.

Dengan realita masyarakat marjinal yang ditampilkan dengan indah, menawan, dan bernuansa petualangan, film Slumdog Millionaire bukanlah film yang menjual mimpi, walaupun kisahnya tentang seorang gembel yang memenangkan hadiah puncak kuis Who Wants To Be A Millionaire versi India. Di Indonesia, beberapa tahun yang lalu seorang loper koran berhasil menembus angka Rp500juta. Nyaris menyamai Jamal Malik, tokoh utama dalam film ini. Yang membuat film ini masuk akal adalah, Jamal Malik bukanlah gembel yang jenius. Dia gembel biasa yang kebetulan mampu menjawab
hampir semua pertanyaan, karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul simetris dengan perjalanan hidupnya yang pahit, tragis, indah, lucu, seram, sedih, dan penuh dengan petualangan.

Maka sangat layaklah film ini mendapat penghargaan 4 kategori Golden Globe, dan 8 Oscar untuk sinematografi, penyutradaraan, editing, musik latar, lagu, tata suara, skenario dan mendapatkan predikat Film Terbaik.

Film ini juga sangat layak ditonton oleh seluruh keluarga.

16 Februari 2009

Jengkie Tapi Rindu


Gimana caranya menghilangkan bau pete? Makanlah jengkol! Pasti bau petenya bakalan hilang. Ungkapan ini menunjukkan betapa tajamnya bau jengkie (istilah keren dan mutakhir dari jengkol). Dari mana bau tersebut berasal? Penyebab bau itu sebenarnya adalah asam-asam amino yang terkandung di dalam biji jengkol. Asam amino itu didominasi oleh asam amino yang mengandung unsur Sulfur (S). Ketika terdegradasi atau terpecah-pecah menjadi komponen yang lebih kecil, asam amino itu akan menghasilkan berbagai komponen flavor yang sangat bau, karena pengaruh sulfur tersebut. Salah satu gas yang terbentuk dengan unsur itu adalah gas H2S yang terkenal sangat bau.


Jengkie yang bahasa latinnya Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum ini adalah jenis makanan yang notorious, tetapi juga nutritious. Dibilang notorious karena bisa bikin toilet di rumah jadi 'harum semerbak' (kalau membilasnya kurang sempurna) dan bisa membuat gempar masyarakat domestik. Di daerah yang penduduknya gemar makan jengkie, pasti selokannya bau (memang selokan mana yang harum?). Dibilang nutritious karena jengkie dinilai bisa membantu mencegah diabetes dan baik untuk jantung (wallahualam).

Terlepas dari itu semua, terus terang, saya sendiri suka juga makan jengkie, asal bukan yang mentah. Jengkie bisa membuat nafsu makan bertambah (nafsu makan saya nggak pernah kurang kok, with or without jengkie), gulai jengkie atau sambel goreng jengkie bisa ditemukan sebagai hidangan ekstra di rumah makan Padang. Nah, jangan menyebut jengkol di rumah makan Padang, apalagi jengkie, karena di situ namanya jariang!

Pernah sekali saya kena jengkie syndrom, ini istilah saya untuk kondisi yang orang Sunda bilang jengkoleun. Jengkolan, maksudnya. Tanda-tanda terkena jengkoleun biasanya muncul rasa pegal hebat di pinggang, berlanjut menjadi nyeri melilit. Sulit buang air kecil dan ketika kencing rasanya sakit bukan main bahkan kerap bercampur darah. Penderita bisa mengalami kejang-kejang karena menahan sakit luar biasa. Namun setelah beberapa jam, gejala akan hilang dengan sendirinya. Hal itu dimungkinkan sebab di dalam jengkie terdapat senyawa bernama asam jengkolat. Jika Ph darah kita netral, asam jengkolat aman-aman saja. Tapi kalau cenderung asam (pH kurang dari 7), asam jengkolat membentuk kristal tak larut. Kristal jengkolat berupa jarum-jarum halus tidak kasat mata, yang kedua ujungnya sangat tajam yang menusuk-nusuk dinding saluran kencing. Akibatnya, timbul rasa nyeri setiap kali kencing. Karena tusukan bertubi-tubi, saluran kencing akan mengerut. Bahkan bisa mengakibatkan perdarahan, sehingga air seni menjadi kemerahan bercampur darah (wah, jadi serem). Jadi jengkoleun tidak disebabkan karena banyaknya jumlah jengkie yang dikonsumsi, tetapi bergantung pada kerentanan tubuh seseorang.

Walaupun begitu, jengkie bisa mencegah banjir dan longsor. Pohon jengkie memiliki akar tunggang, dan memilik daya serap air lebih tinggi dibanding pohon lainnya. Pohon jengkie sangat efisien jika ditanam pada bukit dan lereng-lereng gunung, di samping berdiri kokoh juga dapat menyerap air serta menyimpannya dalam jangka waktu lama. Dengan demikian longsor dan banjir bisa dicegah.

Karena itulah, jengkie mesti diangkat derajatnya. Selain dijadikan balado jengkie, gulai jengkie atau rendang jengkie, mungkin perlu juga dibuat kreasi lain, misalnya diolah menjadi Pizza Jengkie, atau sejenis jengkie burger, atau jengkie fries. Atau jengkie diekspor ke Perancis dan para ahli kuliner di sana bisa mengolahnya menjadi makanan bergengsi, toh jenis keju tertentu baunya juga nggak ketulungan kan? Siapa tau Chef Remy dari film Ratatouille bisa mengolahnya menjadi makanan lezat. Atau Catherine Zeta-Jones yang jadi Executive Chef di film No Reservations bisa menjadikannya hors d'oeuvre yang disantap sebelum menikmati foie gras dan bebek peking. Bon appétit, nikmatilah jengkol yang delicious, eh notorious...

So, makan jengkie, siapa takut.

07 Februari 2009

Foto Caleg Sepanjang Jalan

Lihatlah foto para caleg itu.

Di tiang listrik, kaki jembatan, dinding ruko, dinding pos kamling, baliho, banner, di samping warung tuak, di depan warung bakso, di pangkalan ojek. Rata-rata menampilkan sosok berdasi, berjas dan berpeci, persis foto-foto yang ada di poster Kabinet Pembangunan III, IV dan V waktu saya kecil dulu. Semua tampak sama, semua tampak seragam, semua menegaskan satu hal: tampang politikus.

Memang ada satu dua yang tampil beda (sukurlah), tapi kalaupun potretnya berbeda, kata-katanya biasanya mirip, atau gayanya mirip, misalnya tinju terkepal, tangan mengatup seperti salam panjali. Tapi tetap saja semuanya menegaskan hal yang sama: tampang politikus. Setidaknya, itulah kesan yang saya tangkap.

Karena itulah, sewaktu bos Arie (yang juga jadi caleg) minta tolong saya untuk mendisain baliho miliknya, saya tegaskan agar balihonya jangan sampai tampak sama dengan yang lain, karena hal-hal yang tampak sama justru akan mudah dilupakan. Potretnya harus tampil beda, jangan menampilkan profil politikus, tapi tampilkan sosok pekerja, yang sama dan sejajar dengan rakyat kebanyakan (karena toh dia itu rakyat juga). Tidak perlu pakai jas, pakai dasi, atau berpeci. Cukup sosok yang terkesan intelek dan terpelajar, tapi juga pekerja keras. Bukan profil politikus yang kesannya cuma bisa ngomong, tapi miskin tindakan.

Sewaktu disainnya sudah jadi, dan bos Arie mengajukannya kepada pimpinan partainya, serta merta disain saya ditolak. Walau bagaimanapun, katanya, sosok caleg itu harus pakai jas, dasi dan peci.

Perubahan memang butuh waktu.

Dari sekian banyak baliho caleg yang ada di jalan, tak satupun yang gampang diingat. Justru yang tinggal berbekas di kepala saya adalah sosok Luna Maya di salah satu iklan baliho milik operator seluler.