Tulisan ini sebagai pengingat bahwa masih ada kasus besar yang sampai
saat ini belum terungkap, yang masih menjadi misteri. Namun fakta terakhir
menunjukkan bahwa kita sudah sangat dekat sekali dengan pengungkapan misteri
tersebut, hanya saja dengan banyaknya perkembangan berita yang lama-lama jadi
tumpang tindih, dan entah karena disengaja atau tidak, kasus ini menjadi
mengendap, hilang dari permukaan, tidak pernah disebut lagi. Hanya orang-orang
tertentu yang masih mengingatnya. Dan banyak orang lupa sampai di mana posisi
terakhir kasusnya.
Peristiwa pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir SH telah membuka mata
setiap orang. Bukan hanya publik Indonesia tetapi juga masyarakat
internasional. Selain karena peristiwa tersebut terkait langsung dengan 3
negara (yaitu Singapura sebagai tempat transit Munir dan diduga sebagai lokasi
terminumnya racun arsenik penyebab kematiannya, Belanda sebagai negara tujuan
dan ditemukannya jasad Munir setelah diturunkan dari Pesawat Garuda Indonesia,
dan Indonesia sendiri sebagai negara kebangsaan Munir dan para pelaku), kasus
ini juga menimpa seorang aktivis HAM yang dikenal dan dimiliki dunia
internasional.
Kasus terbunuhnya Munir tersebut sangat kontroversial dari berbagai segi,
baik segi peristiwanya, para pelakunya, dan terutama proses penegakan hukumnya.
Dari segi peristiwanya, kontroversi yang timbul adalah mengenai penyebab dan
kronologis serta TKP meninggalnya Munir. Dari segi pelakunya, jelas
menimbulkan berbagai spekulasi dan konklusi faktual yang mengherankan banyak
orang. Pertama, meninggalnya Munir disebabkan racun arsenik
yang akhirnya terbukti bahwa pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto
yang notabene adalah pekerja di Garuda Indonesia.
Lantas apa hubungannya dan apa untungnya Polly membunuh Munir? Berarti
kemungkinan ada orang yang terlibat di balik Pollycarpus. Kedua, dari hasil pengembangan pemeriksaan ditemukan bukti bahwa ada hubungan yang intensif antara Pollycarpus dengan
Muchdi Pr. Dengan berbagai bukti pendukung lain yang menunjukkan terjadi
koneksi illegal antara keduanya. Sehingga patut diduga ada keterkaitan antara
meninggalnya (terbunuhnya) Munir dengan hubungan kedua orang tersebut. Ketiga,
dalam perkembangan pemeriksaan kasus Muchdi terungkap kesaksian Ucok (Raden
Muhammad Patwa) yang menyatakan atau mengakui pernah disuruh membunuh Munir oleh
Sentot (agen muda BIN).
Selain itu, berbagai kesaksian lain menunjukkan adanya beberapa subyek
lain yang patut diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Munir.
Yang lebih kontroversial lagi adalah dari segi penegakan hukumnya. Di
mana dalam pemeriksaan Muchdi Pr di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah
mempertontonkan drama persidangan yang sungguh di luar nalar dan
logika yuridis. Banyak kejanggalan dalam proses penyidikan
sampai pada tingkat pemeriksaan di pengadilan.
Berbagai kontroversi tersebut sangatlah penting untuk diketengahkan demi
mencari titik terang dalam mewujudkan keadilan bagi semua orang.
Terutama yang paling penting untuk dikaji adalah segi penegakan hukumnya. Mengingat penegakan hukum atas kasus Munir ini sangatlah kontroversial dan menimbulkan berbagai tanda tanya publik atas perwujudan keadilan di Indonesia.
Bertentangan dengan logika hukum yang selama ini diajarkan di
mana-mana, dan mencederai rasa keadilan bagi seluruh masyarakat, serta mengenyampingkan
beberapa asas hukum universal yang sudah menjadi communis opinio doctorum
bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum (equality
before the law), sehingga tidak membeda-bedakan status sosial dan satus politik
seseorang.
Putusan bebas yang melukai rasa keadilan masyarakat tersebut, adalah
putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 1488/Pid.B/2008/PN.Jkt.Sel pada
tanggal 31 Desember 2008 yang membebaskan terdakwa Muchdi Pr yang didakwa
sebagai “penggerak” dalam pembunuhan berencana almarhum Munir.
Meski putusan bebas merupakan hal yang dibenarkan, tetapi reaksi dari
berbagai kalangan dalam masyarakat patut diapresiasi, terutama karena terdakwa
Muchdi PR sebagai mantan pejabat militer dan Badan Intelijen Negara (BIN),
sehingga wajar jika ada yang menilai hakim tidak menyamakan posisi setiap orang
di depan hukum. Apalagi Muchdi PR
bersama penasihat hukum dan koleganya membentuk opini bahwa seolah-olah putusan
bebas itu memang patut dijatuhkan terhadap Muchdi PR. Bahkan beberapa produk
hukum terkait pemeriksaan Muchdi Pr dalam proses peradilan tersebut
memperlihatkan kejanggalan-kejanggalan yang layak diperdebatkan.
Kasus ini adalah kasus publik, sehingga masyarakat perlu diberi ruang untuk
menilai produk peradilan tersebut, mengingat proses peradilan dengan sistem
acara pidana yang berlaku tidak memungkinkan masyarakat berperan lebih jauh.
Sebagai pengingat, ini adalah posisi terakhir kasus Munir:
Berdasarkan putusan PK MA No. 109/PK/Pid/2007 Tanggal 25 Januari 2008 atas
nama Terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto dan Putusan No. 1849/PID.B/2007/PN.JKT.PST
atas nama Terdakwa Indra Setiawan menunjukkan bahwa kematian Munir adalah
akibat dari sebuah tindak pidana pembunuhan berencana yang penuh konspirasi.
Berdasarkan fakta-fakta selama proses persidangan Pollycarpus dan Indra
Setiawan dapat terlihat adanya keberadaan
aktor intelektual dari
pelaksanaan tindak pidana tersebut. Sebagai langkah awal penanganan kasus
kematian Munir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) Kasus Munir dengan
Keppres Nomor 111 Tahun 2004. Berdasarkan hasil investigasi TPF Kasus Munir,
ditemukan adanya indikasi keberadaan aktor intelektual yang menggerakkan Pollycarpus melalui
hubungan telepon sebanyak 41 kali antara Pollycarpus dan Muchdi PR (Dep uti V
BIN). Hal ini dipertegas dengan rekomendasi TPF agar dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut terhadap beberapa Pejabat BIN yaitu Hendropriyono, Muchdi PR dan
Bambang Irawan.
Hubungan antara Muchdi Pr dengan terpidana Pollycarpus sebagai pelaku pembunuhan
terhadap Munir ini terbukti dalam persidangan Peninjauan Kembali (PK)
Pollycarpus pada tanggal 22 Agustus 2007 yang memperdengarkan rekaman
pembicaraan antara Pollycarpus dan Indra Setiawan yang menyebutkan nama-nama
sandi seperti Asmini untuk menyebut As’ad Said Ali, Bu Avi untuk menyebut
Muchdi PR, Petruk untuk menyebut Abdurrahman Saleh dan lain sebagainya. Keterkaitan Muchdi Pr sebagai aktor
intelektual dalam pembunuhan Munir dapat dibuktikan melalui salah satu alat
bukti keterangan saksi yaitu Saksi Budi Santoso dalam BAP Tanggal 8 Oktober
2007, Budi Santoso menyatakan bahwa status Pollycarpus adalah pegawai PT Garuda
yang menjadi jaringan non organik BIN di
mana Muchdi PR pada saat itu menjabat sebagai Deputi V BIN adalah handler
dari Pollycarpus. Kerjasama antara Pollycarpus dan Muchdi PR dibuktikan
dengan adanya pemberian uang dari Muchdi PR kepada Pollycarpus melalui Budi
Santoso, yang rinciannya adalah sebagai berikut:
• Pemberian uang sejumlah Rp.
10.000. 000,- (sepuluh juta rupiah) pada
tanggal 14 Juni 2004 di ruang kerja Muchdi PR di Kantor BIN;
• Pemberian uang sejumlah Rp.
2.000.000 ,- (dua juta rupiah) sebanyak 2 (dua) kali sebelum peristiwa
dibunuhnya Munir, bahkan Pollycarpus menerima pemberian uang sejumlah Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) pada saat
Pollycarpus diperiksa oleh Penyidik Bareskrim Mabes Polri sehubungan dengan
peristiwa kematian Munir di halaman parkir Carefour Pasar Jum’at, Jakarta
Selatan.
Dalam proses persidangan atas nama terdakwa Indra Setiawan, terdakwa
Indra mengaku bahwa sekitar bulan Oktober - November 2004 meminta kepada
Pollycarpus untuk dapat bertemu dengan M. As’ad Said Ali, Wakil Kepala Badan
Intelijen Negara (WakaBIN). Beberapa hari kemudian, Pollycarpus
memberitahukan mengenai kapan waktu
terdakwa Indra Setiawan dapat bertemu dengan As’ad di kantor BIN. Terdakwa Indra
Setiawan baru mengetahui dan semakin yakin bahwa Pollycarpus adalah orang yang
dipercaya BIN setelah Pollycarpus dapat mempertemukan terdakwa dengan As’ad, di
mana pada saat itu juga ada Muchdi PR.
Berdasarkan temuan-temuan fakta di atas dan setelah melalui proses penyelidikan
dan pemberkasan perkara di tingkat kepolisian dan kejaksaan, tepat pada tanggal
21 Agustus 2008, berkas perkara Muchdi Pr akhirnya disidangkan di PN Jakarta
Selatan. PU mendakwa Muchdi Pr dengan dakwaan yang disusun secara alternatif,
di mana dakwaan pertama adalah melanggar Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1)
ke-2 KUHP (Muchdi diposisikan sebagai membujuk/ menggerakkan) dan dakwaan
alternatif kedua adalah melanggar Pasal 340 KUHP jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1
KUHP (Muchdi diposisikan sebagai turut serta melakukan atau menyuruh
melakukan).
Sebagai pembuktian, PU menghadirkan 14 (empat belas) saksi, 4 (empat)
saksi verbal lisan, 3 (tiga) ahli, dan 2 (dua) saksi dibacakan BAP-nya di depan
persidangan, sedangkan Penasehat Hukum menghadirkan 2 (dua) orang saksi dan 1
(satu) ahli. Selain itu, PU juga mengajukan 17 (tujuh belas) alat bukti surat,
sedangkan Penasehat Hukum hanya mengajukan 2 (dua) alat bukti surat. Di dalam
proses pembuktian yang di depan persidangan, terjadi pencabutan BAP oleh 5 (lima)
orang saksi, yaitu Arifin Rahman dan
Zondhi Anwar (2 orang pegawai TU BIN), Imam Mustafa dan Suradi (Sopir pribadi
Muchdi Pr), dan Kawan.
Setelah menjalani proses persidangan yang cukup lama, yaitu sebanyak
21 kali persidangan, pada tanggal 31 Desember 2008, Majelis Hakim membacakan
Putusan No.1488/Pid.B/2008/PN.Jkt.Sel. Di dalam pertimbangan putusan tersebut,
Majelis Hakim menyatakan bahwa Muchdi PR tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan
kepadanya, baik dakwaan alternatif pertama maupun kedua. Sehingga di dalam amarnya, Hakim menyatakan
bahwa Muchdi PR bebas dari segala dakwaan yang didakwakan terhadap dirinya.
Atas putusan bebas tersebut, Penuntut Umum mengajukan kasasi dan memori kasasi
telah diserahkan kepada MA melalui kepaniteraan PN Jakarta Selatan pada
tanggal 12 Februari 2009.
Kesaksian yang menarik dari persidangan dan hasil penyelidikan dari
kasus tersebut antara lain:
a. Pollycarpus mengatakanke Budi Santoso “Pak, saya mendapat tugas dari pak Muchdi
untuk menghabisi Munir”. Pada tanggal 7
September 2004, setelah kembali dari Singapura, Pollycarpus mengatakan bahwa
“dia telah kembali dan mendapatkan ikan besar” , yang artinya “Munir telah saya habisi dengan racun”.
Selain itu, saksi Budi Santoso juga menerangkan bahwa Pollycarpus adalah
jejaring non organik dibawah handler Muchdi
PR.
b. Bahwa surat No. R-451/VII/2004 tidak bertanggal
Juli 2004 tersebut menyatakan bahwa agar
Pollycarpus dapat dimasukkan sebagai
internal security (pengaman
internal) PT Garuda.
c. Bahwa Surat tersebut ditindaklanjuti dengan
surat tugas dari Dirut PT Garuda No. Garuda/GZ-2270/04 tanggal 11 Agustus 2004 perihal
penugasan Pollycarpus sebagai staf pembantuan di unit corporate security.
d. Bahwa saksi Rohainil Aini menyatakan bahwa pada
tanggal 6 September jadwal terbang Polycarpus adalah ke Peking.
e. Bahwa saksi Suciwati mengatakan bahwa pada
tanggal 4 september 2004 Pollycarpus menelpon nomor Handphone Munir dan
menanyakan jadual keberangkatan Munir ke Belanda. Keterangan saksi tersebut
diperkuat oleh keterangan ahli Rubi Z. Alamsyah melalui bukti Call Data Record (CDR).
f. Bahwa saksi Rohainil Aini mengatakan bahwa
Pollycarpus berangkat dari Jakarta menuju Singapura pada tanggal 6 September
2004 atas dasar surat dari Direktur Garuda Indra Setiawan No. GH/DZ-227/04
tanggal 11 Agustus 2004. Atas dasar surat tersebut, saksi Rohainil Aini membuat
nota perubahan Nomor 219/04 tanggal 6 September 2004 yang ditandatangani dengan
mengatasnamakan Chief pilot 330 kapten
Carmel Sembiring.
Dengan demikian bahwa berdasarkan bukti surat, keterangan saksi Budi
Santoso, saksi Indra Setiawan, saksi Rohainil Aini, saksi Suciwati dan ahli
Ruby Z.Alamsyah yang saling bersesuaian antara satu dengan yang lain, menunjukkan bahwa surat Rekomendasi dari BIN kepada Indra
Setiawan (Dirut PT Garuda) Nomor
R-451/VII/2004 Juli 2004, merupakan sarana penganjuran kepada Pollycarpus untuk
membunuh Munir. Bahwa dari fakta
tersebut di atas juga terbukti bahwa Muchdi
PR telah menyalahgunakan kekuasaannya
sebagai Deputy V BIN, dengan menganjurkan Pollycarpus (sebagai jejaring non
organik BIN) untuk membunuh Munir, yang tidak ada kaitannya dengan tugas dan kewenangan
BIN.
Pembunuh Munir sudah jelas, yaitu Pollycarpus. Tapi Pollycarpus
hanyalah pelaksana, dia tidak memiliki motif untuk membunuh Munir. Pertanyaan
utamanya, siapa yang menyuruh Pollycarpus?
Kasus ini berhenti begitu saja, dan, lama kelamaan, publik pun akan
lupa. Sebagaimana orang melupakan kasus Marsinah, kasus Malari, dan lain-lain.
Generasi yang ada sekarang, mereka mungkin tidak tahu lagi, atau tidak pernah
tahu kasus-kasus tersebut. Saya di sini
mengingatkan, bahwa kita masih menyimpan api dalam sekam.
(Ferdy-Batam, 5 Maret 2013). [Disarikan dari wikileaks dan jurnal KONTRAS]
(Ferdy-Batam, 5 Maret 2013). [Disarikan dari wikileaks dan jurnal KONTRAS]
Diposting pertama kali di www.ferdot.com
Very nice depth ;-)
BalasHapusmy webpage; refurbished designer handbags