26 September 2008

Situs Telkom.net Expired

Kemarin sewaktu mengakses situs www.telkom.net, ternyata situsnya sudah expired dan tidak atau belum diperpanjang oleh Telkom. Halaman yang muncul adalah halaman komersial dari Network Solutions dengan pesan "telkom.net expired on 09/18/2008 and is pending renewal or deletion."

Saya tidak habis pikir bagaimana perusahaan sekelas PT. Telkom bisa kecolongan seperti ini. Mustahil Telkom tidak mampu memperpanjang registrasi domain dan melanjutkan hostingnya.

Ternyata perusahaan sekelas Telkom bisa ngaco juga administrasinya.

19 September 2008

WALL-E and The Final Countdown

Satu lagi tontonan cerdas yang tidak hanya bagus untuk anak-anak, tetapi juga layak ditonton orang dewasa. Mengikuti tradisi film-film Toy Story, Finding Nemo, Monster Inc., dan The Incredibles, sekali lagi Disney dan Pixar Animation Studio menelurkan film animasi yang kualitasnya di atas rata-rata, yaitu WALL-E. Seperti biasa, film-film Disney tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan pesan moral, yang hebatnya, dipaparkan dengan baik sekali sehingga tidak berkesan klise.

Film ini miskin dialog, tapi begitu kaya dengan ungkapan dan sentuhan emosi. Jangan ragu bahwa anak-anak tidak akan mengerti jalan cerita film ini, walaupun dialognya minim. WALL-E berhasil menjangkau daya tarik dan keingintahuan anak-anak (sekaligus menghibur mereka) sehingga ketika menonton film ini bersama anak-anak, kita 'melihat' terjadinya dialog 3 dimensi antara WALL-E, kisah yang dibangunnya, dan anak-anak itu sendiri. Pengaruh yang sama terjadi dalam film animasi Disney/Pixar sebelumnya, yakni Finding Nemo.

Dikisahkan WALL-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth class) adalah robot terakhir yang tugasnya adalah mengumpulkan dan mengalokasikan sampah-sampah di bumi masa depan yang ditinggalkan manusia. Manusia sudah ratusan tahun meninggalkan bumi karena polusi dan radiasi, dan hidup bermalas-malasan di pesawat raksasa Axiom di luar tata surya. [Dalam istilah logika dan matematika, axiom (aksioma) adalah sesuatu yang tidak dipertanyakan lagi dan diterima apa adanya]. WALL-E yang kesepian menghibur diri dengan kaset video Betamax berjudul Hello Dolly!, sebuah film lama yang dibintangi Barbra Streisand. WALL-E mendapat teman ketika EVE (Extraterrestrial Vegetation Evaluator) datang ke bumi. EVE dikirim dari Axiom untuk menemukan keberadaan tumbuh-tumbuhan (pertanda surutnya polusi dan radiasi). Interaksi antara WALL-E dan EVE dengan begitu manis diterjemahkan dengan bantuan film Hello Dolly! dan soundtracknya. Ketika WALL-E menghadiahkan sebuah tanaman yang ditemukannya kepada EVE, EVE menerima tanaman tersebut, mengevaluasinya, kemudian mengirim sinyal kepada Axiom untuk dijemput.

Ketika pesawat kecil datang untuk mengirim EVE kembali ke Axiom, WALL-E bergegas ikut, dan dari sinilah dimulai petualangan WALL-E untuk menemukan EVE yang pada akhirnya mengubah peradaban manusia. Jadi ini sekali lagi bukan film animasi biasa. Film ini mempertanyakan eksistensi manusia di masa depan, dengan tingkat polusi dewasa ini, boleh jadi manusia memang tidak bisa lagi tinggal di bumi yang rusak lingkungannya. Dan boleh jadi ketika terbiasa dan nikmat dengan hal-hal yang serba otomatis, manusia jadi malas bergerak dan bahkan malas berinteraksi dengan sesamanya sendiri. Di film ini manusia digambarkan bertubuh tambun, gendut, dan lupa caranya bercocok tanam, bahkan malas bersosialisasi. Sebuah gambaran suram sebenarnya, tapi kesan ini hampir tertutup dengan warna-warna cerah animasi Pixar yang penuh dengan detil.

Saya jadi ingat dengan lagu lawas dari band Europe yang berjudul The Final Countdown, tentang kita yang meninggalkan bumi kita:

We're leaving together,
but still it's a farewell
and maybe well come back to earth,
who can tell?
I guess there is no one to blame
we're leaving ground
will things ever be the same again?

Its the final countdown...

31 Agustus 2008

Negara Para Banci

Sudah terlalu banyak bencong-bencong bergentayangan di stasiun TV. Show-show dengan rating tinggi selalu menampilkan tokoh yang kebanci-bancian, atau banci asli, atau bencong kaleng. Mungkin para produsernya menganggap acara tersebut tidak akan laku kalau tidak ada bencongnya. Makhluk jadi-jadian sejenis Ivan Gunawan dkk laris manis, tidak saja di reality show, juga di iklan-iklan. Sekarang seolah-olah banci atau bencong adalah idola yang mampu menarik minat penonton, dan menaikkan rating.

Bayangkan anak atau adik kita yang masih sehat dan jelas jenis kelaminnya, karena terlalu seringnya nonton reality show di Indosiar, tiba-tiba mengidolakan Ivan Gunawan, dan kalau sudah besar pengen jadi seperti Ivan Gunawan. Mau?

Kehadiran para banci, gay, dan para bencong kaleng di TV dapat berdampak buruk bagi anak-anak yang menontonnya. Seharusnya mereka didampingi orangtua pada saat menonton, dan orangtua memberikan penjelasan. Tapi selalu ada kemungkinan mereka nonton pada saat orangtua tidak di tempat. Sementara di stasiun-stasiun TV swasta kita begitu banyak para banci bertaburan. Saya heran, seharusnya Komisi Penyiaran Indonesia mengambil tindakan atas hal ini. Singkirkan para gay, banci, bencong, dan bencong kaleng dari layar TV.

Saya bukan jenis orang yang diskriminatif, saya juga punya teman gay, dan kenal juga dengan bencong, tapi kehadiran mereka di TV sudah melewati porsi yang wajar.

Mungkin memang inilah trend di negara kita. Masing ingat dengan Ambalat dan Sipadan-Ligitan? Dengan mudahnya Malaysia mencaplok pulau-pulau tersebut tanpa adanya hambatan berarti dari negara kita. Tidak ada perjuangan berarti dari pemerintah kita untuk mempertahankan kawasan yang penuh dengan minyak dan gas alam tersebut. Dan pada saat wasit karate Indonesia yang tidak bersalah dipukuli oleh pihak berwenang Malaysia, tidak ada respon yang berarti dari negara kita, padahal jelas-jelas itu penistaan, karena itu adalah tim kontingen yang membawa nama negara. Tidak ada pengusiran diplomat Malaysia dari Indonesia, tidak ada kasus
persona non grata seperti yang selayaknya terjadi dalam dunia diplomasi. Tidak ada kata maaf resmi dari pemerintah Malaysia. Dalam kasus lain, kita melihat, alangkah tunduknya pemerintahan kita terhadap kebijakan-kebijakan dan tekanan negara lain. Politik luar negeri Indonesia adalah politik banci.

Semoga negara kita tidak terperosok menjadi negara para banci.

Main site: www.ferdiansyah.com

16 Agustus 2008

Si Bangsat Haram Jadah

Di setiap lingkungan kerja, pasti ada satu orang yang ingin kita beri label si bangsat haram jadah. Inilah jenis orang yang kerjanya paling sedikit, tetapi dapat penghargaan paling banyak. Skillnya sedikit, tapi gajinya paling besar. Pada saat rekan-rekan lain mendapat makian, dia mendapat pujian. Dan entah kenapa, walaupun semua orang tau kerjanya nggak pernah beres, tapi karirnya selalu menanjak. Inilah orang yang berdiri dan menjulang dengan memijak kepala orang lain. Ciri-ciri lain, orang ini selalu menilai diri sendiri terlalu tinggi.

Selalu ada si bangsat haram jadah seperti ini dalam lingkungan kerja kita.

Juga ada jenis bangsat haram jadah yang lain. Jenis ini tidak selalu kelihatan, hanya bisa terdeteksi oleh orang-orang yang peka. Jenis ini biasanya banyak ngomongnya, dan mati-matian berusaha (kelihatan) ramah pada orang lain. Tegur sana, tegur sini, tapi coba perhatikan wajahnya, sama sekali tidak ada ketulusan di situ. Dia berbuat demikian hanya untuk memberikan kesan. Dan kadang-kadang, untuk membuat orang yakin betapa berkualitasnya dia,terlontarlah omongan-omongan klise seperti, :".. sejak kecil saya sudah diajarkan supaya seperti padi, makin berisi makin.....bla.. bla.. bla.." Maksudnya mau bilang bahwa dia sudah tinggi tingkatan keinsanan dan ilmunya (boro boro, baca laporan statistik aja ora mudeng). Lah, mana ada orang yang betul-betul punya ilmu padi ngaku-ngaku punya ilmu padi? Terus ungkapan klise lain, ".. sejak kecil kita sudah diajarkan untuk bersikap ramah, apalagi kita orang Indonesia...bla.. bla.. bla.." Pokoknya miriplah dengan ungkapan-ungkapan klise pemimpin Indonesia jadul, atau ungkapan-ungkapan klisenya Rhoma Irama yang hipokrit itu. Lah, kalau mau dicermati, mana ada orang ramah mengaku-ngaku ramah. Apalagi kalau ramahnya terkesan dibuat-buat. Membungkukkan kepala berlebih-lebih seperti mantan penjajah dari Jepun. Jadinya malah mirip ketoprak. Atau boneka kecil yang mengangguk-angguk yang suka ada di dashboard angkutan umum.

Karena seringnya muncul klise-klise seperti inilah, ditambah keramahtamahan yang dibuat-buat, plus banyak omong, rasanya peribahasa klasik tong kosong nyaring bunyinya sungguh terasa pas.

Nah, jenis inilah, yang kepada siapa tadinya kita mungkin menaruh respek, sekarang derajat respeknya itu udah nyungsep ke titik nol. Zero Respect. Alangkah sayangnya.

Mau diapakan ke dua jenis bangsat haram jadah seperti ini? Jangan diapa-apakan, biarkan saja. Hidup ini tidak lengkap tanpa kehadiran orang-orang seperti itu. Lingkungan kerja jadi serasa dinamis dan menantang karenanya. Dalam hati kita menebak-nebak, dagelan apa lagi yang kita hadapi hari ini dari si bangsat itu. Anggaplah ini bagian dari acara menonton film. Dan kedua jenis bangsat haram jadah inilah tokoh utamanya. Kita penontonnya. Dengan demikian, jika biasanya kita keki, sekarang malah terhibur. Lumayan kan, hiburan gratis, di tengah naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok. Yang tadinya kita cemberut karena ulahnya, sekarang kita bisa tersenyum. Mudah-mudahan kitapun jadi awet muda.

Tidak semua hal harus dipandang negatif, karena hal yang jelek sekalipun tetap ada nilai positifnya, termasuklah para bangsat haram jadah tersebut.

Artikel Terkait: Ompong | Hypnerotomachia Poliphili | Jambul | Ada Apa Dengan Kentut?

Main site : www.ferdiansyah.com