Merujuk pada sistem kalender Maya yang rentang periodenya sangat panjang, maka kiamat global akan terjadi pada 21 Desember 2012. Dengan asumsi demikian, mestinya pemerintah negara-negara sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi even yang akan terjadi 3 tahun yang akan datang tersebut. Pemerintah Amerika mendirikan lembaga yang bernama Institute for Human Continuity, yang akan membangun semacam kapal raksasa untuk menyelamatkan sebagian penduduk bumi, mirip dengan kisah Nabi Nuh. Tidak semua orang bisa diselamatkan, maka sebuah website diluncurkan untuk melaksanakan sistem undian, persis seperti lotere green card yang banyak terdapat di internet.
Salah satu dari penyebab bencananya adalah letusan kaldera supervolcano yang terdapat di Yellowstone. Hal ini pernah terjadi sekitar 70ribu tahun yang lalu, di mana letusan supervolcano yang dahsyat terjadi di lokasi danau Toba sekarang, menyebabkan semacam bencana global yang membinasakan sebagian besar umat manusia. Letusan supervolcano di Yellowstone menyebabkan tsunami yang menenggelamkan pegunungan Himalaya.
Inilah plot terbaru dari sutradara Rolland Emmerich, si master of disaster yang pernah menelurkan film-film kolosal seperti Independence Day, Godzilla, dan The Day After Tomorrow. Film ini akan dirilis secara global bulan depan, yakni pada tanggal 13 Nopember 2009. Jajaran pemainnya antara lain John Cussack, sebagai penulis buku fiksi ilmiah yang kerja sambilan sebagai supir limusin. Juga ada Danny Glover sebagai presiden, dan Woody Harrelson sebagai Charlie Frost, yang meramalkan akhir dunia dan dianggap gila oleh banyak orang.
Mirip dengan kampanye film The Dark Knight, Sony merilis website-website viral untuk memasarkan film ini, antara lain www.thisistheend.com , www.instituteforhumancontinuity.org , www.farewellatlantis.com , www.corruptiontheory.com dan www.newsdoneright.com .
Film ini diproduksi oleh kelompok Sony Pictures dan akan dirilis melalui Columbia Pictures, biaya produksinya berbujet 200 juta dolar. Dengan bujet raksasa begitu, bisa dibayangkan betapa akan kolosalnya adegan-adagen yang ada.
Tentu saja dengan adanya CGI (computer generated image), adegan apa sih yang tidak bisa dibuat? Mudah-mudahn film ini tidak hanya menyajikan spesial efek yang fantastis, tapi juga plot dan akting yang kuat. Jadi Rolland Emmerich tidak hanya akan dicap sebagai sutradara penjual bencana.
Aku ini milik Tuhan dan
Mengabdi kepada kehendak Tuhan
Segala yang lebih aku kembalikan kepada Tuhan
Melewati alam kehidupan
Aku setia kepada hati nuraniku
Aku setia kepada jalannya alam
Aku hidup dengan memandang
nilai-nilai kebudayaan
(Janji/prasetya di Bengkel Teater)
Beberapa waktu yang lalu, wartawan sekaligus pemusik Deded Er Moerad mengajak almarhum om Abdul Azis Abdus (ayah dari Abdulrahman dan Abdulrahim) untuk menemui Rusli Zainal yang waktu itu menjabat sebagai bupati Tembilahan. Tujuannya adalah untuk menyampaikan rencana mengundang Rendra ke Tembilahan. Meski awalnya ragu, Rusli Zainal memberi lampu hijau termasuk untuk membiayai transportasi dan uang saku selama si Burung Merak berada di Tembilahan.
Dikisahkan, waktu itu banyak yang skeptis dengan rencana tersebut. Apa mau sang Burung Merak yang biasa tinggal di 'langit' datang ke Tembilahan, sebuah kota di susut timur Sumatra yang bahkan namanya saja sering tidak muncul di peta.
Rendra pun datang. Beliau menginap di rumah makcik Ramlah, ibunda Deded R Moerad. Makcik Ramlah ini terkenal dengan masakannya yang enak, juga kue-kue atau wadai buatannya. Hal inilah, salah satu diantara banyak hal yang membuat Rendra betah di Tembilahan. Apalagi makcik Ramlah sering memasakkan udang galah, udang besar yang sering membuat udang-udang lain mengalah.
Pada kesempatan inilah saya sempat bertemu dengan beliau. Waktu itu saya sedang pulang kampung, serta merta saya diajak ayah saya yang juga seniman lokal untuk berhandai taulan dengan sang penyair besar ini. Saya senang. Sejak kecil saya membaca dan menonton Rendra. Ayah saya memiliki koleksi naskah Rendra di antara naskah-naskah seniman lain. Saya juga mengikuti ulasan mengenai pementasan Bengkel Teater yang waktu itu sering muncul di Tempo, Jakarta Jakarta dan Matra. Majalah Tempo pernah menulis feature dengan judul Rendra: Penyair 1 Milyar. Dulu saya baca Bengkel Teater sempat dicekal rejim Soeharto dan pernah mati suri. Ada film beliau yang saya tonton waktu kecil, judulnya Al Kautsar. Padahal diberitakan waktu film itu dibuat Rendra masih mualaf. Dia baru saja masuk Islam.
Jika tanpa prakarsa Deded R Moerad dan om Abdul Azis, belum tentu saya bisa ketemu om Willy, begitu panggilan akrabnya. Di Tembilahan, Rendra didaulat membaca puisi, berdiskusi dengan seniman setempat, berkunjung ke desa-desa, mengamati tanah gambut, melihat dengan mata kepalanya sendiri kehidupan petani dan nelayan Indragiri.
Tiga tahun yang lalu ketika saya pulang kampung, ayah saya memberikan buku berjudul Kepak Sayap Si Burung Merak. Buku itu merupakan biografi Rendra yang diterbitkan di Riau dan ditulis oleh Deded R. Moerad. Empat malam yang lalu karena tidak bisa tidur, saya membaca ulang buku itu dan sempat membayangkan kisah-kisah percintaan Rendra, suka duka Bengkel Teater, dan beberapa kisah-kisah lucu dan konyol yang terjadi sepanjang hidupnya. Sebelum sampai Bagian Lima yang mengisahkan tentang Percintaan Dengan Tuhan, saya jatuh tertidur.
Kemarin saya mendapat kabar bahwa sang Burung Merak telah mengepakkan sayapnya menuju bintang gemintang, ke suatu tempat yang lebih tinggi dari dunia fana.
Selamat jalan om Willy.
(Read more at www.ferdiansyah.com)
Rekan saya sedang tergila-gila dengan jambul. Ia mengklaim bahwa jambulnya menimbulkan rasa percaya diri yang besar. Jambulnya memang lumayan keren, tidak terlalu signifikan seperti jambul Jimmy Neutron, tidak lepek seperti jambul Superman yang selalu 'dikondisikan' berbentuk huruf S itu, tidak mirip dengan jambul Jusuf Kalla (memang beliau tidak punya jambul kok, atau mungkin pernah punya, tapi sudah dialokasikan untuk kumisnya yang tidak seberapa itu). Jambul rekan saya ini lebih mirip punya Elvis Presley, dan memang sangat cocok dengan bagian dahinya yang lebar.
Demikianlah, rekan saya itu menjadi sedikit narsis. Hari-harinya dimulai dengan menata jambulnya, dan beberapa jam perhari dihabiskan untuk mematut-matut jambulnya di depan cermin. Sering ia bergumam, 'siapa sih cowok keren di dalam cermin itu'? Para gadis mulai melirik padanya. Ia makin percaya diri di hadapan manusia lain. Dia pun bersyukur. Sebagai tanda syukurnya, ia mulai sholat lagi, selama ini sholatnya tambal sulam, kadang ingat kadang tidak, tapi lebih banyak lupa daripada ingat.
Masalah timbul. Ia malas memakai peci. Peci membuat jambulnya tertekan, dan jambulnya jadi kelihatan pendek dan tidak mencolok. Jadi ia sholat tanpa memakai peci. Sewaktu ruku, jambulnya jatuh lurus ke bawah dan mengganggu konsentrasi, maka iapun mengangkat tangannya dan menepis jambulnya ke samping. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap ia ruku. Karena jambulnya jatuh melulu, banyak gerakan tubuh yang dilakukannya yang tidak terdapat dalam rukun sholat mazhab manapun. Gerakan-gerakan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah.
Sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan 'jambul'. Jambul itu bisa berbentuk siaran langsung sepakbola di tengah azan maghrib, bisa juga berupa kerjaan yang menumpuk yang membuat kita lupa beribadah. Facebook dan Yahoo! Messenger bisa menjadi jambul. Film Transformer 2 di cineplex yang waktu tayangnya jam 6 sore juga bisa bertransformasi menjadi jambul.Hal-hal duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan, itulah jambul itu. Sebenarnya yang salah bukan jambulnya, manusianya lah yang salah. Harus ada semacam manajemen jambul, hingga jambul bisa diatur agar jangan sampai menjauhkan diri kita dari ibadah.
Rekan saya sebenarnya bisa saja memanage jambulnya tersebut dengan cara tetap memakai peci. Mungkin kegantengannya berkurang sekian persen, tapi ibadahnya akan lebih sempurna. Dan dalam ibadah, bukanlah manusia yang dihadapi, bukan pula gadis-gadis, bukan si Ria, tapi Allah Sang Maha Pencipta.
(Read more at www.ferdiansyah.com) REPOSTED.
Setelah lama tidak bersua, tiba-tiba saya dapati bang Joni sudah ompong giginya. Tetangga saya yang selalu penuh semangat ini, yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak, baru ketahuan ompongnya setelah menyapa saya dengan senyum lebar. Ada dua celah gelap di situ, senyumnya yang biasanya sumringah ngah ngah tiba-tiba menjadi berubah jengah.
"Eh udah ompong ya Bang?.."
Langsung Bang Joni menutup mulutnya malu-malu. Ia menjelaskan bahwa giginya tanggal dua biji sejak seminggu yang lalu. Dia tidak menyalahkan siapapun, atau apapun, bang Joni menganggap tanggalnya gigi adalah proses alamiah yang akan dialami oleh siapapun seusia dirinya. Maklum, Bang Joni ini umurnya udah masuk 50-an. Walaupun begitu, Bang Joni masih giat mencari nafkah, menghidupi 4 orang anaknya yang masih sekolah dan istrinya yang semata wayang (soalnya Bang Joni bukan pejabat yang suka punya istri 2 mata wayang, atau 3 mata wayang, atau lebih lebih mata wayang).
Dua minggu kemudian, 2 gigi Bang Joni tanggal lagi, ompongnya pun semakin lebar. Tapi Bang Joni kelihatan lebih sehat, lebih gemukan. Sebulan kemudian wajahnya tidak saja semakin cerah, tapi juga kelihatan lebih muda. Nah lo, apa rahasianya?
Rupanya karena ompong, Bang Joni makan lebih hati-hati. Jika sebelumnya dia mengunyah lebih cepat, tentu saja sekarang dia mengunyah lebih lambat. Untuk satu sendok makanan, dia mengunyah pelan-pelan, menggunakan gigi-gigi yang masih tersisa, hingga makanan tersebut lumat. Mat! Makanan yang lumat sempurna tentu saja lebih gampang dicerna usus. Gizinya pun terserap lebih banyak. Bang Joni yang tadinya makan suka terburu-buru karena takut rejekinya kurang, sekarang udah belajar santai melakoni hidup. Wajahnya menjadi cerah dan senyumnya jadi sumringah plus megah walaupun ada celah. Dia juga ngaku kalau porsi makannya berkurang, yang tadinya makan kudu dua piring, sekarang 1 piring cukup. Kalau diakumulasi sebulan, penghematan 2 piring perhari ternyata cukup berasa. Jadi punya uang lebih untuk nambah-nambah tabungan.
Memang, segala sesuatu ada hikmahnya. Reposted.
(Read more at www.ferdiansyah.com)
Mata Hari tewas di hadapan regu tembak di Vincennes, Perancis, di pagi yang suram tanggal 15 Oktober 1917.
Reporter Inggris, Henry Wales, menulis kesaksiannya pada saat Mata Hari dieksekusi:
“...secara simultan suara tembakan berbunyi. Api dan asap kelabu keluar dari masing-masing senapan. Kemudian para prajurit menjatuhkan senjatanya. Mata Hari pun jatuh. Dia tidak mati seperti aktor atau bintang film yang memperagakan kematian pada saat ditembak. Dia tidak mengangkat tangannya dan juga tidak terjengkang ke depan atau ke belakang.
Dia hanya tumbang. Perlahan-lahan, dia berlutut, kepalanya selalu tegak, tanpa ada perubahan ekspresi pada wajahnya. Kemudian dia jatuh ke belakang, terlipat di pinggang, dengan kaki berada di bawah tubuhnya. Dia terbaring diam tak bergerak, dengan wajah menghadap langit...”
Mata Hari, si femme fatale, dihukum mati oleh pihak Perancis dengan tuduhan menjadi mata-mata dan agen ganda bagi pihak Jerman dan Inggris. Nama aslinya adalah Margaretha Geertuida Zelle, warga Belanda. Ia dikenal juga dengan nama sandi agen H-21. Dunia pada saat itu menyaksikan kedahsyatan Perang Dunia pertama. Setiap perang membutuhkan aksi intelijen, dan Mata Hari pun terlibat di dalamnya.
Nama Mata Hari dipakainya sejak ikut suaminya, perwira kolonial Hindia Belanda pemabuk yang bertugas di Jawa dan Sumatera antara tahun 1897 – 1900. Selama di Jawa, dia belajar bahasa dan budaya Jawa, termasuk tari-tariannya. Karena jatuh cinta dengan budaya Indonesia, diapun mengganti namanya dengan Mata Hari dan tidak mau lagi dipanggil Margaretha.
Sejak berpisah dari suaminya, Mata Hari pun kembali ke Eropa dan menghidupi dirinya dengan menjadi penari. Dia menjadi terkenal tidak saja karena tariannya unik, karena mengadopsi tarian Melayu, Jawa dan Timur Tengah, tapi juga karena Mata Hari tidak segan berpakaian minim, sesuatu yang langka di bagian tertentu Eropa pada waktu itu.
Pada saat Perang Dunia pertama, Belanda menjadi pihak yang netral. Karenanya, sebagai warga negara Belanda, Mata Hari leluasa bepergian ke sana ke mari dan menyeberang perbatasan negara-negara Eropa untuk menari. Untuk menghindari medan perang, dia bepergian antara Perancis dan Belanda lewat Spanyol dan Inggris. Selama periode inilah Mata Hari direkrut Jerman dan Inggris untuk menjadi mata-mata, espionage lady. Ada desas-desus bahwa Mata Hari juga bermain untuk pihak Perancis, dan si agen H-21 dihukum mati karena tahu terlalu banyak rahasia-rahasia negara. Akhir hidupnya yang tragis di hadapan regu tembak membuat namanya makin dikenal.
Mata Hari menjadi mata-mata bukanlah karena ia pintar. Ia direkrut semata-mata karena daya tarik sensualitasnya. Manusia sudah belajar banyak tentang wanita dan bagaimana pengaruh wanita terhadap seorang pria. Mata Hari adalah contoh femme fatale, istilah Perancis untuk deadly woman. Femme fatale ada di mana-mana dan di setiap jaman. Dia bisa menyebabkan perang dan juga mencegah perang. Ingatlah ketika hegemoni dan struktur kekuasaan Romawi menjadi simpang siur karena Caesar dan Marcus Anthonius jatuh cinta pada Cleopatra, sang ratu Mesir. Ingatlah tentang Perang Troya (Trojan Wars), ketika Paris melarikan Helen of Troy dan tindakannya menyebabkan perang dahsyat yang memilukan antara Sparta dan Troya. Ingatlah ketika Samson kehilangan kekuatan karena rayuan Delilah. Juga Salome, yang rayuan mautnya bisa memanipulasi Raja Herod untuk membunuh John the Baptist. Ingatlah tentang keruntuhan dinasti Louis di Perancis karena ketamakan Marie Antoinette, yang akhirnya tewas di pancung dengan guilotin.

Dan ingatlah pertumpahan darah yang terjadi di Singosari ketika Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes dan ingin merebutnya dari Tunggul Ametung.
Femme fatale ada di setiap tempat dan di setiap jaman. Dan kisahnya akan selalu berakhir tragis, seperti yang dialami Mata Hari.
Tulisan lainnya: Topeng | Radio 1 | Radio 2 | Saodah
“Bukalah topengmu, anakku.” demikian kata Greedius pada Narcissus. “Tapi Bapa, topeng ini begitu kucintai,” demikian tampik Narcissus.Alkisah, tatkala Narcissus bertemu telaga yang jernih, ia melihat wajah seorang pemuda tampan nan rupawan di permukaan air telaga itu. Wajahnya begitu indah, sehingga Narcissus jatuh cinta pada wajah itu. Ketika ia ke kota dan untuk pertama kalinya bertemu dengan benda yang disebut cermin, lagi-lagi ia melihat wajah rupawan itu. Di cermin itu, wajahnya terlihat lebih rupawan lagi. Dan cintanya pun kian bertambah.Tentu saja, tanpa disadarinya, Narcissus jatuh cinta pada diri sendiri, dan kadar cintanya begitu kuat dan tak terpatahkan, sehingga dewa pun mengirim Greedius untuk menyadarkannya. Greedius yang punya masa lalu sebagai makhluk yang serakah, memilih memakai muslihat untuk mematahkan keyakinan Narcissus.Pada suatu malam kelam berhujan, Greedius menemukan Narcissus duduk termenung di telaga yang kelam.“Oh , Bapa. Tak kulihat lagi wajah rupawan di permukaan telaga ini.”“Bukankah itu wajahmu sendiri, Narcissus.” Kata Greedius.“Bapa, tidak mungkin wajah serupawan itu milikku. Wajah itu begitu indah, begitu bersih, telaga ini menjadi bening karena kehadiran wajah itu.”“Sesungguhnya, Narcissus, kau mengenakan topeng. Yang terlihat di permukaan telaga itu adalah topengmu. Tidak ada wajah manusia yang begitu indah, melainkan topeng.”Greedius pun mengeluarkan cermin yang sudah disiapkannya, dan memberikannya pada Narcissus.“Lihatlah, Narcissus. Ini cermin, dan tugasnya memantulkan kembali citra di depannya. Jika kau melihat ke dalam cermin ini, yang kau lihat adalah dirimu yang sedang memakai topeng.”Tatkala Narcissus melihat ke dalam cermin itu, maka berlinanglah air matanya karena terharu bisa melihat kembali wajah rupawan itu. Narcissuspun berkata:“Oh, Bapa. Lihatlah wajah ini, kesedihan apakah yang menghantuinya sehingga dia menangis?”“Itu topeng, anakku. Kerjanya hanya bisa menangis, dan dia menangis untuk segala hal. Untuk kesedihan, untuk keindahan, untuk kebahagiaan. Bukalah topeng itu.”“Tapi Bapa, kalaulah ini gambaranku, dan aku sedang memakai topeng yang begitu kucintai ini, bagaimana bisa aku melepaskannya.”Greediuspun mengeluarkan cermin kedua. Ia memiliki muslihat untuk mencelakakan Narcissus. Sesungguhnya ia benci melihat orang terlalu mencintai diri sendiri, sehingga tidak dapat mencintai orang lain. Ia berkata pada Narcissus: “Inilah caranya, Narcissus. Kau pukulkan cermin ajaib ini ke wajahmu keras-keras, dan topeng itu akan terlepas, sehingga kau bisa melihat wajah aslimu, yang sebenarnya jauh lebih indah dan rupawan daripada topeng itu.”Dan Narcissuspun menurut. Ia melakukan seperti yang disuruh Greedius. Dihantamkannya cermin itu ke wajahnya sendiri. Tapi kehendak Greedius tidak bisa menaklukkan kehendak dewa. Greedius ingin wajah Narcissus hancur dan terluka, tapi di saat itu, di tengah malam kelam di tepi telaga hitam itu, tiba-tiba petir menyambar cermin yang dipegang Narcissus, dan cermin itu hancur berkeping-keping.Narcissus memang mencintai wajahnya, tapi dia tidak sadar bahwa dirinya lah yang dicintai, Narcissus selalu menganggap itu wajah makhluk lain. Dan para dewa di gunung Olimpuspun menyadarinya. Greedius dipanggil pulang, dihukum untuk menjadi makhluk serakah (greedy) sepanjang hidupnya, yang selalu menginginkan segala hal.Narsisme tidak sama dengan egoisme. Narsisme adalah bentuk salah kaprah dalam mencintai diri sendiri. Keindahan-keindahan dalam narsisme yang terbataslah yang menghidupkan seni di dunia ini. Juga lukisan-lukisan jaman Renaissance, dunia mode dan fashion pada jaman kini, dengan segala aktifitas selebritinya yang hidup dan menghidupkan. Sementara egoisme adalah kesadaran bahwa “aku” adalah orang paling penting di lingkungan”ku”, dan karenanya “aku” harus selalu mendapatkan yang terbaik, dengan mengorbankan orang-orang di sekitar”ku”. Tidak peduli orang lain, yang penting hanyalah tiga hal : “aku”, “aku”, dan “aku”.Dan kemudian, ketika Greedius meninggalkan Narcissus seorang diri di tepi telaga, langitpun berubah terang, kelam menjadi benderang, dan telaga hitam menjadi jernih cemerlang. Sekali lagi, Narcissus melihat ke dalam telaga, dan melihat sosok makhluk rupawan itu. Kali ini Narcissus tak ingin terpisah lagi dengan keindahan yang dilihatnya. Maka iapun terjun ke dalam telaga, dan mengejar bayangannya sendiri hingga ke dasar telaga. Narcissuspun mati.Ia mati demi mengejar keindahan.