22 Agustus 2022

10 Rumah Makan Padang Terenak Di Batam

Rumah makan yang menyediakan masakan Minang ada di mana-mana. Di Batam sendiri rumah makan Padang bermunculan sejak dulu, ada yang masih eksis hingga kini, tetapi lebih banyak lagi yang dulunya legendaris dan terkenal, kini tidak dijumpai lagi. Seingat saya di daerah Nagoya dulu ada RM Mak Ateh, ada RM Salero Bagindo, RM Puti Bungsu, dan RM Minang Raya. Juga ada RM Dua Putri Padang Hutan yang sempat populer namun tutup gara-gara dinilai overpriced, dikomplain melalui media sosial lalu terpaksa tutup. Ini sempat menjadi kasus viral secara nasional pada tahun 2018.
Ini bill RM Dua Putri Padang Hutan yang heboh di media sosial tahun 2018. RM Padang tersebut diberitakan
memberikan pelayanan yang jelek, terlalu mahal. Seorang pelanggan memposting bill tersebut dan merasa ditipu karena harus membayar hingga setengah juta rupiah. Setelah itu banyak warga yang mengeluhkan hal yang sama, hingga RM Padang tersebut akhirnya tutup karena sepi pembeli.

Saya mencoba menyusun 10 Rumah Makan Padang yang masih eksis hingga kini di Batam, berdasarkan keenakan rasanya. Karena selera manusia itu sifatnya relatif dan berbeda-beda, tentu saja daftar ini adalah preferensi saya pribadi, yang bisa saja disetujui, bisa juga tidak. Dan harap diketahui, tentu ada lebih banyak Rumah Makan Padang yang enak di Batam, lebih dari 10 tentunya, tapi di sini saya batasi menjadi 10 besar, dan daftar ini bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika kuliner Batam yang tak pernah berhenti berkembang.

Di sini rumah makan atau restoran Padang yang franchise (waralaba) sengaja tidak saya sertakan, karena harga mereka relatif lebih mahal, misalnya RM dan Restoran Sederhana, dan juga Bundo Kanduang.

1. RM Ranah Minang

Setahu saya di Batam ada 3 tempat memakai nama RM Ranah Minang, ketiganya memiliki ciri khas yang sama, yaitu sambal hijau mentah, sambal merah yang lezat, dan adanya gulai gajebo. Lokasinya ada di Sekupang, di ujung jalan melewati Terminal Ferry Internasional, juga ada di ruko samping Hotel Harmoni One Batam Center, dan juga ada di sudut persimpangan yang sibuk antara KDA dan RS Santa Elisabeth Batam Kota (Jalan M. Thahir). Ciri khasnya adalah nasinya pulen, selain sambal hijau mentah juga ada ada sambal petai dan samba buruak-buruak (campuran sambel dengan ikan asin dan lain-lain), sering ada gulai gajebo yang langka, dan ayam kampung. Soal harga juga terjangkau. Dan mereka menyediakan teh goyang gratis untuk pelanggan. Teh goyang adalah teh hangat sedikit manis yang banyak disediakan di Rumah Makan Padang.

Tempat parkir tersedia cukup luas dan gratis, kecuali di cabang yang di sebelah Hotel Harmoni One. 

2. RM Ampera Densiko

Juga memiliki 3 cabang, dengan cabang utama ada di daerah Bengkong Indah di Jalan Laksamana Bintan. Cabang lainnya ada di dekat Pasar Cik Puan, dan di daerah Bengkong Baru. Yang di Bengkong Indah, bersebelahan dengan toserba Indomaret, adalah yang terbesar. Pada jam makan siang, agak susah untuk mendapatkan kursi di sini, dan pelayan juga sibuk melayani pembeli yang memesan bungkusan. Namun jika ingin makan di tempat, pelanggan sebaiknya langsung duduk di kursi dan meja yang kosong, menunggu pelayan menghampiri dan mencatat pesanan. Pembeli tinggal menyebutkan lauk yang diminta, lalu pelayan akan menyediakan sepiring nasi, sepiring kecil sayur, sepiring kecil sambal hijau, dan sepiring lauk yang dipesan. Teh goyangnya yang gratis bisa dipesan, hangat atau dingin dengan es batu. Nasinya pulen tidak keras, dan sambal hijau diberikan melimpah. 

Yang memudahkan, terdapat daftar harga makanan berbentuk poster, seingat saya nasi dengan lauk rendang sapi adalah Rp 19,000,- , nasi dengan cincang adalah Rp21,000.- 

Parkir cukup dan tidak dipungut biaya.

3. RM Pangek Ombilin
Pada jam makan siang, rumah makan yang terletak di Jalan Laksamana Bintan Sei Panas ini sangat ramai. Tidak ada tempat parkir khusus, jadi pelanggan hanya bisa parkir di tepi jalan, bahkan sampai ke seberang jalan. Dan parkirnya tentu berbayar.  Pangek adalah teknik memasak ala Minang dan Melayu, yang kuahnya lebih kental daripada gulai, dengan cara mengentalkan bahan bumbu dan santan terlebih dahulu sebelum bahan utama dimasukkan.

Signature dish nya tentu saja pangek itu tadi, yakni pangek ikan mas ataupun ikan nila. Selain itu juga terdapat bakwan udang, ikan bakar dan belut. Harga standar dan terjangkau, pelayanan cepat dan ramah. Pada hari-hari tertentu ada pengamen tradisional yang diundang pemilik rumah makan untuk menghibur pelanggan. Harus diperhatikan bahwa RM Pangek Ombilin tidak buka sampai malam, di atas jam 4 sore biasanya mereka sudah tutup. Mereka berencana membuka cabang di pertigaan  Bengkong Ratu dan Bengkong Dalam.

4. RM Pusako Lintau
Jika Anda kebetulan berada di daerah Batu Besar ataupun Nongsa, Anda bisa menemukan rumah makan khas Lintau ini di Jalan Hang Jebat, sebelum arah Polda Kepri. Lokasinya berada di ruko sudut di tepi sungai kecil. Yang jadi andalan di sini adalah gurame bakar dan sambal jengkol, juga dendeng bakarnya. Kalau siang selalu penuh, dan jam 2 siang beberapa menu andalan sudah habis.

5. RM Goyang Lidah.
Rumah Makan Goyang Lidah relatif baru, namun sudah lumayan terkenal. Berlokasi di Greenland, di sebelah perumahan Citra Batam, rumah makan ini terletak di sudut, dengan parkir berbayar tersedia. Pilihan lauk cukup banyak, dan mereka menyediakan gratis teh goyang. Telur dadarnya enak, demikian juga gulai babatnya lumayan lembut. Harga standar dan terjangkau.

6. RM Family Raya
Di antara deretan rumah makan yang ada di sekitaran KDA Batam Center, RM Family Raya berukuran sedang, dengan nama yang tidak meyakinkan. Namun masakan Padangnya cukup lezat, dan sedikit dipengaruhi masakan negeri Kapau. Ini karena di rumah makan ini selalu tersedia sayur gulai kapau, dan juga gulai tambunsu. Sayur kapau terdiri atas kol, kacang panjang, nangka dan rebung. Gulai tambunsu adalah usus yang diisi dengan telur yang dicampur santan. Selain itu juga ada gulai kakap, gulai kepala kakap, dan tunjang, serta sambal lado tanak. Harga di sini relatif terjangkau, dan kondisi rumah makannya juga sangat bersih. Kalau kita beli bungkus, biasanya diselipkan sedikit sambal buruak-buruak. 

7. RM Arai Pinang
Ini termasuk rumah makan yang sudah lama eksis di Batam. Berlokasi di Kompleks Abadi Tama, Seraya, bersebelahan dengan Apotik Kimia Farma dan tepat di seberang Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Ciri khasnya adalah ayam pop, soto padang, dan lain-lain. Mereka juga menyediakan ruangan berAC, parkir gratis dan teh goyang. Harga cukup murah namun masakan cukup lezat.

8. RM Bareh Solok
Kalau Anda sedang berada di seputaran Jalan Trans Barelang, ada rumah makan Padang kecil yang terletak sebelum Jembatan ke tiga. Rumah Makan di pinggir sungai ini bersifat semi terbuka dan walaupun kecil masakannya cukup lezat. Menunya selain rendang dan menu rumah makan padang lainnya, juga menyediakan lauk ikan yang cukup bervariasi. Ikan-ikannya sebagian besar berasal dari nelayan setempat, jadi terkadang kita mendapatkan menu ikan-ikan karang yang biasanya jarang ada di rumah makan Padang. 

Pulang berenang dari pantai di seputaran Trans Barelang, sudah sangat cocok jika lapar mampir makan di sini. Parkir tentu saja gratis. 

9. RM Budi Mulia
Ini salah satu dari sedikit rumah makan Padang yang buka 24 jam. Jadi jika Anda sedang begadang atau ngalong, dan tiba-tiba perut lapar, di sinilah tempatnya. Berlokasi di Kompleks Ruko Villa Marina Blok B No. 12 A, tidak jauh dari Hotel Utama dan Nagoya Food Court, Anda bisa pastikan lauknya masih banyak tersedia meskipun Anda datang jam 3 dinihari. Yang bikin nagih di sini adalah paduan gulai ayam dan gulai ikan, dengan nasi yang lumayan pulen dan tidak keras. Pelayannya juga ramah. Parkir kalau malam gratis. 

10. RM Berjaya. 
Rumah Makan Padang yang murah meriah dan ada banyak cabang. Ada di Jodoh tak jauh dari Pasar Toss 3000, ada di daerah Batu Batam di belakang RS Awal Bros, ada di daerah Patam, Sekupang, ada di daerah Tanjung Uncang juga, Ciri khasnya adalah Rumah Makan Padang ini menyediakan menu standar serba Rp10,000. Namun lauk-lauk tertentu seperti kikil, rendang, cincang dan lain-lain diharga antara Rp12,000 hingga Rp15,000. Meskipun murah meriah, pilihan lauk-lauknya sangat lengkap, dan rasanya juga lumayan enak. Pelayannya kebanyakan wanita, berbeda dengan rumah makan Padang lain yang kebanyakan pelayannya adalah pria. Mereka memakai baju seragam khas. Tadinya saya pikir mereka ini sejenis franchise atau waralaba, ternyata mereka hanya memiliki banyak cabang, hingga gampang kita jumpai di mana-mana. 

Demikian 10 Rumah Makan Padang yang menurut referensi saya terenak di Batam. Seperti yang saya sebutkan tadi, daftar ini sifatnya adalah preferensi pribadi, dan tentu saja berbeda dengan preferensi pembaca. Namun bila Anda ingin mengusulkan rumah makan padang yang layak saya coba untuk dimasukkan ke daftar selanjutnya, silakan beri saya input melalui kolom komentar di bawah ini.

Selain itu buat Anda yang laper tengah malam, dan kebetulan pengen melakukan penyelewengan terhadap diet Anda, ada beberapa rumah makan Padang yang buka 24 jam atau nyaris 24 jam di Batam. Yaitu: RM Budi Mulia yang saya tulis di atas, RM Berjaya cabang Jodoh (dekat pasar Toss 3000), RM Ayam Batokok dan RM Cinta Minang, keduanya di seberang RS Budi Kemuliaan Batam.

Tulisan Terkait : Pembunuhan Atas Mus Musculus | Willy | Jambul | The Year of Living Dangerously

12 Agustus 2022

Backmasking


Dalam tulisan tentang kisah absurd yang surealis Radio, saya menceritakan sekilas tentang adanya fenomena backmasking. Yaitu sebuah teknik perekaman suara di mana sebuah pesan tersembunyi direkam ke dalam sebuah lagu dan pesan itu baru bisa terdengar jika lagu tersebut diputar secara terbalik.

Saya menyebutkan lagunya Led Zeppelin, Stairway to Heaven sebagai salah satu lagu yang mengandung backmasking. Lagu tersebut dirilis pada tahun 1971, di mana pada tahun 1970-an orang-orang masih banyak yang menggunakan piringan hitam sebagai media penyimpan dan pemutar lagu. Nah, piringan hitam ini berputar searah jarum jam untuk playback yang normal. Namun kita bisa memutarnya berlawanan arah jarum jam secara manual, dengan demikian lagu yang dimainkan akan terdengar terbalik. Dan ini kalimat yang bisa kita dengar jika kita memainkan lagu Stairway to Heaven secara terbalik:

Pada lirik "If there's a bustle in your hedgerow, don't be alarmed now..."  jika diputar terbalik akan terdengar referensi tentang setan, yang berbunyi kira-kira:



Sebenarnya masih banyak lagi lagu-lagu yang mengandung backmasking. Justru pelopornya adalah band legendaris paling populer di dunia, The Beatles. John Lennon menyelipkan sebuah pesan tersembunyi dalam lagu Rain di album Revolver yang dirilis tahun 1966. Pesan yang terselip adalah dalam kalimat “...when the rain comes, they run and hide their heads.”

Eminem, rapper kulit putih itu juga menggunakan backmasking di lagunya yang berjudul My Name Is yang dirilis tahun 1999. "Why? / My Name is / What? / My Name is / Who? / My Name is," adalah penggalan lirik yang diputar secara normal. Ternyata ketika diputar secara mundur, kata-kata tersebut berubah yang semula pertanyaan menjadi sebuah jawaban. "It is Slim / It's Eminem/ It's Eminem/ It's Eminem."

Tentu hampir semua orang kenal dengan band The Eagles. Mereka adalah pelantun tembang hits berjudul Hotel California, band asal Los Angeles, California. Lagu yang dirilis pada tahun 1977 ini pernah merajai puncak di chart Billboard Hot 100. Liriknya berkisah seputar perjalanan surealis dari para pelancong ke sebuah hotel mewah. Para pelancong ini digambarkan sangat menikmati tempat yang diinapinya dengan menggambarkan kata 'lovely place' dan 'lovely face'. Namun semua kenyamanan berubah ketika mereka tak diperbolehkan untuk keluar dari tempat yang nyaman ini. Ketika dimainkan secara reverse lewat pemutar piringan hitam ternyata lagu ini adalah salah satu karya yang mempunyai pesan rahasia, berbunyi sebagai berikut: "Yeah satan had us. How he organized his own religion. Eh, would he know she should? Oh man, it was delicious!" dan "Yeah satan hear this! He had me believe in him."

Band asal Inggris, Pink Floyd juga menyelipkan backmasking dalam lagunya yang berjudul Empty Space yang dirilis tahun 1979. David Gilmore dan rekan seband di Pink Floyd menyelipkan pesan ringan sebagai berikut: "Congratulations. You have just discovered the secret message. Please send your answer to Old Pink, care of the Funny Farm, Chalfont... Roger! Carolyne's on the phone! Okay,"

Jadi mengapa para musisi tersebut menggunakan backmasking, dan apa tujuannya?

Metode ini sangat populer di kalangan artis Amerika untuk memberikan suatu pesan secara tidak langsung dalam lagunya. Unsur pembentukan kata secara mundur ini dapat didukung dari lirik yang telah ada ataupun dari musik lagu tersebut. Kata-kata yang terbentuk ini tidak selalu jelas, beberapa terdengar berbisik, sangat pelan, sedikit ribut sehingga perlu mendengarkannya beberapa kali dengan seksama. Namun, tidak sedikit pula yang terdengar sangat jelas sehingga dengan mendengarnya seperti biasa sudah bisa ditangkap. 

Dengan tercetusnya konsep backmasking pada lagu band terkenal ini, tidak sedikit band-band terkenal berikutnya menggunakan metode ini untuk berbagai tujuan. Backmaskingpun menjamur di dunia musik Amerika. Seringkali, metode ini digunakan untuk menyembunyikan pesan yang tidak baik di kalangan musik rock, seringkali untuk mempromosikan satanisme, dan menyebutkan kata-kata kotor. Seperti beberapa lagu yang dibawakan oleh Styx, Queen, Judas Priest, Pink Floyd, Slayer, dan masih banyak lagi. Karena banyaknya penyanyi yang menyelipkan pesannya dengan cara ini, banyak dari penyiar-penyiar radio Amerika pada saat itu yang mecoba-mencoba untuk memutar lagu secara terbalik dan tidak jarang dari lagu-lagi tersebut memang mengandung pesan terselubung. Dengan perkembangan teknologi yang kian maju, keberadaan pesan terbalik ini menjadi sulit untuk diidentifikasi. Pemutaran terbalik kebanyakan menggunakan sumber suara dari perekaman magnetic sound tape dan piringan hitam yang merupakan teknologi yang tidak digunakan lagi pada jaman sekarang. Perekaman di CD membuat hal ini menjadi sulit untuk dilakukan. Hal ini jugalah yang menyebabkan pesan terbalik tidak terdeteksi. Namun, hal ini tidak berarti backmasking juga berhenti dilakukan oleh si pembuat.

Band masa kini, sejauh yang saya tahu yang menggunakan metode ini adalah Linkin Park dan Avril Lavigne. Pasti masih banyak lagi atau bahkan bertambah banyak penggunaan metode ini dalam berbagai jenis genre musik, band apapun dengan tujuan yang berlainan pula.

Ferdot 12082022.


Artikel Terkait : Radio | Radio 2 | Atheis | Traveling Adalah Hak Segala Bangsa | Boya 


06 Januari 2019

Batam, Salah Satu Destinasi Wisata Selam Terbaik


Sekitar enam tahun yang lalu, saya telah menulis tentang snorkeling di Pulau Hantu, dan menyebutkan perairan di Batam, terutama di daerah selatan seperti Pulau Abang dan sekitarnya, memiliki potensi yang besar untuk menjadi destinasi wisata selam bertaraf internasional. Di akhir tulisan tersebut saya menyebutkan bahwa ke depannya akan banyak penyelam yang datang ke perairan ini, dan Batam akan menjadi salah satu pusat wisata bahari yang terkenal, selain Bali, Bunaken, Sabang dan Raja Ampat.

Pulau Hantu yang saya sebutkan di atas terletak di sekitaran Pulau Abang. Wisata snorkeling dan diving di area tersebut awalnya di kelola oleh tokoh wisata setempat, yaitu Ledi Seman, yang dengan segala keterbatasan yang ada berusaha untuk menjadikan Pulau Abang dan sekitarnya sebagai tujuan wisata bahari berbasis penduduk tempatan. Maksudnya adalah, Ledi Seman berusaha untuk menggali potensi wisata bahari sekaligus meningkatkan taraf perekonomian penduduk yang tinggal di pulau-pulau di sekitar Pulau Abang.

Jadi pada waktu itu sudah banyak penyelam manca negara yang datang ke Pulau Abang, menyewa perahu dari nelayan setempat, dan diantar menyelam ke lokasi tertentu. Mereka bebas menyelam di perairan tersebut tanpa ada pihak yang berkompeten yang melayani dan mengawasi.

Ternyata perkembangan dunia selam di Batam sejak itu cukup pesat. Beberapa penyelam dari Singapore dan Malaysia yang selama ini menyelam di dive site terdekat, yaitu Pulau Tioman, Malaysia, berusaha mencari alternatif lain. Terutama karena pada bulan-bulan tertentu perairan di Pulau Tioman tidak mendukung, sementara keinginan menyelam terkadang tidak ingin terkendala oleh bulan-bulan di mana cuaca tidak bersahabat. Singapore sendiri memiliki banyak dive company dengan penyelam bersertifikat yang antusias yang semakin banyak dan bertambah setiap tahunnya.

Secara domestik, orang-orang Indonesia yang  mencari pilihan lain selain ke Bali dan kawasan Indonesia timur lainnya, tentu saja mulai melirik Batam. Secara geografis, Batam lebih dekat ke Jakarta daripada Sabang, beberapa penyelam Jakarta yang selama ini menyelam di Kepulauan Seribu juga mulai menjadikan Batam sebagai alternatif.

Jadi kenapa Batam? Karena Batam gampang diakses, baik dari luar negeri seperti Singapore dan Malaysia, juga dari kota-kota lain di Indonesia. Plus, penyelaman di Batam tidak begitu terpengaruh dengan kondisi pasang surut. Anda bisa menyelam kapan saja.

Adalah Max Dean, kelahiran Lousiana, Amerika Serikat yang sudah mengenal area Singapore dan Batam sejak tahun 2005, yang mendirikan dive center resmi pertama di Batam. Max Dean sendiri merupakan Master Scuba Trainer, dan mendapat lisensi dive center PADI (Professional Association of Diving Instructors). Berkantor di kawasan Mega Legenda Batam Center, Max Dive Center yang secara resmi berdiri sejak Desember 2012, telah menelurkan banyak penyelam berlisensi PADI. Dan hingga saat ini, Max Dive Center menjadi satu-satunya dive center resmi di Batam. Di dive center tersebut kita bisa mendaftar untuk mengikuti kursus selam bersertifikat. Max Dice Center melayani kursus untuk mendapatkan spesifikasi Open Water Diver, Advance Open Water Diver, Emergency First Response, dan Dive Master. Belakangan Max Dive Center juga melayani lisensi dari RAID (Rebreather Association of International Divers).

Ada beberapa dive center minor yang juga beroperasi, dan beberapa dive resort yang juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan para penyelam. Sebutlah misalnya resort Pulau Labun, Pulau Petong dan yang pemain baru yang telah menyulap Pulau Ranoh yang tadinya menjadi bagian dari wisata bahari Pulau Abang. Namun secara resmi para operator minor ini hanya melayani snorkeling dan day trip saja.

Sebagai pionir, Max Dive Center beserta kru nya telah banyak mengeksplorasi dive site yang ada di sekitar Pulau Batam. Banyak ditemukan dive site yang baru, yang tentu saja diregister lokasi lintang dan bujurnya untuk ditandai. Beberapa dive site yang ditemukan yaitu di seputaran Pulau Nguan, yaitu Pulau Samak, Tanjung Gemuk, Pokok Bara. Di area Pulau Petong, dive site yang bisa dieksplorasi adalah Pulau Mentigi, Pulau Cik Dolah, Pulau Petong Barat, dan Pulau Jong. Sementara di area Pulau Abang sendiri, selain Pulau Dedap dan Pulau Pengalap, juga ditemukan di Pulau Sepintu, Pulau Meriam, Pulau Kalo, Malang Siakong yang memiliki wall dive dengan kedalaman 37 meter, juga Pulau Air Taung, Pasir Tumpang, Pulau Ujung Baran, Pulau Coy, Pulau Udik, Pulau Sekate, Air Siaga. Wreck muck dive bisa dilakukan di Sungai Daget.

Mereka membeli sebuah kapal yang kemudian didesain secara khusus untuk membawa penyelam-penyelam dan peralatan selam ke lokasi dive site, diberi nama KM Asad. Dengan kesiapan dan perlengkapan seperti itu, kebutuhan dan sistem logistik para penyelam dapat dipenuhi dengan nyaman. Max Dive Center juga menjadi pusat pelatihan resmi (LPK) yang ditunjuk instansi pemerintah, yaitu Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pariwisata.

Untuk kemudahan dan kenyamanan penyelam, dive trip nya digabung menjadi sebuah paket, yang biasanya termasuk transportasi, makan siang, coffee break, dan menginap. Dan nyatanya, harga yang diberikan lebih baik daripada jika para penyelam manca negara ini menyelam di Tioman ataupun di Koh Tao.

Dengan ratusan pulau dan begitu banyaknya dive site yang telah ditemukan dan dieskplorasi, potensi Batam sebagai destinasi selam sangat sangat besar. Dengan fasilitas dan kemampuan logistik yang sudah sangat memadai, event-event internasional sehubungan dengan wisata bahari termasuk penyelaman sudah tentu bisa dilakukan, di mana Batam juga memiliki international airportt, infrastruktur jalan yang baik, dan hotel-hotel berbintang berskala internasional. 

Juga tak menutup kemungkinan berdirinya dive center-dive center resmi yang baru, yang tentu saja dapat memperluas eksplorasi dan pada pada akhirnya ikut menjaga kelestarian terumbu karang dan biota laut yang ada di Pulau Batam dan sekitarnya. [ferdot]




Artikel terkait:




19 Agustus 2018

Perjalanan Ke Pemukiman Suku Baduy Dalam

Tepat tanggal 17 Agustus kemarin, saya dan teman-teman mengunjungi pemukiman Suku Baduy Dalam, antara lain untuk melihat adakah relevansinya 73 tahun Indonesia merdeka dengan kehidupan sehari-hari mereka.


Suku Baduy Dalam, atau disebut juga Urang Kanekes, adalah suku pedalaman Banten yang paling misterius dan paling terisolir di Pulau Jawa. Misterius karena mereka menolak teknologi, dan terisolir karena tidak ada akses kendaraan ke perkampungan mereka, baik roda dua apalagi roda empat. Mereka tinggal di pedalaman di tengah pegunungan Kendeng di pelosok Banten. Untuk mencapainya, saya dan teman-teman harus berjalan kaki menempuh perjalanan 4.5 jam, menyusuri jalur pencari kayu bakar dari pemukiman Baduy Luar di Desa Ciboleger. Perjalanannya benar-benar menguras fisik dan menguji mental, karena medannya tidak mudah, penuh tanjakan curam dengan kemiringan hingga 45 derajat, apalagi di usia yang sudah tidak "tua" lagi seperti saya,  dan di saat tenaga kita sudah terkuras dan mengira kita sudah di puncak dan akan menemui turunan, ternyata kita bahkan belum mencapai separuh perjalanan. Tanjakannya termasuk berbahaya dan kalau tidak berhati-hati bisa tergelincir, ke bawah ataupun ke jurang di samping.


Beruntung kami ditemani guide yang merupakan penduduk asli Suku Baduy Dalam, bernami Sarid, panggilannya Agus. Dan satu lagi bernama Lidong, yang tugasnya membantu membawakan barang-barang buat yang kecapean membawa tas dan ransel. Mereka bertelanjang kaki dan dengan lincah menapaki jalan berbatu-batu licin dan tajam, tanpa kelihatan cape, sementara napas kami sudah ngos-ngosan.

Jadi untuk bisa mencapai Desa Cibeo, salah satu dari 3 desa pemukiman Suku Baduy Dalam ini, stamina harus fit dan ada baiknya fisik memang dipersiapkan jauh-jauh hari. Karena ini perjalanan bak Ninja Hattori: "mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang."

Namun tentu saja pemandangannya luar biasa indah, di kiri kanan lembah, sungai dan ngarai menjadi hiburan tersendiri yang bikin kita tetap semangat. Saat mencapai Desa Cibeo, ditandai dengan adanya deretan lumbung-lumbung padi yang berjajar rapi dan cantik, hari sudah mulai gelap. Kami beristirahat di rumah orantuanya Agus, bernama Pak Asmin dan Ibu Sarah. Ini keluarga asli Baduy Dalam, namun sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Rumah Suku Baduy Dalam terbuat dari bambu dan kayu. Di semua struktur yang dibangun, baik rumah, jembatan, saung maupun lumbung tidak menggunakan paku, hanya tali dari ijuk atau sabut kelapa dan pasak. Mereka juga tidak melubangi tanah, jadi tiang rumah tidak menembus tanah, tapi dialas lagi dengan lempengan batu. Mirip sistem knock down, gampang dibongkar pasang namun tetap kokoh. Rombongan kami 14 orang dan rumah keluarga Pak Asmin cukup besar untuk menampung kami semua.


Nah, karena orang Baduy Dalam menolak teknologi, di sini waktu seakan berhenti. Kita serasa hidup di abad 17, tidak ada kendaraan, tidak ada listrik, tidak ada barang elektronik. Mirip dengan suku Amish di Amerika, penggunaan teknologi merupakan pelanggaran berat dengan resiko diusir dari pemukiman. Jadi sebelum masuk ke perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam kita sudah diwanti-wanti untuk tidak mengeluarkan handphone dan kamera dan barang elektronik lain, untuk menghormati adat istiadat dan pilihan hidup orang Baduy Dalam.

Desa Cibeo sendiri merupakan desa yang bersih dan teratur, kehidupan penduduknya sangat erat dengan alam, mereka berusaha untuk tidak mengotori bumi, menjaga agar tanah dan air tidak tercemar. Jadi penggunaan detergen, sabun mandi, pasta gigi dilarang, jadi kami mandi di sungai yang jernih secukupnya tanpa sabun dan bahan kimia. Walaupun mereka tidak memakai sabun, tidak ada yang bau badan, kulit mereka bersih dan terawat, posturnya langsing dan tegap, sama sekali tidak ada yang kegemukan, semua langsing-langsing. Ini yang bikin saya ngiri. Pemukiman Suku Baduy Dalam terdiri atas 3 desa utama: Desa Cibeo tempat kami berkunjung, Desa Cikeusik dan Desa Cikertawana.

Sampah tidak boleh menyentuh tanah, agar racun dari plastik dan bahan kimia tidak merembes ke dalam tanah. Mereka menyediakan tempat sampah dari bambu dengan posisi cukup tinggi dengan permukaan tanah. Dalam bercocok tanam, penggunaan pupuk tidak diperbolehkan, sehingga kita yakin 100% bahwa hasil bumi dari Kampung Baduy Dalam merupakan produk yang 100% organik.

Semua rumah bentuk dan besarnya sama, jadi kita tidak bisa mengukur kekayaan di sana, jadi tidak ada tetangga sirik dan lain-lain. Kepemilikan tanah tidak ada, semua berhak dan bebas mengolah ladang dan sawah kering, yang di sana disebut huma. Ini seperti masyarakat sosialis, semua orang sama kaya atau sama miskin, selalu bergotong royong dan hidup dalam kesederhanaan.

Secara adat, mereka tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan apapun kalau bepergian, dan tidak menggunakan alas kaki. Jadi kalau ada keperluan misalnya mengunjungi kerabat di Jakarta atau di tempat lain, mereka akan pergi berjalan kaki tanpa alas kaki menempuh ratusan kilometer, bahkan sampai ke Bandung. Bu Sarah bercerita, kakak laki-lakinya pernah ke Bandung dan karena kelelahan akhirnya menumpang kendaraan. Pada saat ituw, kepala suku Baduy yang disebut Pu'un langsung mendapat penglihatan soal pelanggaran tersebut, dan berhari-hari kemudian ketika kakaknya pulang ke desa, dia langsung diusir dari pemukiman.

Pu'un ini adalah orang yang memiliki kemampuan luar biasa, Tugasnya menentukan masa tanam dan panen, memutuskan hukum adat bagi yang melanggar, namun juga mengobati yang sakit. Pu'un jugalah yang menentukan siapa-siapa yang melakukan pelanggaran berat untuk kemudian diusir.

Orang-orang yang terusir inilah yang nantinya disebut Suku Baduy Luar, ditandai dengan ikat kepala biru. Orang-orang Suku Baduy Dalam memakai ikat kepala putih. Mereka masih berinteraksi satu sama lain karena masih ada ikatan kekerabatan, bahkan hampir setiap hari juga orang Suku Baduy Dalam mendatangi Desa Ciboleger untuk menemui dan memandu rombongan pendatang seperti kami. Berbeda dengan Suku Baduy Dalam, orang Suku Baduy Luar lebih terbuka dan mulai tidak menolak teknologi, karena itulah penggunaan kamera dan handphone di pemukiman Baduy Luar bisa dilakukan.

Peralatan kebanyakan terbuat dari bambu dan kayu, seng dan tanah liat. Logam dipakai sebagai senjata, sejenis keris atau badik. Jadi kita minum dari gelas bambu, makan makanan yang dimasak di tungku tanah liat dengan kayu bakar. Tuan rumah memasakkan ayam yang merupakan makanan mewah di sana untuk kami semua, dengan sayur kol dan wortel yang direbus, nasi dan sambal. Sederhana namun enak karena dimasak menggunakan kayu bakar.

Saat malam semuanya gelap gulita, tidak ada penerangan yang cukup, hanya lilin dan obor. Sebagai tamu, kami diperkenankan menggunakan senter terutama untuk ke sungai. Senternya harus diarahkan ke tanah, tidak boleh ke depan karena takut membuat silau penduduk asli yang terbiasa dengan gelapnya malam. Sukurnya langit bersinar cerah tanpa awan, dan bintang-bintang terlihat jelas, bahkan samar-samar kami bisa melihat sebentuk sabuk Bimasakti, juga beberapa bintang jatuh. Duduk-duduk di teras rumah, kami didekati beberapa kunang-kunang. Kapan terakhir kali kita melihat kunang-kunang? Sudah lama sekali, itupun waktu saya masih kecil.


Makan malamnya ibarat candle light dinner, karena cuma diterangi lilin. Beberapa teman menghidupkan senter dengan hati-hati agar tidak terlalu terang. Setelah makan malam kami duduk melingkar di dalam rumah, berbincang-bincang dengan Pak Asmin dan Bu Sarah. Beberapa pengetahuan yang kami dapatkan tentang Suku Baduy saat berbincang-bincang tersebut antara lain:


  • Cita-cita yang sederhana. Orangtua suku Baduy Dalam tidak memiliki pengharapan muluk bagi anak-anaknya, mereka hanya ingin anaknya bisa "membantu orangtua di ladang."
  • Kebahagiaan yang sederhana. Tidak banyak aktifitas dan hiburan di malam hari karena keterbatasan cahaya. Ada alat musik kecapi untuk menghibur mereka, dan dengan itu mereka sudah bahagia dan terhibur.
  • Memanfaatkan alam untuk kehidupan sehari-hari. Gelas, alas makan, dan tempat air terbuat dari bambu. Tali dibuat dari ijuk, dan mereka memintal dan menenun sendiri untuk pakaian mereka. Para wanitanya menggunakan baju putih dan laki-lakinya putih dan hitam, semua dengan ikat kepala putih.
  • Perjodohan. Seorang gadis mulai dari 14 tahun sudah dijodohkan oleh orangtua mereka. Jadi Si Agus atau Sarid yang ganteng sudah dijodohkan. Pernikahan paling awal adalah di usia 16 tahun. Tidak ada perceraian, karena setelah menikah itu hingga maut memisahkan, "till dead do as apart."
  • Warga Baduy Dalam menjalankan tradisi Kawalu. Kawalu adalah puasa yang dijalankan oleh warga Baduy Dalam yang dirayakan tiga kali selama tiga bulan. Pada puasa ini warga Baduy Dalam berdoa kepada Tuhan agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera. Pada saat tradisi Kawalu dijalankan, para pengunjung dilarang masuk ke Baduy Dalam. Apabila ada kepentingan, biasanya pengunjung hanya diperbolehkan berkunjung sampai Baduy Luar namun tidak diperbolehkan menginap.
  • Ayam merupakan makanan mewah. Walaupun saya melihat banyak ayam berkeliaran, Suku Baduy hanya makan ayam sebulan sekali. Jadi saat kami disuguhi ayam untuk makan malam, percayalah, itu adalah makanan termewah yang bisa kami dapat.
  • Gemar bergotong royong. Pak Asmin bercerita, karena kehidupan mereka termasuk nomaden, berpindah-pindah, mereka harus bergotong royong memindahkan atau membangun rumah. Dia bercerita bahwa 30 rumah dikerjakan hanya dalam waktu 3 hari secara bergotong royong.
  • Kekayaan tidak dilihat dari bentuk rumah. Tidak seperti orang yang tinggal di kota pada umumnya yang memiliki rumah besar selalu identik dengan orang kaya, berpangkat tinggi, dan dipandang banyak orang. Lain halnya dengan Suku Baduy Dalam yang bentuk rumahnya hampir serupa satu sama lainnya. Mungkin, jika ini bisa dianggap ukuran, yang membedakan status kekayaan mereka adalah tembikar yang dibuat dari kuningan yang disimpan di dalam rumah. Semakin banyak tembikar yang disimpan, menandakan status keluarga tersebut semakin tinggi dan dipandang orang.
  • Tidak ada kriminalitas. Waktu ditanya apa hukuman adat apa yang dibisa ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat kriminal atau kejahatan, seperti mencuri, merampok, perkosa, pembunuhan, Bu Sarah menegaskan tidak pernah ada kejadian seperti itu. 
  • Ke mana-mana berjalan kaki. Jika mereka mengunjungi kerabat ataupun untuk barter ataupun menjual hasil kerajinan penduduk Baduy Dalam, mereka akan berjalan kaki tanpa alas kaki ke mana-mana, termasuk ke Jakarta, Bandung, Bogor dan Bekasi. Mereka tidak bisa keluar pulau Jawa karena penggunaan kapal tidak dibenarkan.
  • Kepercayaan yang mereka anut adalah Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam.
  • Mereka tidak bersekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat istiadat mereka.
  • Pintu rumah harus menghadap ke Utara atau Selatan, bukan Timur atau Barat, kecuali rumah sang Pu'un.
  • Moto hidup mereka: "Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung."
    (Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung), yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tidak merubah kontur tanah, rumah tidak menusuk bumi, dan perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Sebelumnya saya mendapat kesan bahwa mereka adalah suku yang menyeramkan, yang gampang tersinggung dankalau kita pergi ke sana akan beresiko dengan kemungkinan kita tidak akan bisa kembali ke tempat asal kita. Ternyata mereka sangat ramah, bisa bercanda, dan sebagian kecil bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Orang luar tidak akan pernah menjadi bagian dari suku Baduy Dalam, baik melalui pernikahan ataupun pengangkatan. Dan kita cuma diijinkan untuk menginap semalam di sana,

Saya ingin membagikan tips buat teman-teman yang ingin ke sana:
  1. Persiapkan fisik, karena medannya tidak gampang, dan butuh antara 4 hingga 5 jam berjalan kaki. Pulangnya juga sama.
  2. Peralatan. Bawa sepatu gunung yang nyaman dengan kaos kaki tebal, karena tanjakan dan turunan yang terjal dan licin. Juga jaket karena malam di atas jam 10 sangat dingin. Bawa juga senter dan kantung plastik. 
  3. Bawa oleh-oleh. Ini gesture yang baik untuk menghargai tuan rumah. Saya sendiri membawa dua bungkus isi 5 Indomie aneka rasa dalam kantung kain cantik edisi Asian Games, dan saya bercerita tentang adanya event Asian Games kepada mereka.
  4. Taati dan hormati aturan setempat. Tidak dibenarkan penggunaan barang elektronik seperti handphone, kamera, radio, alat musik elektronik dan sebagainya. Tidak boleh menggunakan sabun, pasta gigi dan detergen. Pelanggaran terhadap aturan ini, satu rombongan bisa diusir keluar saat itu juga.
  5. Tidak meninggalkan sampah. Bawa kantung plastik untuk membawa pulang sampah-sampah kita sendiri. Sampah ini bisa dibuang di tempat sampah pada saat kembali ke Rangkasbitung ataupun desa luar terdekat.

Nah, untuk menjawab rasa ingin tahu apakah ada relevansinya 73 tahun kemerdekaan Indonesia dengan kehidupan sehari-hari mereka, secara umum tidak ada karena mereka sendiri memang menolak teknologi. Menurut Bu Sarah sudah beberapa kali utusan pemerintah datang untuk menawarkan listrik tetapi selalu ditolak. Namun secara umum mereka mengakui adanya pemerintahan nasional yang dipimpin oleh Presiden RI. Pu'un dan tetua adat Baduy Dalam pernah diundang berkunjung ke Istana Negara.

Jadi hingga saat ini Pemerintah lebih memilih tidak mengusik mereka, baik urusan pembangunan maupun agama, namun menjadikan mereka sebagai salah satu destinasi wisata yang unik, menarik dan menantang. Barter sudah mulai ditinggalkan namun masih bisa dilakukan di lingkungan mereka. Sebagian sudah tau nilai uang akibat interaksi dengan pihak luar. Saat ini mereka menggunakan uang untuk mencukupkan kebutuhan mereka, seperti membeli ikan, beras (sebagian penggunaan padi di lumbung untuk upacara), dan terkadang benang untuk dijadikan bahan pakaian.

Besoknya, setelah sarapan kami dengan berat meninggalkan desa Cibeo yang tenang, bersih, tanpa polusi, dan damai tersebut. Perjalanan kembali melewati rute yang berbeda yang berakhir di Desa Cakuem, namun tidak kalah menantangnya. Dalam perjalanan, di wilayah pemukinan Baduy Luar kami menemukan jembatan akar, yang terbuat dari dua akar pohon yang saling jalin menjalin dan diperkuat dengan ikatan bambu. Di bawahnya mengalir sungai yang jernih dan segar, tempat kami melepas lelah selama 1 jam.

Perjalanan dilanjutkan hingga kami mencapai Desa Cakuem, lalu menunggu jemputan untuk membawa kami kembali ke Kota Rangkasbitung. Dengan demikian perjalanan ini selesai. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas pengalaman dan perjalanan ini kepada semua anggota rombongan yang selama 24 jam terakhir bersama-sama menempuh perjalanan, saling menyemangati, dan saling berbagi cerita. Terima kasih buat Mas Aswin, Yoga Kitink, Egy, Tina Tampubolon, Nanda Ginting, Ryan Martin dan Meta, Ardi, Indah, Ita, Tiwi, Billy, dan tentu saja pihak Rani Journey, juga Pak Asmin dan Bu Sarah sebagai tuan rumah, Agus Sarid, juga Lidong. Mohon maaf jika ada penyebutan nama yang salah.

Berikut videonya:








26 Oktober 2017

Ngopi Yuk (Bagian 2)


Melanjutkan tulisan sebelumnya Ngopi Yuk tahun 2009 yang lalu, mari kita bahas lebih lanjut tentang kopi.

Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah penghasil kopi terbesar no.3 di dunia setelah Brazil & Ethiopia. Dan biji kopi dari Indonesia, baik jenis robusta maupun arabica sangat terkenal kualitasnya di luar negeri.

Namun biji berkualitas tinggi itu (speacialty) kebanyakan diekspor ke luar negeri. Dan banyak orang Indonesia sendiri yang minum kopi berkualitas rendah, yaitu kopi instan dan kopi sachet. Bahkan beberapa perusahaan kopi sachetan/instan hanya menambahkan perisa kopi dan bahan asing lain seperti tepung jagung, lalu membungkusnya dan menjualnya dengan harga murah.

Begini faktanya.

Harga normal biji kopi robusta berkualitas baik, dan sudah disangrai, dijual di Indonesia berkisar seharga Rp 45.000 per 250 gram. Coba bandingkan dengan harga kopi instan yang per bungkusnya (250 gram) adalah antara Rp 8000-Rp10,000. 

Harga biji kopi robusta yang belum disangrai (greenbean) adalah Rp 50,000. Jadi untuk mendapatkan 250 gram biji kopi yang belum diolah adalah Rp 12,500. Harga tersebut belum termasuk packaging, pemasaran, biaya sangrai, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin dijual seharga Rp 12,500 per 250 gram.

Perusahaan-perusahaan kopi sachet pun mengakalinya dengan cara menggunakan biji berkualitas rendah atau bahkan menggunakan biji yang tidak lolos sortir ekspor untuk menekan biaya produksinya.

Jadi apapun merknya, kopi instan seharga seribu dan dua ribu rupiah dipastikan berasal dari biji kopi berkualitas rendah, yang sebenarnya bisa membahayakan kesehatan. 

Kandungan kafein dalam kopi instan adalah kafein buatan. Jika dikonsumsi berlebihan, hormon dopamin pada tubuh akan meningkat, yang pada akhirnya mengganggu kesehatan jantung. Beberapa gangguan kesehatan lain juga bisa muncul karena kandungan kafein di dalam tubuh yang terlalu tinggi. Efek samping dari minum kopi instan setiap hari salah satunya adalah meningkatnya kadar kolesterol jahat. Hal ini disebabkan oleh krimer yang terkandung di dalam kopi instan. Kandungan krimer membuat kolesterol tubuh susah dicerna, sehingga membuat kandungan kolesterol menumpuk dan semakin tinggi.Juga, kandungan krimer nabati dalam segelas kopi tidak dapat dicerna dengan sempurna oleh tubuh, sehingga membahayakan kesehatan dalam jangka panjang. Jika dikonsumsi setiap hari bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah.
Terus ada lagi brand kopi yang bernama Kopi Luwak. Ini bisa menyesatkan karena kopi luwak sebenarnya adalah kopi yang termahal di dunia, karena melalui pengolahan yang rumit melibatkan fermentasi dalam perut luwak, sejenis musang. Coba tonton film The Bucket List yang dibintangi Jack Nicholson dan Morgan Freeman.

"Kopi Luwak" dengan white coffee dan varian lainnya sebenarnya adalah kopi dengan kualitas rendah seperti yang saya sebut di atas, dengan embel-embel kata luwak mungkin diharapkan orang-orang akan tertipu dan menyangka itu adalah kopi luwak beneran. Tapi sebenarnya adalah kopi cap luwak. Saya beberapa kali berkesempatan minum kopi luwak di coffee shop di Kuta Bali dengan harga Rp 125,000/cangkir kecil. Beberapa kali juga pernah mendapatkan sampel kopi luwak yang nikmat tersebut saat agrowisata di daerah Gianyar dan Kintamani di Bali dan juga di Jogjakarta.
Di pasar luar negeri, harga kopi luwak mencapai US$675 per kilogram. Dan belum termasuk biaya distribusi, packaging, marketing dan lain-lain.

Menurut saya, lebih baik kita membeli biji kopi yang banyak dijual di supermarket, yang biasanya dijual dengan kemasan yang kedap udara, lalu menggilingnya sendiri di rumah dengan mesin kopi (baik yang manual maupun yang elektrik) dan menikmatinya. Kopi demikian lebih segar, menyehatkan, dan dapat menjauhkan kita dari berbagai macam penyakit.

Oke, selanjutnya, kopi apa yang enak, kopi apa yang bagus, arabica kah, robusta kah? Bagaimana dengan kopi jenis lain seperti liberica dan excelsea? Apa bedanya? Untuk kali ini kita hanya membahas dua jenis kopi yang memang dibudidayakan di Indonesia, yaitu arabica dan robusta.



Dari segi rasa, kopi arabica memiliki banyak variasi rasa yang mana beragam. Rasa dari kopi tersebut dapat lembut, manis, tajam, dan juga kuat. Anda dapat mengetahui bahwa sebelum disangrai, aroma dari kopi ini amat mirip dengan blueberry. Akan tetapi, setelah disangrai, kopi tersebut akan memiliki aroma buah-buahan manis. 

Sedangkan untuk rasa dari kopi Robusta, ini cenderung memiliki variasi rasa yang netral. Sebelum disangrai, biji kopi ini memiliki aroma kacang-kacangan. Yang disayangkan, amat jarang untuk menemukan robusta berkualitas tinggi dipasaran sana. 

Biji kopi Arabica lebih besar dan cenderung berbentuk lonjong, sedangkan biji kopi Robusta berbentuk lebih bulat. Kopi Arabika (Coffea arabica) tumbuh di daerah dengan ketinggian 700-1.700 mdpl dengan suhu 16-20°C. Sedangkan kopi Robusta bisa tumbuh dan hidup di daerah dengan ketinggian 400-700 mdpl dengan temperatur 21-24°C. Kopi Arabica memiliki aroma wangi mirip aroma percampuran bunga dan buah, sedangkan Kopi Robusta memiliki aroma manis yang khas. Kopi Arabica dikenal dengan jenis kopi yang bercita rasa asam yang tidak dimiliki oleh kopi Robusta. Arabica juga memiliki tekstur yang halus, sehingga lebih kental di mulut. Kopi Arabica juga lebih pahit dibanding kopi Robusta. Kopi Robusta memiliki tekstur yang sedikit lebih kasar di lidah, dan rasanya lebih manis seperti cokelat. Biji kopi Arabica memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan biji kopi Robusta. Kadar kafein pada kopi Arabica sebesar 1,2%, sedangkan kadar kafein pada biji kopi Robusta sebesar 2,2%.



Jenis-jenis kopi Arabica yang populer di Indonesia adalah kopi Gayo, Toraja, Wamena, beberapa kopi Bali dan Flores, serta yang sekarang banyak bermunculan adalah kopi-kopi Arabica dari dataran tinggi di Pulau Jawa, seperti di Jawa Barat dan Banyuwangi di daerah Gunung Raung.

Beberapa daerah yang terkenal dengan kopi Robustanya di Indonesia antara lain Lampung, juga beberapa wilayah penghasil kopi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Faktanya, harga biji kopi Arabica lebih tinggi bila dibandingkan dengan kopi Robusta.

Dan untuk saya pribadi, dua-duanya oke. Ada saat-saat tertentu saya ingin menikmati fine coffee, saya pilih arabica. Ada saatnya saya mementingkan aroma, maka saya pilih robusta. 

Kopinya hitam tentu saja, tanpa krim ataupun susu, biar kulit saya tetap terjaga kehitamannya. 
Srupuuut.

Artikel terkait:

11 Oktober 2017

Melawan Arus


Pada saat menyelam, cari paling efisien adalah tidak melawan arus, dengan cara ini menyelam jadi lebih menyenangkan, pemakaian tabung udara jadi lebih hemat dan efisien, tenaga tidak banyak terkuras, dan tujuan utama menyelam untuk rekreasi bawah laut juga tersalurkan.
Demikian juga teknologi. Segalanya sekarang serba online. Di Jakarta Pasaraya tutup, Glodok mulai sepi pengunjung, karena trend sudah berubah, makin banyak orang yang belanja secara online. Tidak perlu terjebak macet, tidak menghabiskan bahan bakar dan bisa sambil tiduran belanjanya.
Transportasi (berbasis aplikasi) online, mau tidak mau sudah menjadi trend dan kebutuhan. Orang bisa berpindah tempat dari titik A ke titik B dengan lebih gampang dan dengan tarif yang terjangkau. Pesan makan bisa lewat GoFood, kirim barang dalam radius 20-40 km bisa lewat GoSend. Trend nya memang begituw, dan ini terjadi di seluruh dunia dengan Uber dan Grab, dan GoJek untuk domestik. Perubahan arus yang memang sesuai dengan perkembangan teknologi dan memang sudah jamannya.
Sudah banyak contoh menyedihkan bahwa pihak-pihak yang tetap mengandalkan sistem konvensional dan tidak mau ikut arus dan berinovasi akan terpuruk dengan sendirinya. Di dunia komunikasi ada brand N dari Finland, di dunia traveling ada juga masih ada travel agent konvensional yang menjual voucher. Siapa yang masih mau repot beli voucher di counter kalo hotel bisa dibook lewat online travel agent melalui aplikasi mobile dengan cepat, murah dan aman?
Untuk daerah yang menolak transportasi online seperti Batam dan Bandung, selamat dan kagum buat pemerintah daerahnya. Ada beberapa sebab yang mencurigakan, antara lain Dishub nya lemah atas tekanan bos2 angkot yang suka ngebut dan taxi yang tak pernah tertib dan bikin semrawut lalu lintas ituw. Mereka tidak merperhatikan kebutuhan masyarakat akan transportasi yang murah, aman dan efisien. Selagi kepala daerahnya tidak bisa menyediakan transportasi yang terjangkau, aman dan tertib, pelarangan transportasi online adalah hal yang absurd, kontra produktif, dan bisa dicurigai dalah hasil kongkalingkong antara Dishub dengan pengusaha angkot.
Intinya pemerintah kota Batam tidak memiliki wibawa, dan tunduk dibawah tekanan organisasi transportasi konvensional, dan lebih berpihak kepada organisasi tersebut daripada berpihak kepada masyarakat. Setelah gagal menertibkan taxi-taxi tanpa argo yang menetapkan tarif seenaknya dan setinggi langit, pemerintah kota Batam juga gagal menertibkan angkot-angkot yang berhenti dan parkir sampai separuh jalan dan sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan di jalan raya tersebut. (Saya sendiri mengalami kecelakaan akhir tahun 2013 gara-gara angkot yang berhenti mendadak di tengah jalan).
Dan taxi serta angkot-angkot yang tidak mampu untuk menjadi kompettitif dan mengikuti arus perubahan ini, mereka menjadi kasar dan suka ngamuk, bersikap anarkis, pada lupa bahwa rejeki ituw sudah ada yang mengatur. Dan harus ingat, masyarakat lebih suka naik transportasi yang tarifnya jelas, aman dan efisien. Bukan taxi tanpa argo yang tarifnya tidak jelas, atau angkot yang sopirnya entah punya SIM atau tidak.
Bluebird sendiri menyikapi perubahan arus ini dengan bijak, mereka berinovasi dengan menciptakan aplikasi online mereka sendiri.yang bisa diunduh untuk perangkat iOS maupun Android.
Biarkan masyarakat yang memilih moda transportasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri, jangan melawan arus perubahan.
Batam sudah mulai kelelep karena pemerintah daerahnya tidak bisa menjaga iklim investasi, banyak pungli terhadap investor, dan akhirnya investor kapitalis memindahkan modal dan pabriknya ke negara lain, seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, termasuk ke negara komunis seperti Vietnam dan China, kita bisa melihat adanya ironi pada fakta ini.
Dengan pelarangan transportasi online ini, Batam bisa jadi akan semakin suram, pengangguran yang sudah berkali lipat bertambah lagi berpuluh kali lipat, dan takutnya angka kriminalitas akan semakin bertambah, investor lain tidak akan mau masuk, dan lingkaran setan kemunduran ini tidak akan pernah putus.
Pemerintah daerah yang melawan arus, daerahnya akan kelelep sendiri.