06 Januari 2009

Angels & Demons

ambigram
Robert Langdon, tokoh dalam novel dan film kontroversial The Da Vinci Code akan kembali beraksi. Novel karangan Dan Brown berikutnya yang akan diangkat ke layar lebar adalah Angels & Demons. Novel ini sebenarnya merupakan prekuel dari The Da Vinci Code, karena setting waktunya terjadi setahun sebelum plot yang ada di The Da Vinci Code.



Jika dalam The Da Vinci Code Dan Brown memaparkan Priory of Sion dan Opus Dei, maka dalam Angels & Demons Brown memaparkan tentang persaudaraan rahasia Illuminati, lembaga ilmu pengetahuan CERN dan Vatikan. Kisahnya sendiri (jika dirunut dari novelnya) adalah tentang pembunuhan misterius di CERN yang berlanjut dengan aksi teroris terselubung di lingkungan Vatikan, di mana 4 kandidat Paus dibunuh satu persatu dengan kejam, dan adanya ancaman senjata pemusnah masal yang disebut sebagai antimateri. Hal menarik lainnya adalah adanya ambigram, sebuah kode/tulisan yang dibuat dengan teknik dan intelijensia yang tinggi, sehingga bisa dibaca dari dua arah.

Robert Langdon masih diperankan oleh Tom Hanks dan Ron Howard masih duduk di kursi sutradara. Vittoria Vetra, pasangan Langdon kali ini, akan diperankan oleh Ayelet Zurer. Ewan McGregor akan berperan sebagai Carlo Ventresca. Filmnya sendiri akan dirilis pertengahan Mei 2009 ini. Tentu saja film ini, sebagaimana novelnya, akan menjadi kontroversial juga sebagaimana The Da Vinci Code karena menggambarkan intrik-intrik dalam lingkungan Vatikan dan adanya fakta-fakta sejarah yang selama ini tidak diketahui oleh orang awam (kecuali bagi yang pernah baca novelnya).


Artikel Terkait : The Da Vinci Code | Hypnerotomachia Poliphili | The Historian

03 Januari 2009

Kalau Mr. DJ Ngambek Di Lubang Semut

Siapapun bisa ngambek.

Kalau di acara tahun baru DJ ngambek nggak mau tampil, padahal
the show must go on, gimana saya nggak kelabakan. Tiket sudah nyaris sold out. Padahal di flyer dan di tiket, juga di banner, juga di iklan radio, sudah dijanjikan bahwa akan ada penampilan DJ untuk membuat Pesta Di Lubang Semut menjadi super meriah.

Ya, acaranya memang memakai
theme "Pesta Di Lubang Semut". Ballroom disulap menjadi seperti lubang atau goa semut. Untuk mewujudkan itu, ribuan lembar koran bekas yang sudah dicat hitam ditempel di dinding dan langit-langit dan dibentuk sedemikian rupa. Efek goa semut memang tercapai, tapi masih kurang jika penghuninya tidak didandani seperti semut. Maka rekan-rekan cewek yang cantik-cantik dan fashionable rame-rame didandani mirip semut, dengan antena yang terjuntai dan mengangguk-angguk di kepala, serta buntut (sebenarnya abdomen) semut yang semok dan montok. Untuk menambah efek sarang semut, salah satu dinding diberi lubang dan ditutupi screen. Kemudian projector menembakkan footage-footage tentang semut ke screen tersebut. Dan tamu-tamu yang hadir juga diwajibkan memakai antena semut yang sudah disiapkan panitia. Alhasil, jadilah kita semua mirip gerombolan semut yang ngerumpi, makan, minum dan berpesta di sarangnya.

Itu semua belum cukup, maka disewalah MC, band, dancers, dan dj. Acarapun sudah disusun sedemikian rupa agar
mood dan antusiasme kita semua tetap terjaga hingga melewati pergantian tahun. Celakanya, giliran Mr. Disc Jockey harus tampil dan unjuk gigi, sang DJ menghilang entah kemana. Setelah saya hubungi, ternyata doi nongkrong di sebuah hotel yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari tempat acara. Rupanya Mr. DJ ngambek. Usut punya usut, ngambeknya Mr. DJ karena doi tersinggung karena rekannya tidak bisa masuk ke lokasi acara gara-gara ditahan sama panitia. Tentu saja ini cuma kesalahpahaman komunikasi, dan seperti yang saya bilang tadi--atau seperti yang Freddie Mercury bilang dalam salah satu lagu Queen: the show must go on. Saya tak mau Pesta Di Lubang Semut ini berubah menjadi Pesta Di Lubang Neraka.

Tak peduli siapa yang salah, saya toh tak mau juga acaranya berantakan gara-gara DJ nggak mau tampil, maka sayapun membujuk DJ dengan kata-kata semanis gula (namanya juga semut) sambil minta maaf. Akhirnya sang DJ pun mau kembali ke lubang semut, dan pesta pun dilanjutkan, seolah tak terjadi apa-apa. Untung para tamu tidak sadar adanya insiden ini, dan sebagian besar rekan juga tidak 'ngeh'. Maka the show is really going on. Masa kritis lewat.

Dan semut-semutpun berpesta.

26 Desember 2008

Benang Merah Artificial Intelligence

Eagle Eye
Film barunya Shia LaBeouf dan Michelle Monaghan, Eagle Eye (2008), memiliki benang merah yang sama dengan film 2001: A Space Odyssey (1968), Alien (1979) hingga Alien 4: Resurrection (1997), Blade Runner (1982), Robocop (1987) dan Stealth (2005). Semua film tersebut menggambarkan apa jadinya kalau keputusan penting yang menyangkut hidup matinya orang banyak, bahkan hidup matinya sebuah bangsa, diserahkan begitu saja pada sebuah kecerdasan buatan, atau artificial intelligence.

Di film 2001: A Space Odyssey, sebuah superkomputer bernama HAL berusaha membunuh seluruh awak pesawat demi tercapainya misi yang diinterpretasikan secara kaku. Di film Alien, seluruh aspek operasional pesawat, termasuk membuka dan menutup pintu, diserahkan pada sebuah superkomputer bernama Mother. Dalam film Blade Runner, Harisson Ford harus memusnahkan android yang lepas kontrol dan telah membunuhi orang-orang tak bersalah. Di film Robocop, sebuah robot bernama ED-209 berusaha membunuh orang yang sudah meletakkan senjata, dan meneruskan hitungan mautnya tanpa terkendali.

Di film Stealth, sebuah pesawat siluman yang dikendalikan oleh superkomputer bernama EDI, berusaha membunuh rekan sesama timnya, demi kelangsungan sebuah misi yang juga diinterpretasikan dengan kaku. Hal yang sama juga terdapat pada film Eagle Eye, di mana sebuah superkomputer bernama Aria berusaha membunuh Presiden Amerika dan beberapa anggota kabinetnya, justru karena Presiden tersebut dinilai telah mengancam keamanan nasional.

Sang Presiden dianalisis mengancam keamanan nasional, karena keputusan salah dan terburu-buru memutuskan untuk mengebom sebuah komunitas sipil yang sedang melakukan upacara penguburan, padahal menurut analisa komputer dan intelijen, orang-orang yang dibom itu bukanlah orang yang dicari (Al Kohei). Dan si superkomputer sudah merekomendasikan pembatalan. Keputusan terburu-buru Presiden inilah yang dianggap membahayakan keamanan nasional karena sejak pengeboman tersebut Amerika justru mendapat lebih banyak ancaman. Hal yang memang terjadi saat ini, thanks to Mr. Bush. (Congratulation for the flying shoes).

Menjelang akhir film, untuk menghentikan Aria, seorang mayor bernama Bowman mencabuti memori superkomputer, sebuah homage terhadap film 2001: A Space Odyssey, di mana superkomputer HAL 9000 juga dihentikan dengan cara mencabuti memorinya, dilakukan oleh seorang astronot yang juga bernama Bowman.

Eagle Eye diproduseri oleh Steven Spielberg, yang juga pernah menelurkan tema yang sama dalam film berjudul Artificial Intelligence: AI (2001). Film ini dibuat Spielberg berdasarkan konsep Stanley Kubrick, yang juga menelurkan film 2001: A Space Odyssey. Namun konsep Kubrick dalam kedua film tersebut sangat bertolak belakang. Dalam film Artificial Intelligence: AI, justru sosok kecerdasan buatan ini mendapat simpati yang dalam, dan terlihat sangat manusiawi, justru manusialah yang menjadi ancaman.

Film-film ini menggambarkan, walaupun kita sangat menikmati betul teknologi saat ini yang segalanya serba instan dan online, jauh di lubuk hati yang paling dalam, kita juga takut menghadapinya. Kegamangan ini berbarengan dengan rasa takut kita terhadap kemungkinan pemerkosaan atas privasi pribadi, walaupun atas nama ancaman keamanan nasional. Walahualam.

13 Desember 2008

Tarzan Ke Kota? What A Waste Of Time

Ini untuk kedua kalinya Indonesia bikin film Tarzan. Dulu Om Benyamin S yang jadi Tarzan-nya, judulnya: Benyamin S Tarzan Kota. Sekarang ada lagi namanya Ajul Jiung, dengan tampang (di)mirip(kan) dengan Om Bens, duet dengan Sandra Dewi yang cantik (tapi tak pandai milih peran) itu dalam film yang dikasihnama Tarzan Ke Kota.

Pertama, Indonesia sama sekali tidak punya Tarzan. Kecuali Mas Tarsan Srimulat yang punya nama asli Toto Muryadi. Jelas-jelas Mas Tarsan Srimulat ini asalnya bukan dari hutan belantara, tapi dari Malang. Kedua, Tarzan itu aslinya karakter yang ada di novel karya Edgar Rice Burrough yang berjudul Tarzan of the Apes, mengisahkan tentang anak yang dipelihara oleh kera sejak kecil di belantara Afrika.

Dari novel inilah kemudian Hollywood mengembangkannya menjadi film, dan film seri. Dimulai dari Johnny Weissmuller yang terkenal dengan "Auuuoooooo.." nya dalam Tarzan, The Ape Man (1932), lalu Ron Elly di serial TV Tarzan (1966), juga Chrsitopher Lambert yang dijuluki si Tarzan juling dalam film Greystoke: The Legend of Tarzan, Lord of the Apes (1984), dan terakhir adalah film animasi Walt Disney, yang diberijudul cukup Tarzan (1999) saja. Tahun 2010 yang akan datang, akan muncul film Tarzan versi terbaru yang disutradarai oleh Stephen Sommers (Mummy, Mummy Returns, Deep Rising). Nah semua film ini didasarkan atas karakter novel karya Edgar Rice Burrough tadi.

Jadi, film Tarzan Ke Kota berdasarkan karakter mana? Ya karakter Benyamin S yang di film jadul itu. Nah, film yang jadul itu berdasarkan karakter mana lagi? Walahualam, seperti yang saya bilang tadi, Indonesia tidak punya Tarzan, dalam bentuk apapun, apalagi dalam bentuk laki-laki gendut berkumis yang bulu keteknya nyasar ke mana-mana. Di jajaran produsernya ada nama India bangsanya Ram Punjabi dan Sanker-sankeran, yaitu Lavesh Samtani. Sudah kebaca trend nya mau ke mana penjahat-penjahat seni asal India ini.

Apa yang ada di film ini, selain komedi slapstick yang konyol (konyol karena kita tertawa ngeliat orang ditimpa kemalangan, misalnya terpeleset), atau kekonyolan curtural shock yang biasa timbul untuk tema-tema seperti ini.

Juga ada hewan-hewan teman Tarzan yang bisa bicara, yang tentu saja lewat voiceover (dubbing). Gerakan mulut hewan-hewan tersebut "sangat pas" sehingga kita "puas". Sebenarnya, they can do better than this crap.

24 November 2008

2001: A Space Odyssey

Baru-baru ini saya menonton film 2001: A Space Odyssey arahan mendiang Stanley Kubrick. Filmnya saya download dari internet menggunakan salah satu torrent client. Yah, di mana lagi kalau mau cari film-film klasik kalau bukan di internet. Untuk di Indonesia, memang agak susah menemukan film-film klasik, harus beli dari luar negara (maksudnya sama dengan istilah luar negeri), atau cara paling gampang: download. Jadi jika Anda memang ingin menonton film-film klasik atau jadul seperti The Wizard of Oz, atau High Noon, atau Gone With The Wind, download lah dari internet. File nya cukup besar, memang, karenanya (bagi yang belum tahu) gunakanlah torrent client, semacam Bittorrent, Bitcomet, atau uTorrent. Tentang apa dan bagaimananya, bisa dilihat di sini.

Kembali ke film 2001: A Space Odyssey tadi. Boleh dibilang film yang dirilis tahun 1968 (jelas saya belum lahir) ini sangatlah menawan. Film bergenre science-fiction ini mengisahkan tentang penemuan monolith misterius yang terkubur di bawah permukaan bulan. Monolith tersebut mengirim sinyal secara simultan ke planet Jupiter. Maka dikirimlah sebuah ekspedisi yang terdiri atas 2 pilot, 3 ilmuwan dan 1 komputer canggih yang diberinama HAL-9000 untuk menelusuri sinyal tersebut hingga ke Jupiter. Tugas HAL-9000 mengatur setiap aspek operasional di pesawat ruang angkasa yang diberinama Discovery One.

Hal mengagumkan dari film ini adalah visi Stanley Kubrick yang luarbiasa, yang berhasil menampilkan teknologi masa depan (yang belum ada pada tahun 1968) dengan sangat meyakinkan. (Setahun kemudian, pada 1969, Apollo 11 berhasil mendarat di bulan). Walaupun tahun 2001 sudah lama lewat, film ini tetap masih sangat relevan ditonton dengan tingkat kecanggihan jaman sekarang.

Film ini dihiasi musik klasik semacam "Thus Spoke Zarathustra" dan "The Blue Danube", pilihan yang aneh tapi terasa pas dan menggetarkan. Di beberapa adegan banyak shot yang cukup panjang, yang mungkin terasa membosankan untuk ukuran penonton jaman sekarang, tapi memang demikianlah kecenderungan Stanley Kubrick, yang terkenal atas kepeduliannya terhadap detil. Dialognya tidak banyak, prioritas Kubrick untuk film ini adalah kekuatan dan esensi dari gambar-gambar yang memang spektakuler. Pada akhir film, tinggalah sebuah tanda tanya besar mengenai manusia dan peradabannya, di tengah jagad raya yang tak (atau belum) terukur luasnya ini. Sebuah konsep humanisme. Ini bukan film fiksi ilmiah biasa, ini sebuah filosofi. Pada dasarnya, 2001: A Space Odyssey adalah sebuah film tentang segala hal.

Jika demikian canggihnya film fiksi ilmiah yang dibuat tahun 1968, betapa jauh tertinggalnya film-film Indonesia jaman sekarang, yang masih cukup puas dengan film-film horror yang dangkal dan film percintaan yang "tidak ke mana-mana", ke langit tidak, membumi juga tidak.

05 November 2008

The First Black American President

Kemenangan Barack Obama atas John McCain dalam pemilu tanggal 4 November kemarin telah menunjukkan bahwa batas-batas rasial di Amerika telah didobrak dengan gemilang. Anak dari ayah yang berkulit hitam dari Kenya dan ibu kulit putih dari Kansas berhasil memenangkan suara di negara bagian yang justru sulit untuk diprediksi, yaitu Ohio, Florida, Virginia dan Iowa.

Dengan demikian keprisedenan di negara yang telah ratusan tahun dipimpin oleh kulit putih ini telah menimbulkan preseden baru. Selamat untuk Barry Obama.